Home » » Mengembalikan Posisi Gerakan Kita*)

Mengembalikan Posisi Gerakan Kita*)

Written By Redaksi KAMMI on Friday, 18 October 2013 | 10/18/2013 01:12:00 pm



Memang Selalu Demikian, Hadi[1]        
        
Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi.

1966

KEKECEWAAN. Tidak juga. Sebab negeri ini sudah begitu teramat mengecewakan. Kalau dahulu seorang Ki Hajar Dewantara pernah menulis Als Ik Eens Nederlander Was[2] mungkin sekarang akan berbeda judulnya. Bisa saja ditulis “Andai Aku Bukan Orang Indonesia.” Saya menjadi sangat yakin dengan asumsi tersebut dengan melihat kondisi negara kita saat ini. Bukan hanya soal penjajahan yang telah berubah bentuk dan aktor tetapi menunjukkan motif yang sama, yakni memperbudak, memperalat, memiskinkan dan bahkan menghancurkan bangsa ini. Juga bukan hanya soal pemerintah (negara) yang tidak memiliki supremasi kedaulatan sebagai wakil-wakil rakyat, yang justru menunjukkan sikap berlawanan dengan rakyat. Bahkan ini juga bukan hanya soal angin-angin segar yang mengatakan negara kita kaya bung, sehingga menidurkan semangat anak bangsa yang akhirnya kita membodohi diri kita sendiri atau dengan suka rela menjadikan kita bodoh.
            Selalu saja, di negeri ini, Indonesia, kita dihadapkan pada kabar-kabar kebobrokan pemimpin bangsa, bangkan kebejatan anak-anak bangsa kita. Hampir-hampir tak ada ruang untuk kita melihat negeri ini dari segala potensinya yang luar biasa hebat sebagaimana Tuhan menganugerahkannya sejak dulu. Korupsi yang terus merajalela yang oleh beberapa kalangan dinilai sebagai bentuk budaya, dan memang bisa saja demikian. Sebab kebudayaan adalah sesuatu yang diciptakan, hidup dan tumbuh bersama masyarakat, begitupun dengan korupsi. Hampir-hampir kita sudah menganggap lumrah aktivitas ini.
            Kita (termasuk juga saya) tentunya tidak ingin memposisikan diri sebagai kubu yang pesimis atas negeri dan bangsa ini, meskipun, dimanapun dan kapanpun, akan selalu kita temui keadaan yang oleh Clifford Greertz dikatakan sebagai law without law[3] sebab, ada atau tidaknya aturan hukum di negeri ini (Indonesia) sepertinya tak berpengaruh banyak dalam memperbaiki kehidupan kita. Saya meyakini dan sangat sependapat dengan Taufiq Ismail, dimana dalam puisinya di atas, beliau mengkritik dan secara jelas menyatakan bahwa dalam perjuangan memang selalu melahirkan pengkhianat dan penjilat, juga untuk kita (yang mengahadapi arus bimbang) selalu dihadapkan pada gelombang, dan bahkan kemenangan juga akan melahirkan pahlawan jadi-jadian yang kesiangan.
            Paling tidak, itu cukup menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini dengan seluruh supra dan infrastructure ketatanegaraannya. Kasus Bank Century, Hambalang, Simulator SIM, Suap Impor Daging Sapi, sampai pada Suap di tubuh Mahkamah Konstitusi selalu menambah perbendaharaan kata kita dalam kondisi Indonesia saat ini. Kita pernah mendapatkan istilah cicak versus buaya, juga istilah kriminalisasi, atau apel Malang, atau bagi-bagi kue. Dan pada akhirnya, upaya pemberantasan korupsi dan kasus-kasu tersebut menjadi daerah potensial untuk pahlawan jadi-jadian atau paling tidak pahlawan kesiangan. Character assassinate menjadi motif utama dalam pemberantasan kasus tesebut, mulai tarik ulur kewenangan dan sampai backing penguasa atas beberapa oknum.

Sikap Gerakan Kita
Jelas, sebagai salah satu[4] gerakan, tentunya ada kewajiban yang tegas dimana dan dengan cara apa kita menyikapi seluruh masalah masyarakat dan bangsa saat ini. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Mustafa Muhammad Thahan,[5] dimana keberhasilan gerakan akan sangat tergantung kepada kita sebagai center of movement yang bukan hanya mampu mewariskan sifat-sifat kenabian tapi juga memanifsetasikannya dalam bentuk nyata bukan hanya bagi satu generasi, tapi banyak generasi. Untuk tidak mengatakan beban tanggungjawab sepenuhnya terdapat di pundak kita, penulis mengatakan bahwa kita memiliki tanggungjawab atas masyarakat dan bangsa ini. Kullu zamanin rijaalun, wakullu rijaaul marhalatun, setiap masa ada pemuda, dan setiap pemuda ada marhalah-nya. Dan inilah gerakan kita, kekinian dan kedisinian, tanpa menafikan pesan-pesan sejarah masa lalu tapi tidak terbuai romantisme heroik pejuang lalu. Sehingga, pada dasarnya, gerakan kita memiliki potensi untuk memperbaiki masyarakat dan bangsa ini.
Kita tidak memposisikan diri sebagai tokoh antagonis dari pemerintah, juga tidak protagonis. Gerakan kita memposisikan diri secara tepat dan bijaksana, namun tidak takut dan khawatir mengambil sikap tegas, serta garis jelas antara pemerintah dan rakyat. Bukan hanya diskusi-diskusi yang bersifat retoris saja, tetapi nampaknya kita harus coba memberanikan diri untuk melakukan hal lebih.[6] Maka ada beberapa ide yang seharusnya sudah mampu dilakukan oleh gerakan kita, bukan lagi berpikir masalah dasar pemikiran, yang oleh Rijalul Imam[7] ide-ide ini diturunkan menjadi beberapa hal penting. Pertama, dari gerakan perlawanan ke gerakan kontribusi sosial. Kedua, dari kekuatan moral (moral force) ke perjuangan kepentingan (interesting group). Ketiga, dari politik aksi ke gerakan politik berbasis kompetensi. Keempat, dari gerakan jalanan ke gerakan jaringan strategis. Kelima, dari pribadi agent of change ke pribadi director of change.
Maka diakhir pembicaraan ini, penulis berharap gerakan kita mampu mengambil inisiatif gerakan ditenga-tengah kegamangan gerakan di masyaarakat, yang oleh Sayyid Qutb dipertegas dengan pesan bahwa, sudah semestinya Islam memulai mengambil insiatif gerakan. Karena, Islam bukanlah aliran suatu kaum, dan bukan pula aturan yang berlaku di satua daerah.[8]


*) Ridwan Arifin (Staf Humas KAMMI Semarang 2012-2014)

[1] Salah satu puisi karya Taufiq Ismail,  dalam buku Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng, 1993, Jakarta. Puisi-puisi Taufiq Ismail selalu membekas bukan hanya di hati penulis tetapi juga di setiap bayang imajiner penulis. Seringkali ada kontradiksi yang penulis rasakan dengan (mungkin) apa yang pernah dirasakan oleh Taufiq Ismail melalui puisi-puisinya. Pada puisi yang satu ini, penulis sering membayangkan tokoh Hadi adalah dirinya, dan benar-benar saya merasakan itu.
[2] Tulisan monumental yang pernah dibuat Ki Hajar Dewantara, Seandainya Aku Seorang Belanda, yang berakibat pada pengasihan Ki Hajar Dewantara karena tulisannya dianggap sebagai bentuk penghinaan kepada penjajah Belanda saat itu.
[3] Clifford Geertz mengatakan bahwa so that the stream books and articles with such titles as law without lawyers, law without sanction, law without court, or law without precedent would seem to be appropriately concluded only by one called law without law. Baca Clifford Geertz, Local Knowledge: Further Essays in Interpretative Anthropology, 1983, Basic Books Inc Publisher, New York.
[4] Penulis menuliskan salah satu untuk tidak menganggap bahwa KAMMI adalah satu-satunya gerakan yang menjadi penerus reformasi
[5] Dalam teks aslinya, Mustafa Muhammad Thahan mengatakan bahwa bagaimanapun  istimroriyatud-da'wah (kesinambungan dakwah) amat sangat tergantung pada  keberhasilan guru- guru  yang  mampu  mewariskan  sifat-sifat  kenabian  dari  generasi  ke generasi. Penulis lebih senang menyebut ‘kesinambungan dakwah’ sebagai keberhasilan dan konsistensi gerakan. Baca Mustafa Muhammad Thahan, Risalah Pergerakan Pemuda Islam, 2002, Visi Publishing. Ebook tersedia di perpusatkaan digital KAMMI Daerah Semarang.
[6] Kritik penulis, selama ini (juga terhadap penulis sendiri), kita hanya melakukan diskusi-dikusi, kajian-kajian seputar isu terkini tanpa memikirkan langkah selanjutnya dari pergulatan pemikiran tersebut. Sangat disayangkan, hasil pemikiran yang telah diperdebatkan secara matang hanya menguap begitu saja tanpa adanya realisasi nyata yang kita wujudkan untuk langkah selanjutnya. Maka disinilah penulis ingin membuat titik tekan bahwa seharusnya kita tidak lagi hanya berdiskusisaja, tapi coba merancang pola gerak dari akibat diskusi kita juga menginfentarisir ide-ide tersebut dalam bentuk tulisan yang lebih rapih sehingga bisa dibaca dan dikritisi oleh khalayak umum.
[7] Ide Rijalul Imam pernah disampaikan dalam berbagai buku dan tulisannya, penulis membaca ide tersebut dalam sebuah slide berjudul Manajemen Perubahan Pergerakan KAMMI, sebuah Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan, slide paparan ilmiah Pascasarjana Universitas Indonesia.
[8] Pendapat Sayyid Qutb, dalam buku yang dikarang bersama Imam Hasan Al-Bana dan juga Abu A’la Al-Maududi,, Al-Jihad fi Sabillillah, 1939 H, Al-ittihad al-Islami al-’Alami, terjemahan bahasa Indonesia, Yusuf Maulana (ed), Penggetar Iman di Medan Jihad, 2009, USWAH, Yogyakarta.


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger