Home » » Mahasiswa Otak Sertifikat

Mahasiswa Otak Sertifikat

Written By Redaksi KAMMI on Friday, 18 October 2013 | 10/18/2013 11:52:00 am



MAHASISWA, ketika masyarakat mendengar kata mahasiswa yang terlintas dalam benak mereka hanya satu kata yakni “intelektual”. Kaum intelektual yang mana bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Mahasiswa atau  pemuda yang diharapkan bisa menjadi lidah penyambung rakyat. Mahasiswa memiliki kedudukan paling tinggi di masyarakat. Oleh karena itu peran dan fungsi mahasiswa sangat di perlukan oleh masyarakat. Dengan peran dan fungsi tersebut sudah seharusnya mahasiswa berpikir bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang di sekitarnya. Salah satu peran mahasiswa yaitu sebagai agent of change atau agen perubahan yang mana bisa menyalurkan aspirasi masyarakat terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah agar berubah menjadi lebih baik.
Faktanya sekarang mahasiswa seperti kehilangan perannya. Kalau melihat kembali sejarah yang terjadi pada tahun 1998 ketika masa orde baru berkuasa, sangat kentara sekali mahasiswa lah yang ikut berperan dan berjuang dalam membela rakyat. Melihat kondisi saat ini, mahasiswa seperti kehilangan arah geraknya dalam memberikan kontribusi untuk negeri ini. Berbagai masalah yang hampir tiap hari ada, korupsi diberbagai lini pemerintahan, kebijakan yang merugikan rakyat dan berbagai permasalahan yang ada. Bukankah seharusnya mahasiswa lah yang punya andil dalam menyelesaikan masalah tersebut?  Dimana mahasiswa sekarang?
Saat ini, mahasiswa hanyalah sebuah status bagi mereka yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.  Ada beberapa tipe mahasiswa salah satunya adalah mahasiswa otak sertifkat). Siapa mereka?  Selain kuliah kerjaanya mengikuti seminar, talkshow, bedah buku, sarasehan, dan lain-lain. Semua itu dilakukan demi sebuah sertifikat.
Ironi memang, bukan ilmu atau pengalaman yang diharapkan tapi sertifikat. Ya mereka itulah yang berpredikat Mahasiswa Otak Sertifikat. Doktrin tersebut sangat merajalela di kalangan (mahasiswa terutama mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kampus. Tidak dipungkiri, memang ada kebijakan dari lembaga yang mengharuskan setidaknya mengumpulkan kurang lebih lima puluh poin sebagai salah satu persyaratan dalam pengesahan tugas akhir atau skrips.
Setiap kampus memiliki kebijakan yang berbeda mengenai hal tersebut. Dampaknya mahasiswa hanya disibukkan untuk memburu sertifikat. Hampir semua UKM (baca: Unit Kegiatan Mahasiswa) dan EGM (baca: Elemen Gerakan Mahasiswa) dalam melaksanakan kegiatannya agar peserta sesuai dengan sasaran sudah pasti ada satu kata yang senantiasa menempel  yakni “sertifikat”.
Yang jadi pertanyaan kenapa kebijakan tersebut dibuat? Sampai saat ini penulis belum menemukan Hal tersebut memiliki efek negatif yang mangakibatkan mahasiswa berpikir yang penting dapat sertifikat. Acara semenarik apapun bukan lagi daya tarik, tapi sertifikatlah yang menjadi sebuah magnet bagi mereka. 
Sebuah even tidak menarik dan tidak ada manfaatnya sekalipun bisa menjadi sebuah even yang megah jika dalam memberi fasilitasnya ada sebuah sertifikat. Baikkah hal tersebut? Hanya sebagai pembodohan saja karena hanya mengejar kuantitas tapi kualitasnya tidak ada. Kalau sudah begini, apakah pantas dunia kampus disebut sebagai pencetak pelopor perubahan?
Posisi kita sekarang mahasiswa, ingin menjadi mahasiswa seperti apa, semua ada ditangan masing-masing. Tapi yang pasti, nama lekat “mahasiswa” yang tertera dalam status yang disandang tidak boleh dihiraukan begitu saja. Mahasiswa harus mempunyai visi yang jelas kedepan dan berpandangan visioner agar tidak berjalan seperti air yang mengalir tanpa arah yang jelas. Ingat, mahasiswa bukan pengumpul nilai atau penghafal yang menjadi fenomena saat ini, mahasiswa adalah seorang pembelajar artinya mahasiswa yang mengutamakan kerja keras dalam mendapatkan ilmu dan dimanapun ia berada adalah tempat belajar , serta rasa ingin tahunya yang sangat tinggi akan berbagai hal.
 Ikhlas menekuni pekerjaan menjadi seorang mahasiswa yang bukan pengumpul sertifikat, nilai ataupun penghafal. Silahkan mengikuti berbagai kegiatan yang ada tapi jangan di orientasikan ke sertifikat tapi katakan bahwa mengikutinya karena haus akan ilmu dan sertifikat sebagai bonusnya karena telah ikut berpartisipasi. Ubah mindset dan buktikan ke masyarakat bahwa mahasiswa bisa menjadi social control sebagai penengah dalam mengatasi konflik yang sering timbul dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga citra baik mahasiswa akan kembali melekat.
Bagaimanapun mahasiswa dituntut lebih yang tidak hanya peduli dengan dirinya sendiri tapi juga siap berperan dalam membantu permasalahan bangsa. Menjadi mahasiwa memang tidak mudah. Kampus notabene adalah sebuah tempat untuk memperluas penanaman nilai dan idealisme, sebuah kampus diharapkan dapat memproduksi generasi “pelurus” bangsa yang berkualitas. Kampus adalah medan dimana kita bebas memilih ideologi, bebas mengeluarkan pendapat, mengasah critical thinking sebagai mahasiswa.
Semua itu adalah pilihan. Pilihan apakah kita ingin mewarnai kehidupan kampus dengan segala macam potensi yang membuahkan prestasi, ataupun menjadi mahasiswa yang biasa saja yang memiliki ideologinya tersendiri “study oriented”. Pilihan untuk mendapatkan IP rusak atau memukau. Pilihan untuk mengembangkan diri atau menjatuhkan diri ke lubang “buaya”.  Pilihan untuk sukses pun ada di tangan kita. Kita yang berhak atas masa depan kita.
Oleh Ika Setiawati, ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Salatiga.

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger