Home » » Menalar Kuasa Ajal

Menalar Kuasa Ajal

Written By Redaksi KAMMI on Wednesday, 9 July 2014 | 7/09/2014 05:46:00 am

            
Kematian  merupakan kepastian. Kematian berlaku bagi semua makhluk Allah. Yang tua maupun muda, yang kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat jelata, yang pandai maupun yang belum pandai, yang berkulit hitam ataupun yang putih. Semuanya yang bernyawa pasti akan mati. Yang saat ini sedang gagah-gagahnya lambat laun akan rapuh, menua lalu mati. Yang saat ini sedang berbangga-bangga dengan hartanya, kecantikannya, kekuasaanya pun lambat laun akan hilang dimakan usia. Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, jika sudah waktunya, tidak ada yang mampu menunda, tidak ada yang mampu bernegosiasi dengan ajal.
Kematian makhluk atau ajal seseorang tidak ada kaitannya dengan proses, tidak ada kaitannya dengan celotehannya Charles Darwin (1809-1882) Si Pencetus teori evolusi. Bahwa seakan-akan segala hal selalu mengikuti hukum proses. Kematian terlepas dari konstruksi pikiran manusia yang mengimajinasikan kematian seseorang selalu melalui proses---kelahiran, anak-anak, remaja, dewasa, tua, manula, sakit-sakitan, dan wafat---. Memang dalam tumbuh kembangnya makhluk hidup, akal mampu membuka sedikit tabir tentang penciptaan makhluk dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun bukan berarti akal adalah segala-galanya yang mampu menjawab semua hal.
Contoh kecil saja sebagaimana sering kali diberitakan di media massa ada seorang  ibu melahirkan bayi, namun selang beberapa hari sang bayi harus menghembuskan nafas terakhir, bahkan ada yang wafat ketika masih di dalam rahim sang ibu. Di sisi lain ada manusia yang lahir sejak zaman perang kemerdekaan dan hingga saat ini ia masih menikmati hidup. Bagaimana akal menjelaskan tentang kematian atau ajal seseorang?. Di sini lah akal mengalami kebuntuan, dimana memang bukan ranah akal untuk menjawab itu. Kontruksi pikiran yang terbayang bahwa ajal manusia selalu melalui proses terbantahkan. Nalar manusia mengalami kebuntuan. Nampaknya ada benarnya ungkapan sebagian pakar yang membuat analogi  “Timbangan perhiasan (emas) tidaklah cocok digunakan untuk mengukur beratnya gunung”. Bukan timbangannya yang salah, tetapi pada penggunaannya yang tidak tepat.
Rupanya rasionalisme Barat pada abad 15 M telah begitu dalam mengakar di kepala banyak orang di Timur (baca: Islam). Padahal rasionalisme Barat perlu di lihat secara kritis konteksnya. Rasionalisme Barat yang di pelopori Rene Decartes (1596-1650)kalau kita cermati merupakan reaksi euforia yang tanpa disadari justru “menghabisi” keutuhan manusia. Euforia membabi buta ini dampaknya terasa hingga saat ini.
Kematian  atau ajal tidak dapat diprediksi oleh manusia. Seorang dokter yang mengerti hal ini akan selalu optimis dalam memperjuangkan kesembuhan pasiennya, sehingga ia total mendayagunakan seluruh kemampuannya. Beberapa fenomena menunjukkan seorang pasien yang diprediksi tidak akan lama lagi hidup justru sembuh total dari segala penyakit mematikan yang dideritanya.
Inilah salah satu kejutan-kejutan yang Allah tunjukkan kepada manusia yakni kematian. Ada yang berusaha menerimanya dengan lapang dada meski gunungan pertanyaan tetap membayangi nalarnya. Bisikan-bisikan pertanyaan atas kebuntuan nalar ini sejatinya ingin menunjukkan bahwa manusia amat tergantung pada bimbingan Allah. Kematian mahkluk adalah otoritas Allah. Bukan otoritas siapa-siapa, bukan otritas akal. Dan yang harus kita ingat bersama bahwa jiwa kita ada dalam genggaman-Nya dan sedang menunggu giliran saja.
Anton Saputra-Guru Sejarah SMA IT Ihsanul Fikri Magelang
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger