Home » » Fiqih dakwah

Fiqih dakwah

Written By Redaksi KAMMI on Sunday, 31 May 2015 | 5/31/2015 06:21:00 pm


Madrasah KAMMI 1

pada hari Jumat, 29 Mei 2015 KAMMI MIPA Undip melakukan kegiatan rutin Madrasah KAMMI tingkat 1 di taman rumah kita. pada kesempatan ini MK1 KAMMI MIPA Undip di isi oleh Ustadz Adi Darmawan,beliau adalah salah satu dosen di fakultas FSM Undip. Madrasah KAMMI 1 Mipa berlangsung khidmad dan penuh antusiasme kader. berikut adalah ulasan materi yang disampaikan ustad Adi Darmawan

Lingkup fiqih dakwah terlalu luas, maka dikerucutkan dahulu menjadi marhalatul dakwah. Produk utama dakwah kita yaitu menghasilkan kader. Dakwah KAMMI bukanlah dakwah tabligh yang hanya menyampaikan saja tanpa adanya ikatan. Dakwah kami adalah dakwah tarbiyah, ibarat sekolah pasti ada kurikulum, ada proses belajar, ada evaluasi dan ada peningkatan kelas. Hingga ujung yang diharapkan  yaitu menjadi orang sholeh dan muslih, yaitu orang yang membawa perbaikan. Ada tiga fase dakwah, yaitu marhalah tabliyah atau penyampaian, marhalah taqwin atau pembentukan dan marhalah tanfiz atau pelaksanaan.Marhalah Tabliyah adalah Jahala ala ma’rifah, yaitu penyampaian dan pengenalan dari tidak tahu menjadi tahu. Mengenalkan dan mengajarkan ilmu Islam kepada semua orang, kepada orang ammahmaupun penentang sekalipun. Selanjutnya adalah mengajarkan ayat Al-quran dan Hadist untuk mendapat hikmah, serta mengenalkan keindahan dan kemuliaan Islam. Jika dilihat dari level mahasiswa, objek dakwah kita sangat luas, masih banyak mahasiswa yang sholatnya saja bolong-bolong atau subuhnya masih sering telat. Setelah jahala ala ma’rifah, selanjutnya adalah ma’rifah ala fikroh. Setelah mengetahui ilmu tentang Islam, maka bagaimana selanjutnya Islam dapat menjadi fikroh atau cara pandang yang memberikan warna pada dirinya. Setiap orang pasti punya fikroh. Maka tugas kita yaitu mendidik seseorang hingga fikrohnya menjadi Islam. Bagaimana Islam dapat mewarnai hati, pemikiran, perasaan dan perilaku seseorang.  Hingga saatnya nanti Islam kita akan diuji, apakah Islam sudah menjadi fikroh atau masih sebatas pemikiran dan hanya sebagai aktualisasi diri. Ibaratnya, orang yang sudah lama berkecimpung dalam dakwah hingga menjadi ketua rohis sekalipun, namun karena himpitan ekonomi, setelah lulus kuliah ia malah bekerja sebagai karyawan pada bank konvensional yang notabene masih terdapat riba. Atau setelah berkecimpung di rohis dan lulus kuliah, kemudian menikah, istrinya tidak mengenakan jilbab. Maka dengan terjadinya hal-hal seperti ini, Islam belumlah menjadi fikroh, namun masih sebatas pengetahuan dan aktualisasi diri saja.Marhalah Taqwin adalah fikroh ilal harokah, yaitu fase pembentukan seorang kader.  Fase pembentukan perlu dilakukan karena setiap ilmu diberikan secara bertahap, dan kemampuan seseorang dalam menanggung beban pun berbeda-beda. Ada orang yang lebih siap menanggung beban daripada orang lain. Di sinilah terjadi proses seleksi dan akan dipilih siapa yang lebih siap. Seharusnya, kader tarbiyah lebih siap menanggung beban daripada yang lain, hal ini karena kader telah mengikuti perjalanan yang panjang. Beban akan meningkat seiring dengan pengalaman. Fase pembentukan ini bertujuan untuk menyiapkan orang-orang yang siap menanggung beban dan amanah. Dalam hal ini, liqo atau halaqoh berperan dalam proses tarbiyah atau pembinaan, penjagaan dan juga untuk mengukur tingkat kesiapan seseorang dalam menanggung beban. Contoh fase pembentukan yaitu ketika acara GOM (Grand Opening Mentoring) banyak yang menghadiri, namun hanya beberapa persennya saja yang masih istiqomah dalam melanjutkan mentoring hingga liqo. Nah, di sinilah terjadi seleksi dan akan terlihat orang-orang yang istiqomah dan lebih siap menanggung beban.

Ketika haji wada’ Rasulullah saw yang dihadiri oleh seratus ribu sahabat rasul, berapa orang yang antum hafal namanya? Berapa gelintir orang yang selanjutnya banyak dikenal di kemudian hari? Kalaupun saat ini kita diminta menyebutkan 20 sahabat rasul, sanggupkah? Nah, segelintir orang yang kita hafal itulah kader-kader dakwah. Kader dakwah tidak perlu banyak, tapi mampu menjadi penggerak dan mampu memberikan warna di lingkungan sekitarnya. Marhalah Tanfiz adalah fase pelaksanaan. Harapannya sudah tak perlu lagi disuruh untuk bergerak, sudah tanggap dan dapat memberikan ide-ide baru nan solutif serta rela berkorban, karena kita ditarbiyah dengan kepahaman dan kesadaran. Siapkah kita berkorban harta bahkan jiwa untuk kepentingan dakwah? Apalagi ketika dihadapkan dengan berbagai kepentingan pribadi. Siapkah kita jika diminta membuka ladang dakwah di Papua misalnya, bahkan tanpa kepastian pekerjaan? Hanya orang-orang yang memiliki bekal keyakinan kuat kepada Allah lah yang mampu melewatinya. Marilah kita berfikir dan mengambil pelajaran dari para sahabat Rasul yang dengan mudahnya digerakkan untuk hijrah. Hijrah dari kenyamanan menuju tanah baru yang penuh ketidakpastian. Atau belajar dari ketaatan Hudzaifah ketika diutus oleh Rasulullah saw untuk pergi ke markas musuh, ibaratnya Hudzaifah telah rela menyerahkan nyawanya ke kandang musuh demi kepentingan strategi perang umat Islam. Atau belajar dari kesigapan kader Ikhwanul Muslimin di Mesir ketika digerakkan untuk menyerang Israel pada tahun 1948. Siapkah kita menjadi kader dakwah terdepan? Siapkah menjadi kader dakwah yang rela memberikan segala potensi yang kita miliki?

setelah materi. ada sesi tanya jawab dan ini adalah catatannya

1. Objek dakwah yang dibentuk adalah orang-orang yang hanif atau lurus. Sedangkan, yang harus dihindari adalah orang yang oportunis, yaitu orang yang tidak berani mengambil resiko, tidak  berani bersikap dan hanya mau di zona amannya saja. Kalau kiranya menguntungkan dia ikut dan jikalau merugikan dia tidak ikut. Tapi pada akhirnya, semua orang berpotensi untuk dibina atau tarbiyah. Bahkan seorang penentang Islam pun bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pembela Islam, contohnya Umar bin Khotob.

2. Bagaimana jika ingin menyebarkan dakwah sedangkan dirinya sendiri masih maksiat? Seseorang tidak bisa mencuci dengan air kotor. Segala sesuatu harus dimulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mau mengajak orang lain solat  sedang diri sendiri saja jarang solat.

3. Bagaimana mengimplementasikan dakwah Rasulullah saw dengan dakwah masa kini ? Dengan segala perubahan yang terjadi, dakwah tidak harus sama persis dengan zaman Rasul, namun berusaha mendekati.  Dakwah itu yang penting adalah prinsip yang harus dipegang. Jadi, implementasikan prinsip-prinsip dakwah Rasul, yaitu dakwah yang rabbani, dakwah yang mengedepankan Islam sebelum kelompok, dan dakwah Islam yang syumul bukan parsial.

*HusnaMafaza
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger