Home » » Bambu Runcing vs Meriam

Bambu Runcing vs Meriam

Written By Kammi Polines on Saturday, 27 August 2016 | 8/27/2016 08:40:00 pm

Perang merebut kemerdekaan telah jauh berlalu. Keringat dan darah bahkan nyawa telah banyak menjadi korban. Harga yang begitu berharga untuk sebuah kata ‘merdeka’. Pilu tak dirasa hanya semangat bergelora yang berkuasa di dalam dada. 
  
Semangat yang menguatkan jiwa-jiwa yang haus akan kebebasan. Semangat yang memberi kekuatan, memberi nyawa pada bambu-bambu runcing untuk bertaruh dengan pistol, bedil atau meriam, yang bahkan bisa saja meghancurkan raga mereka dengan sekali tembak. Berkeping-keping. Namun betapa besar semangat juang mereka, hingga semua itu tak pernah dirasa begitu menakutkan, meski bambu runcing, meski hanya sebilah pedang. Namun kita lihat sekarang, kemerdekaan telah ditangan. Tergenggam begitu erat oleh kita, bukan mereka. Bukan pemuda-pemuda dulu yang mendengar rentetan peluru menggema, yang melihat raga-raga sanak saudara berlumur darah. Bukan mereka yang dengan sigap, tanpa rasa takut menghadang penjajah.
Lihatlah kawan, kemerdekaan kitalah yang menggenggam. Seberapa besarkah rasa cintamu pada bumi yang kita pijaki ini, lihatlah ke belakang seberapa besar mereka bertaruh hingga nyawa tak dirasa berharga daripada berpijakmu di sini saat ini. Apakah kamu pernah terpikirkan, betapa mereka tak takut dengan granat yang bisa saja dilempar tepat di atas kepala mereka untuk berjuang dan membiarkanmu saat ini menari, berpijak, berlari di bumi yang kita sebut dengan INDONESIA ini?
Begitulah merekabegitu besar rasa cinta itu kepada negeri ini. Barangkali mereka bodoh, mengapa tak menciptakan senjata sendiri, mengapa tak membuat siasat yang mengalahkan kelicikan para penjajah. Ataukah penjajah yang terlalu cerdas?
Boleh saja mereka tak sepandai anak-anak negeri saat ini, boleh saja mereka memang bodoh. Bahkan mereka bodoh mengapa melawan senapan dengan bambu runcing?
Tapi apa kita bisa mengelak sekarang, merekalah yang memberi kemerdekaan kepada kita. Seolah seperti kita tengah duduk menunggu kemudian mereka dengan berdarah-darah memberikan INDONESIA ke pangkuan kita.
Sungguh harga yang begitu mahal. Masihkah kita pantas berpangku tangan dan bermalas-malasan, menyesalkan segala keterbatasan dibandingkan negara lain untuk bersaing. Padahal dahulu nenek moyang kita tak pernah takut menghadapi meriam, meski yang mereka miliki hanya bambu runcing.
Saat ini senjata bukan lagi alat yang tepat untuk menghancurkan musuh. Terlalu kentara untuk menyatakan perang. Sadarkah kita, kita memang tak sebodoh mereka dahulu. Kita telah jauh pintar. Tantangan kita sekarang adalah apakah kepintaran, dan gelar-gelar hebat itu mampu mengalahkan penjajahan yang tentu saja sudah jauh berbeda dengan dahulu.
Sadarkah kita, pemuda menjadi sasaran paling rawan dalam perang masa kini. Bukan lagi peluru tapi buaian modernitas, narkoba, budaya konsumtif dan pengaruh lain yang dapat merusak, seperti video dewasa dan kekerasan yang diajarkan melalui video atau sarana lainnya. Secara tidak langsung pemuda yang tidak sadar akan hanyut terbawa arus dibawah kendali mereka.
Pemuda adalah generasi penggerak kemajuan bangsa yang berada di garda terdepan. Sebuah negara akan hancur ataupun maju akan ditentukan oleh bagaimana kondisi para pemudanya.
Pemuda yang memiliki semangat yang tinggi untuk memajukan bangsanya bisa jadi dapat membentuk negara yang kuat dan tahan banting di segala aspek. Sedangkan negara yang pemudanya mudah terpengaruh akan mudah diombang ambingkan oleh perkembangan dan perubahan kondisi global yang terus berubah. Seperti halnya benda langit yang bergerak tanpa jalur orbit yang pasti akan mudah bertabrakan satu sama lain. Begitupun pemuda, selayaknya mempunyai jalur orbit tertentu agar rotasi dan revolusinya selalu berirama dengan pergerakan semesta sehingga tidak bertabrakan dan hancur.
Tanah ini rindu semangatmu. Negeri ini haus akan derap langkah saling bersatu. Udara ini telah lama rindu oleh segarnya hembusan nafasmu bukan nafas cerobong-cerobongindustri asing yang semakin lama kian mengotori alam kita.
Lalulah mengapa justru kita sendiri yang menusuk Ibu pertiwi yang selama ini menimang kita? Lalulah mengapa kita yang perlahan membunuhnya sementara pemuda dahulu memerdekakannya? 
Bangunlah...!!! Angkat bambu runcingmu, meriam-meriam penjajah telah berada di gerbang depan jauh lama sebelum subuh. Kita perlu bersiap, karena jika kita baru terbangun saat dhuhur, bisa kau bayangkan apa yang telah mereka perbuat untuk rumah kita ini. INDONESIA!
Wallahua’lam bishawab 

by : zahranisa
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger