Home » , , » Resensi Buku yang Menjadi Juara 2 dalam Lomba MILAD KE-16 KAMMI

Resensi Buku yang Menjadi Juara 2 dalam Lomba MILAD KE-16 KAMMI

Written By Zakaria Ramadhan on Wednesday, 2 April 2014 | 4/02/2014 11:30:00 am

Oleh : Dhimas Nandista (Komsat MIPA UNDIP

RESENSI
JUDUL                 : DARI GERAKAN KE NEGARA
PENGARANG     : M. Anis Matta
PENERBIT          : Fitrah Rabbani
TAHUN TERBIT : 2006
TEBAL                : 278 hlm, 13,5 cm  x 20,5 cm
Muhammad Anis Matta  lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968  adalah salah satu politikus dari Partai Keadilan Sejahtera. Anis Matta adalah Wakil Ketua DPR-RI periode 2009-2014, namun mengundurkan diri pada 1 Februari 2013 lantaran ditetapkan sebagai presiden PKS oleh Majelis syuro PKS.


Sebelumnya beliau meraih gelar S1 di bidang Syariah Islam dari LIPIA pada tahun 1992. Pada tahun (2001-2006), beliau mengikuti pendidikan di Lemhannas. Beliau juga aktif sebagai seorang sekretaris jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera selama empat periode berturut (1998-2013) dansebagai anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah  (2000- 2005).

Tentu para aktivis dakwah  kampus sudah  tidak asing  lagi dengan nama beliau, dengan karya beliau yang selalu menginspirasi para aktivis dakwah kampus, penulis yang cukup produktif dalam menelurkan karya. Karya-karyanya tersebar dibeberapa media Islam seperti dalam media cetak beliau sudah banyak menuliskan karya-karya seperti; Membentuk Karakter Cara Islam, Mencari Pahlawan Indonesia, DariGerakan ke Negara, Integrasi Politik dan Dakwah, Serial Cinta, Delapan Air Mata Kecemerlangan,Menikmati Demokrasi dan yang terbaru adalah Gelombang Ketiga Indonesia. Dari karya-karya tersebut yang saya resensikan adalah buku yang berjudul “Dari Gerakan ke Negara”.

Secara garis besar buku ini menceritakan tentang membagun sebuah gerakan menjadi negara dan lalu menjadi sebuah peradaban. Seperti di awal buku ini menceritakan hijrah Rasulullah SAW ke Madinah  dimana Rasulullah SAW pertama-pertama  melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis dimanaIslam menjadi jalan hidup individu, dimana Islam  “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”.Sekarang melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah gerakan itu “menegara” dan Madinah adalah wilayahnya.

Dalam buku ini pun diceritakan bagaimana Rasulullah SAW pertama membangun infrastruktur negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial  melalui proses persaudaraan antarkomunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas Quraisy danYastrib menjadi komunitas Muhajirin dan Anshar. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama melalui piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan  negara melalui konsep jihad fisabilillah.
Maka Anis Matta dan dalam bukunya ingin menegaskan bagaimana insitusi negara, dalam konsep Islam,dijadikan sarana untuk menegakkan sebuah peradaban, atau dengan kata lain, negara bukanlah akhir,tapi justru merupakan awal dari sebuah peradaban.
Anis Matta menyebut masalah kita saat ini  kaum muslimin adalah  risalah yang agung ini tidak lagi di bawa oleh manusia – manusia yang besar akal-akal raksasa itu tidak lagi hadir di tengah masyarakat.Justru  ketika kaum muslimin sedang menghadapi tantangan era ilmu pengetahuan dan teknologi para negarawan besar itu tidak lagi hadir di tengah percaturan poltik kita, justru ketika kaum muslimin sedang merangkak dengan susah payah dalam  pergolakkan kemiskinan dan keterbelakangan serta konflik tangan–tangan perkasa para mujahidin  tidak lagi melindungi nyawa kaum muslimin.

Dalam bab lain juga Anis Matta  menceritakan tidak hanya risalah agung yang tidak lagi di bawa oleh orang-orang besar saja namun banyak masalah-masalah fundamental di kaum muslimin saat ini secara gamblang dijelaskan beliau adalah tidak adanya sang arsitek masa kini yang dulu pernah mengoncang peradaban dunia dengan temuan-temuannya itu. Serta akal-akal kaum  muslimin yang tidak sanggup memahami sumber ajarannya sendiri. Ditambah  lagi kegagalan  dakwah parsial  sehingga inilah yang membuat celah pertahanan dalam kaum  muslimin, membuat pihak asing selalu mendikte percaturan politik kita. Sehingga sulit untuk menjalankan syariah islam dalam sebuah negara karena memang ummat tidak  sanggup memahami ajaran mereka sendiri.

Di dalam negeri sendiri Islam di Indonesia menurut Anis Matta berpendapat bahwa gerakan-gerakan pemikiran Islam yang dibangun sebagai kekuatan pro-sekuler didalam basis-basis pertahanan budaya Islam, baik yang dulu bernama gerakan pembaharuan maupun yang reinkarnasinya kini bernama Islam Liberal, tidak pernah sanggup membawa konsep-konsep pemikiran yang orisinil, komprehensif, berlandaskan metodologi yang kokoh dan output empiris yang sukses. Sementara, permasalahan lain dari gerakan sekuler seperti Islam Liberal adalah ketergantungan mereka akan dukungan politik, media dan dana dari Barat.Sehingga ummat di Indonesia mudah tergerus oleh arus demokrasi liberal yang mendewakan nasionalisme.

Namun menurut anis matta proyek sekulerisme juga akan gagal dalam dunia islam dalam hal ini anis matta  menjelaskan dua perspektif aqidah dan rasio. Secara aqidah kegagalan ini hanyalah pembuktian empiris dari janji Allah SWT. Untuk mengabadikan  Islam. Tapi penjelasan  rasionalnya adalah kekuatan sekuler di dunia Islam tidak bersumber dari dunia Islam, tapi dari Barat atau Timur. Rezim-rezim diktator telah menciptakan penderitaan rakyat yang panjang, kegagalan membangun telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap janji-janji modernisasi.

Maka menurut Anis Matta itulah sebabnya, hampir tidak cukup penting merespon ide-ide gerakan ini, di samping karena secara substasial memang kosong. Secara struktural gerakan ini sangat rapuh.

Maka Anis Matta menyimpulkan tiga langkah  dalam bukunya pada kebangkitan peradaban Islam yaitu yang pertama,  kita harus memperbarui afiliasinya kepada islam kembali. Sebab keislaman kaum muslimin saat ini lebih banyak di bentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam. Kedua setelah memperbarui keislaman kaum muslimin dengan memperbaiki pemahamannya kepada Islam, setiap individu muslim harus kita bawa ke dalam komunitas muslim yang besar, dimana ia menjadi bagian  dari masyarakat dan berpartisipasi dalam membangun masyarakat tersebut. Pada tahapan kedua ini, yaitu tahapan partisipasi, manusia   telah melebur  dalam masyarakatnya dan berpartisipasi dalam membangun masyarakat tersebut, maka pada tahapan ketiga, kita perlu menjamin bahwa setiap orang yang berpartisipasi itu benar-benar dapat mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada Islam.

Menurut Anis Matta juga diperlukannya kosolidasi kembali ummat dengan memperkokoh jaringan harus jadi agenda utama. Setiap da’i dan gerakan da’wah sekarang, bahwa setiap muslim individu muslim sekarang saat ini harus memperbarui kembali komitmennya kepada risalah dan jalan hidupnya sebagai muslim.

Di akhir tulisan beliau mengajak semua kaum muda untuk bangkit kembali, pemuda yang telah melopori kebangkitan nasional, pemuda yang telah melopori sumpah pemuda, pemuda yang mengambil andil yang besar dalam kemerdekaan bangsa ini, pemuda yang telah menumbangkan orde lama, pemuda yang telah melengserkan orde baru, masalah dalam bangsa kita, masalah konsistensi dan tidak punya firasat. Mungkin memang harus begini kejadiannya bahwa sejarah menghendaki kita melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Maka, biarlah dengan sedikit memaksakan diri kita berkata kepada mereka: ”Beri kami lebih banyak kesempatan untuk terlibat, dan izinkankan kami menata ulang taman Indonesia, biar kami buat kalian tersenyum sebelum senja tiba. Ajakan ini sekaligus menjadi motivasi yang besar bagi generasi muda kini untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, yang dalam istilahnya untuk ”Menata Ulang Taman Indonesia.” Buku ini secara garis besar memberikan peta konsepbagi generasi muda kini untuk melakukan kiprah, gerakan dan tugas intelektualnya dakam konteks kenegaraan. Jadi, bagi siapapun yang tertarik untuk mendapatkan pencerahan dan pembelajaran tentang bagaimana kita melangkah menata negeri ini, buku ini perlu dibaca. Setidaknya, bisa memberikanpemikiran-pemikiran bagi gerakan untuk perubahan kedepan menuju kondisi ummat yang lebih baik.
FIRMAN ALLAH SWT: ”SESEUNGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MERUBAH KEDAAN SUATU KAUM SAMPAI MEREKA MERUBAH DIRI DIRI SENDIRI” (AR-RAD: 11)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger