Home » » Lagu Cublak-Cublak Suweng: Sebuah Ajaran Anti Korupsi Masyarakat Jawa

Lagu Cublak-Cublak Suweng: Sebuah Ajaran Anti Korupsi Masyarakat Jawa

Written By anton saputra on Sunday, 6 October 2013 | 10/06/2013 12:02:00 am


Oleh : Aan Setyawan* 

Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundhung gudhel
Pak Empok lerak-lerek,
Sapa ngguyu ndhelikake
Sir-sir pong dhele kopong 3 x

Sastra lisan pada hakekatnya merupakan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Keberadaan sastra lisan sangat dekat dengan kelompok masyarakat yang memilikinya. Hal ini dikarenakan isi sastra lisan seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat tertentu, misalnya berisi gambaran latar sosial, budaya, serta sistem nilai dan kepercayaan. Sastra lisan adalah produk budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti cerita rakyat,  puisi rakyat, dan nyanyian rakyat. Usaha untuk menggali nilai sastra lisan merupakan suatu upaya yang bagus dimana melihat kembali ajaran yang agung dari msayarakat. Hal ini dikarenakan dewasa ini terjadi dekontruksi nilai-nilai budaya masyarakat. Padahal penggalian nilai budaya dalam sastra lisan dalam kebudayaan daerah perlu dilaksanakan karena sastra daerah merupakan sumber yang sangat penting bagi keutuhan budaya nasional kita.



Menurut Setyawan (2011) ternyata ada korelasi positif antara apresiasi terhadap nilai-nilai budaya daerah terhadap penggunaan bahasa Jawa. Setyawan menjelaskan lagi bahwa apresiasi terhadap nilai budaya Jawa semakin menurun pada generasi muda yang berimplikasi menurunya juga pada penggunaan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa ini bisa dalam bentuk penggunaan dalam interaski ataupun dalam bentuk lagu-lagu dan sastra lisan lainya. Beberapa nilai budaya Jawa yang mengalami degradasi oleh generasi muda misalnya adalah:
1.      Masyarakat Jawa adalah Tepo Seliro yaitu didalam berbuat sesuatu kepada orang lain, kita harus mempertimbangkan bagaimana perasaan kita jika perbuatan itu ditujukan kepada diri kita sendiri
2.      Kewajiban kita untuk menunjukan hormat kepada orang lain sesuai dengan derajat masing-masing.
3.      Masyarakat Jawa bersikap andhap-asor yaitu hendaklah selalu bersikap rendah hati.
4.      Masyarakat Jawa bertindak empan-papan yaitu di dalam berperilaku kita mesti memperhatikan tempat, kedudukan atau pangkat kita masing-masing. Setyawan, 2011)
Nilai-nilai tersebut semakin tidak popular dan telah mengalami degradasi dikalangan generasi muda Jawa. Oleh karena itu penggalian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam lagu perlu diungkapkan lagi demi menjaga kelestarian budaya dan bahasa daerah.
            Di bawah ini adalah nilai-nilai ajaran dalam lagu permainan Cublak-cublak suweng,
Cublak adalah tempat berupa serahi yang biasanya untuk menyimpan minyak wangi dan Suweng adalah nama salah satu jenis perhiasan wanita yang biasanya berbentuk bundar pipih seperti uang logam (mirip anting-anting) –di Jawa merupakan harta yang sangat berharga. Lirik pertama lagu ini menggambarkan bahwa terdapat suatu tempat yang menyimpan banyak harta (cublak-cublak) yang sangat berharga (suweng). Dalam permainan ini digunakan kerikil sebagai pengganti atau sebagai gambaran suwengtersebut. Dalam hal ini menggunakan suweng karena biasanya wanita sangat mencintai perhiasan. (di)cublak juga bisa berarti (di)tusuk/ dicubles. Oleh karena itu dalam permainan ini, saat kerikil berputar dari tangan satu ke tangan yang lain seperti menusuk (menekan) di tangan pemain-pemain yang lain secara bergantian memutar.

Suwenge teng gelenter

Suwenge adalah nama jenis perhiasan telinga wanita tersebut. Teng adalah ke arah atau kemana. Gelenter adalah berserakan. Arti keseluruhan dalam lirik kedua ini adalah hartanya berserakan kemana-mana. Hal ini digambarkan dalam permainan dimana anak-anak menyembunyikan batu kerikil (diibaratkan suweng) tersebut dengan beredar dari satu tangan ke tangan yang lain (suwenge teng gelenter)

Mambu ketundhung gudhel

Mambu adalah tercium. Ketundhung berasal dari kata tundhung yang artinya adalah bergerak, mengejar, dan memburu. Gudhel adalah anak kerbau. Arti selengkapnya adalah Tercium yang kemudian diburu oleh anak kerbau. Lirik ke tiga ini menggambarkan adanya sebuah kabar (harta tersebut) yang didengar oleh orang bodoh atau orang yang tidak tahu (digambarkan sebagai Gudhel) dan kemudian ia memburunya. Lirik ini menggunakan gudhel bukan kerbau atau sapi karena gudhelmenggambarkan kebodohan dalam masyarakat Jawa.

Pak Empok lerak-lerek

Pak adalah panggilan untuk bapak; laki-laki dewasa sudah menikah. Empok adalah nama pemain yg telungkup, yang posisinya seperti orang yang kentut (Empok:kentut). Lerak-lerek adalah melirik-lirik (mencarinya). Pak Empok adalah gambaran dari orang-orang bodoh tersebut. Di sini menggunakan kata Pak sebagai gambaran bahwa yang memiliki nafsu mengejar harta adalah orang dewasa bukan anak kecil. Lerak-lerek adalah tengok kanan-kiri. Lirik ini menggambarkan bahwa orang-orang bodoh tersebut tengok  kanan-kiri untuk mencari tahu dimana harta tersebut berada.

Sapa ngguyu ndhelikake

Sapa adalah siapa, ngguyu adalah tertawa. Ndhelikake adalah menyembunyikan yang berasal dari kata dhelik yang artinya adalah sembunyi. Arti dari lirik ini adalah siapa yang menyembunyikan harta tersebut ia tertawa. Hal ini digambarkan dalam permainan bahwa anak-anak yang lain -yang tidak telungkup- pasti tertawa saat anak yang telungkup berusaha menebak siapa yang menyembunyikan batu kerikilnya.

Sir-sir pong dhele kopong,

Sir merupakan pinjaman dari bahasa Arab yaitu sirrun yang artinya adalah hawa nafsu. Pinjaman kata ini dikarenakan pencipta lagu, Sunan Giri, merupakan orang yang paham agama islam dan tetntunya juga dengan bahasa Arab. Pong merupakan penyingkatan dari kata kopong yang artinya kosong. Sedangkan dhele adalah penyingkatan dari kedhele yang artinya adalah kedelai. Dalam masyarakat Jawa kedelai adalah sebagai berbagai bahan makanan seperti tempe dan tahu. Lirik ini menggambarkan tentang rahasia untuk menemukan harta tersebut adalah dengan mengkosongkan hawa nafsu kita (sir-sir pong) dan mengosongkan rasa rakus kita untuk terus mengisi perut (dhele kopong). Suatu petunjuk bagi yang ingin mencari harta maka gunakanlah hati nurani dengan mengosongkan hawa nafsu dan sifat rakus untuk mengisi perut (Sir-sir pong dhele kopong).

Bila ditafsirkan secara garis besar makna dari lagu dan permainan ini adalah sebagai berikut:

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, dalam permainan ini digambarkan dengan seorang anak yang telungkup mencium tanah dan seperti bersujud kepada Tuhan-nya. Namun manusia tetaplah memiliki hasrat dalam mengarungi kehidupan ini. hasrat manusia tersebut adalah hasrat nafsu dalam mengejar harta, tahta dan wanita. Dalam lagu ini manusia tetap memenuhi hasratnya untuk mencari harta yang banyak (cublak-cublak suweng).
Harta tersebut terdapat dimana-mana (suwenge teng gelenter). Timbul pertanyaan adalah jika ada satu tempat yang menyimpan banyak harta, namun harta tersebut terdapat dimana-mana, berserakan dimana-mana? Maka tempat apakah itu. Sesunggguhnya dalam lagu ini sedang menunjukan bahwa harta yang banyak tersebut terdapat banyak sekali disekeliling kita. Hanya kita saja yang tidak tahu jika hal tersebut adalah harta.

           Akan tetapi kabar adanya tempat yang menyimpan banyak harta tersebut tercium  oleh orang bodoh juga.  Sehingga orang yang bodoh tersebut memburu harta tersebut (mambu kethudung gudhel). Hal ini menggambarkan bahwa orang bodoh tanpa mencari tahu benar atau tidak suatu berita sehingga mudah untuk membenarkanya berita tersebut. Di sini dijelaskan bahwa konsep bodoh oleh orang Jawa adalah seseorang yang hanya membenarkan kabar berita yang beredar dan tidak memfikirkan benar atau salahnya berita tersebut.

       Hingga ada sekelompok orang yang sudah menemukan harta tersebut dan menyembunyikan hartanya tersebut mereka senyum-senyum (mesam-mesem). Di sini penulis menggunakan kata ndhelikake yang artinya adalah menyembunyikan, yang memiliki maksud bahwa orang yang senyum-senyum tersebut menemukanya dengan cara yang tidak baik. Jika dikorelasikan dengan kondisi sekarang ini maka dikaitkan dengan orang-orang yang menyembunyikan harta negara (koruptor) yang tetap tersenyum mesam-mesem di depan kamera televisi (sapa ngguyu ndhelikake) walaupun sudah menjadi terdakwa koruptor.

          Maka cara yang terbaik untuk menemukan harta tersebut maka kosongkan hawa nafsu dan kosongkan sifat rakus demi mengisi perut (Sir—sir pong dhele kopong). Di sini penulis lagu sekaligus menjawab pertanyaan tentang jika ada tempat yang menyimpan banyak harta tetapi barta tersebut tercecer di mana-mana, maka tempat apakah itu? ternyata harta yang banyak tersebut adalah berada di hati kita masing-masing. Tempat itu adalah kelapangan hati kita setiap manusia. Jadi bukan harta fisik yang dimaksudkan. Oleh karena itu, orang bodoh yang masih mencari harta dengan rakus dan nafsu ia ditertawai oleh orang-orang yang sudah menemukan harta tersebut terlebih dahulu. Orang-orang yang sudah menemukan harta tersebut sebenarnya tidak nyaman dengan banyaknya harta.

Jika digambarkan melalui tabel dari bentuk, arti, makna, dan nilai budaya dari lagu permainan cublek-cubek suweng maka dapat digambarkan sebagai berikut ini:

Bentuk
Arti
Makna
Nilai Budaya
Cublek-cubek suweng
Banyak anting-anting
Ada suatu tempat yang berisi harta yang sangat berharga
Suweng merupakan harta yang sangat berharga dalam masyarakat Jawa. Perhiasan ini dipakai oleh kaum wanita. Oleh karena itu, harta dan wanita adalah dua hal yang saling berkaitan, dimana pencarian harta biasanya karena wanita yang dicintai. Sebuah pesan bahwa pada hakikatnya manusia selalu menginginkan harta dan wanita.
Suwenge teng gelenter
Anting-antingnya ada dimana-mana
harta tersebut terdapat dimana-mana
Sesungguhnya harta tersebut banyak dimana-mana. Dalam konsep kekayaan di Jawa, kekayaan hati merupakan kekayaan yang paling utama dibanding kekayaan harta (secara fisik). Itulah kenapa hartanya ada dimana-mana (suwenge teng gelenter) karena kekayaan hati bisa didapatkan dimana-mana yang terdapat disekeliling kita.
Mambu ketundhung gudhel
Tercium dan diburu oleh anak kerbau
Saking banyaknya harta tersebut hingga tercium dan diburu oleh orang bodoh
Gudhel adalah simbol orang yang polos dan bodoh dalam masyarakat Jawa. Saking bodohnya jika mendengar informasi maka ia langsung membenarkan informasi tersebut dan melakukanya tanpa menanyakan atau mengklarifikasikan kepada orang yang paham.
Pak Empok lerak-lerek
Pak Empok melirik ke kanan dan ke kiri
Orang bodoh tersebut mencari tahu dimana letak harta tersebut
Orang bodoh biasanya menoleh ke kanan dan ke kiri; menghalalkan semua cara untuk mendapatkan harta yang ia cari.
Sapa ngguyu ndelikake
Siapa yang menyembunyikan ia tertawa
Banyak orang yang sudah tahu harta tersebut tetapi ia hanya tertawa bukan memberi tahu atau membagi kepada Pak Empo
Orang yang sudah mendapatkan harta dengan cara yang “tidak baik” maka ia menyembunyikanya dan hanya tersenyum seakan-akan tidak mengetahui dimana harta tersebut berada dan menertawai orang (bodoh) yang masih mencari harta. Padahal kekayaan harta yang lebih agung adalah kekayaan hati dan jiwa bukan harta secara fisik. Karena orang yg menertawai tersebut sesungguhnya tidak tenang dan tentram hatinya meskipun hartanya banyak. Oleh karena itu, mereka menertawai orang-orang bodoh yang masih rakus dengan harta (sapa ngguyu ndhelikake)
Sir-sir pong dhele kopong
Kosongkan hawa nafsu dan perut
Maka untuk menemukan harta tersebut kosongkanlah hawa nafsu dan sifat rakus untuk selalu mengisi perut
Ajaran untuk menyucikan jiwa dengan mengosongkan hawa nafsu dan menghilangkan sifat rakus demi mengisi perut. Oleh karena itu, dalam masyarakat Jawa pemenuhan harta hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidup tanpa ingin mencari harta sebanyak-banyaknya. Karena bagi mereka kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati dan jiwa.
Tabel 1. Bentuk, arti, fungsi, dan nilai budaya lagu cublek-cubek suweng

Kesimpulan

Ternyata lagu cublek-cublek suweng memiliki falsafah hidup yang luar biasa. Setidaknya ada empat filosofi yang diajarkan dalam lagu cublek-cubek suweng. Filosofi tersebut adalah (1) mengingatkan kepada manusia bahwa manusia berasal dari tanah, (2) pada hakikatnya manusia memiliki hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu nafsu harta dan wanita, dalam lagu ini adalah harta yang dijelaskan, (3) untuk memenuhi harta tersebut maka kita tidak boleh melakukan jalan pintas dengan mengambil atau menyembunyikan milik orang lain, (4) maka cara terbaik untuk menemukan harta adalah dengan mengkosongkan hawa nafsu dan menghilangkan sifat rakus untuk memenuhi nafsu perutnya.

Saran

Betapa pentingnya falsafah yang terkandung dalam lagu ini maka sangat penting sekali untuk direalisasikan dalam dunia pendidikan, misalnya muatan lokal menjadi bagian dari kurikulum di sekolah-sekolah baik swasta maupun pemerintah. Hal ini tentu sangat penting untuk mendidik generasi muda sedini mungkin untuk mengerti nilai-nilai budaya yang sesungguhnya dari budaya Jawa dibandingkan dengan lagu anak-anak dewasa ini yang justru bertema dewasa seperti cinta. Tentu ini adalah sebuah pergeseran yang dapat berimplikasi pada pergeseran nilai-nilai budaya yang terkandung dalam budaya Jawa melalui lagu dan permainan daerah.

Daftar Pustaka

Dananjaya, James. 2002. Folklore Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Duranti, Alessandro. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Endraswara, Suwardi. 2005. Tradisi Lisan Jawa: Warisan Abadi Budaya Leluhur.Yogyakarta: Narasi.

Gunarwan, Asim. 2002b. Persepsi Nilai Budaya Jawa di Kalangan Orang Jawa:Implikasinya pada Penggunaan Bahasa. Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atmajaya: ke-enambelas.

Hymes, Dell. 1964. Language in Culture and Society: A Reader in Linguistics and Anthropology. New York: Harper & Row Publisher

Palmer, Gary B. 1996. Toward a Theory of Cultural Linguistics. Austin : University of Texas Press.

Folley, William A. 2001. Anthropologycal Linguistics; An Introduction. Massachusset: Blackwell publisher.

Krisdiyatmiko. 1999. Dolanan Anak: Refleksi Budaya dan Wahana Tumbuh Kembang Anak. Yogyakarta: Fisipol UGM.

Prawiroatmodjo, S. 1994. Bausastra Jawa-Indonesia; Jilid I & II. Jakarta: Haji Masagung

Setyawan, Aan. 2011. Bahasa Daerah Dalam Perspektif Kebudayaan dan Sosiolinguistik: Peran dan Pengaruhnya dalam pergeseran dan pemertahanan bahasa. Proceedings of International seminar: linguistic master program of Diponegoro University.

Zoetmulder, P.J & S.O. Robson. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia

KETERANGAN:
*) Alumni KAMMI Semarang
Lebih detail Lihat http://himmpas.pasca.ugm.ac.id/print-articles/2013/03/mengenal-masyarakat-jawa-melalui-lagu-permainan.html

Share this post :

+ komentar + 1 komentar

12 Sep 2016, 00:43:00

terima kasih telah diijinkan berkunjung ke web anda. Informasi yang sangat berharga, semoga bermanfaat buat kita semua. lihat link harga Lenovo smartphone y di sini biar ga salah pilih.... karena ada harga dan spesifikasinya juga.
Lenovo Vibe Z K910
Lenovo Vibe X
Lenovo A880
Lenovo K860

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger