Home » » Kampus dan Kesejahteraan

Kampus dan Kesejahteraan

Written By Agus Subkhi Hermawan on Tuesday, 4 March 2014 | 3/04/2014 01:15:00 pm

KAMMISemarang - Jam Menunjukan pukul 7 pagi, tumben sekali pemuda ini bergegas keluar menuju jembatan yang menghubungkan impiannya dengan dunia nyata. Ya, pagi ini memasuki semester baru perkuliahan di UNDIP. Bak anak baru yang selalu rindu untuk menuju kuliah, pemuda ini juga melajukan sepeda motornya dengan perlahan namun pasti sampai dengan selamat ke tempat tujuan.

"UNDIP adalah kampus rakyat." Pernyataan ini yang pernah dilontarkan oleh Ketua BEM KM UNDIP 2013 sahabat Najib. Memang pada dekade awal setelah reformasi, dimana perguruan tinggi dengan fasilitas terbaik mematok harga spp tinggi, tapi UNDIP masih kekeh menerapakan standart rakyat. Sampai akhirnya tahun 2012 Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diterapkan diseluruh perguruan tinggi negeri, hingga berimbas pada mahasiswa angkatan 2013 yang mesti rela jatah hak rakyat harus diambil oleh para borjuis pemilik uang. Mari kita bandingkan, pada era angkatan 2012 kebawah, SPP mahasiswa reguler masih kisaran 1 jutaan. Lebih tepatnya 1.050.000 - 1.200.000. Tapi sekarang realitas berkata lain, tanpa adanya survei yang tepat sasaran rata-rata mahasiswa baru dipatok harga 3 juta - 5 juta. Tentu bisa kita bayangkan input calon mahasiswa apa yang masuk ke UNDIP ?

Mahasiswa masa kini akan berpikir lebih penting memikirkan akademis dibandingkan aspek yang lain. Bagaimana tidak ? semakin lama mereka tidak lulus semakin besar pula dana kompesasi yang harus orang tua mereka bayarkan kepada UNDIP. Imbasnya ? Organisasi semakin miskin peminat. Lalu bagaimana kampus akan melahirkan kembali orang-orang besar ? Orang-orang besar yang memikirkan kepentingan banyak orang daripada sekedar memuaskan nafsu dunia. Orang-orang besar yang rela menangis hanya demi melihat orang lain tersenyum. Orang-orang besar yang menahan tidurnya untuk senantiasa bekerja untuk Indonesia, dan orang-orang besar yang berkata Kita, bukan kami atau kamu sendiri.

Tantangan-tantangan era dunia ketiga ini semakin menuntut sebuah pergerakan mampu mentransformasikan gerakannya. Dimana kecenderungan mahasiswa lebih berekor pada budaya "kebebasan" ala barat, dibanding budaya gotong royong milik negeri sendiri. Menjadi pribadi yang peduli bukan hanya digaung-gaungkan, tapi perlu didukung juga oleh sistem yang ada. Ya, mengasah empati membuat kita sadar saat menjadi orang besar, bahwa kehidupan ini ada banyak orang yang membutuhkan. Menjadi Pribadi Peduli membuat kita sadar bahwa uang yang selama ini didapatkan ternyata didalamnya ada hak mereka yang kelaparan, dan memiliki jiwa kasih sayang akan senantiasa membuat secercah senyuman pada banyak orang dikala dahaga kesedihan melanda. Kawan, Bergerak bukan hanya retorika. (F4)

Baksos Pengobatan Gratis KAMMI Semarang, KAMMI IAIN Walisongo, dan Bulan Sabit Merah.

Baksos, Baksos KAMMI, KRC KAMMI, KAMMI Semarang

Baksos KAMMI, KRC, KAMMI Semarang, Peduli, Empati

Berobat Gratis, Baksos, Berobat, KAMMI, KRC, KAMMI Semarang


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger