Home » » Optimisme Indonesia, Sebuah Retorika Menolak Fakta*)

Optimisme Indonesia, Sebuah Retorika Menolak Fakta*)

Written By Redaksi KAMMI on Tuesday, 22 October 2013 | 10/22/2013 05:03:00 pm

Tulisan ini berawal dari rasa takut dan kekhawatiran saya jika saya benar-benar menjadi orang yang pesimis atas bangsa ini. Juga saya khawatir bahwa ternyata, pesimisme ini bukan hanya terdapat dalam benak saya tetapi juga berjuta benak anak bangsa ini. Dan memang kita disuguhkan dengan semua fakta yang bertolak belakang dengan retorika optimisme itu sendiri. 

BELUM genap satu pekan, saya menikmati salah satu buku. Buku yang paling tidak sejauh ini memiliki semangat optimisme atas anak bangsa. Juga buku yang sampai saat ini memandang subjektivitas kondisi dari sudut yang menggebu, bersemangat, dan menaruh harapan besar atas negara dan bangsa ini masa depan. Adalah buku Indonesia Optimis. Buku banyak mengurai fakta sebuah gerakan optimisme Indonesia yang sedari masa Orde Baru menunjukkan sikap sebaliknya—pesimis. Buku yang dengan tegas menolak pesimisme. Buku yang menunjukkan sikap, keberpihakan, bahkan juga harapan dari seorang Denny Indrayana, juga dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan penyanjungan atas keberpihakan kepada akal sehat dan kebenaran yang ditunjukkan Denny.
            Untuk beberapa saat, dan beberapa hari, setelah membaca buku tersebut tiba-tiba saja saya memiliki harapan dan keyakinan yang sangat besar akan masa depan bangsa ini. Ini bukan hanya sebuah luapan melankolis yang hiperbolis, namun dilihat dari histori panjang bangsa ini membangun, berjuang, dan juga berkembang, memang sepatutnya ada rasa optimisme yang tinggi pada negeri ini. Misalnya saja, dikatakan bahwa Indonesia telah mampu melewati masa-masa paling suram dalam sejarah, dimana demokrasi adalah hal langka, supremasi hukum dimonopoli satu pihak, dan otoritarianisme menjadi legitimasi untuk menjaga keamanan negara. Hingga pada akhirnya, kekuasaan absolut yang oleh Lord Acton dikatakan sebagai power tends to corrupt absolute power tends to corrupt absolutely benar-benar terwujud, dan mengakibatkan bukan hanya krisis ekonomi, tapi juga krisis di hamper seluruh sektor yang dampaknya masih kita rasakan sampai saat ini.

            Tapi, untuk kesekian kalinya, kita selalu menggaungkan optimisme di satu sisi, dan di sisi lain, ada banyak sederet fakta yang justru menolak optimisme tersebut. Bayangkan saja, kita selalu optimis bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa dan negara yang terbebas dari korupsi, tapi di sisi lain, justru angka-angka menunjukkan tingkat korupsi yang makin tinggi dengan penegakan hukum yang makin rendah. Meskipun ada beberapa pihak yang menganggap itu hanyalah angka, bukan realita. Tetapi kita melihat dengan jelas praktik ini masih dan terus akan berlangsung.
            Bahkan, kekhawatiran dan pesimisme saya menjadi-jadi, ketika beberapa hari lalu saat berbincang dengan beberapa kawan yang pernah mengalami langsung bagaimana interaksi dengan pejabat, aparat penegak hukum, dan petinggi elit negara, dengan secara jelas dia berujar: selama satu tahun saya bekerja, belum pernah saya menemukan pejabat dan aparat penegak hukum yang bersih. Dan saya semakin tercengan ketika praktik korupsi, suap-menyuap, sogok-menyogok, dan praktik-praktik picik lainnya justru menjadi hal yang lumrah dan sangat biasa baik dikalangan politisi, pengusaha, maupu elit pemerintah termasuk aparat penegak hukum
            Kawan saya bukanlah satu-satu orang yang mengatakan hal tersebut. Memang praktik kotor di negeri ini sudah mafhum oleh banyak orang, bahkan sampai-sampai ketika ada pemberitaan hakim atau aparat penegak hukum yang tertangkap KPK karena masalah korupsi atau penyuapan, kita berucap: ah, itu mah biasa! Hingga siang tadi, Jumat ini, delapan belas di pertengahan November, seorang pakar bidang hukum berkata alangkah mengkhwatirkannya negeri ini, dan undang-undangpun sudah menjadi alat politik dan sangat mengerikan—sampai-sampai politik menjadi kunci untuk semua hal—dan pada politik there is no everlasting friend but everlasting politic interest.
            Tapi terlepas dari sikap pesimisme—dan saya sangat tidak ingin menjadi seorang yang pesimis atas kondisi bangsa ini—tentulah yang harus dibangun bukanlah sikap optimisme yang dengan rasa sangat percaya dengan mengesampingkan fakta-fakta yang ada. Seharusnya, kita meletakkan diri dalam posisi dimana kita akan selalu menjadi bangsa yang selalu belajar, berkembang, dan terus berjuang, dan akan selalu bangkit dari kejatuhan, akan selalu kuat dari setiap cobaan, dan akan selalu berani untuk menghadapi ketakutan. Semoga pesimisme ini tidak memendam, mengakar, dan mendarah daging. Tapi semoga juga tidak optimisme ini menjadi satu hal yang mengawang-awang dengan retorika langitan yang tak mampu dicapai orang awam.

Yogyakarta. 18 Oktober 2013, 

*) Oleh Ridwan Arifin (Staf Humas KAMMI Semarang 2012-2014)
Sumber Gambar: Mobaavatar.com

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger