Home » » Dialektika Gerakan Sosial (Sebuah Otokritik)*

Dialektika Gerakan Sosial (Sebuah Otokritik)*

Written By Redaksi KAMMI on Friday, 18 October 2013 | 10/18/2013 01:35:00 pm




“Dakwah Islam sebenarnya seruan menuju revolusi sosial, seruang yang sejak awalnya menghendaki pelenyapan total kekuasaan orang-orang yang bersemayam di atas singgasana ketuhanan dan memperbudak manusia.”[1]

ADALAH sebuah keharusan dan kewajiban bukan hanya sebagai manusia tapi juga sebagai seorang muslim memahami bahwa Islam bukan hanya berbicara soal ibadah secara vertikal tetpi juga horizontal. Tentunya, kita sama-sama mafhum kondisi masyarakat sekarang ini dimana terdapat jarak yang sangat mencolok antara Islam dengan ibadah ubudhiyah dan kegiatan aktivitas sosial lainnya. Perbedaan tersebut diperparah dengan pemahaman beberapa kalangan bahwa Islam adalah melulu masalah ibadah, bukan politik, bukan negara, atau bahkan buka aktivitas sosial. Padahal, risalah turunnya Islam yang dibawa oleh Muhammad pertama-tama adalah menyinggung masalah sosial—perbaikan dan penyempurnaan akhlak[2]—yang kala itu menjadi orientasi utama melebihi perintah-perintah lainnya.
            Kecanggungan masyarakat untuk menempatkan ibadah sosial pada posisi yang sama pada ibadah ubudhiyah bisa saja dipengaruhi oleh arus pemikiran modern.[3] Padahal, masa-masa renaissance Islam sangat jauh berbeda dengan barat. Jika abada pencerahan barat diawali atas kritik pedas dan penolakan sebagai bentuk pemberontakan atas dominasi gereja—atas doktrin agama—yang kaku, dimana seluruh bentuk aktivitas masyarakat diatur sesuai dengan koridor agama (gereja) sehingga semua hal yang berseberangan dengan hukum gereja dianggap salah dan secara sadis dihukum di muka publik.[4] Hingga muncul abad pencerahan dimana ajaran agama (gereja) dipisahkan dengan negara, dan hal ini mengakibatkan kemajuan dan beberapa gerakan revolusi. Berbeda dengan munculnya abad pencerahan dalam Islam, yang sedari awal membawa ajaran sosial dan agama yang kedua-duanya tidak dipisahkan dan saling menyatu satu sama lain. Doktrin agama (Islam) mengenai Ibadah selalu diiringi konsep aktivitas sosial. Misalnya perintah mendirikan sholat selalu diiringi sesudahnya perintah membayar zakat. Maka kemunculan yang berbeda tersebut membawa pengaruh yang besar dalam pola kehidupan modern saat ini.
            Ketakutan dan kekhawatiran akan Islam, sebagai agama dan gerakan sosial, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk gerakan pemikiran yang keliru, terus saja menjangkiti masyarakat. Sehingga belakangan kita sering mendengar bahwa Islam tidak berbicara masalah politik, atau urusan negara jangan dibawa ke dalam urusan agama. Padahal, seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa Islam sebagai agama juga sebagai konsep negara ataupun gerakan sosial adalah hal yang satu padu.

Menengok Tafsir al-Maun
Maka celakalah orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberian) bantuan.[5] Tuhan telah menegaskan secara jelas bukan sebagai perintah tapi justru sebagai sebuah peringatan pada manusia, dimana kita (manusia) dianggap sebagai individu-indidivu yang lalai—menganggap remeh suatau hal—atas ibadah yang diwajibkan Tuhan justru bersamaan dengan sikap-sikap asosial, antipati, dan sombong. Maka kewajiban menjalani aktivitas sosial adalah kewajiban bersamaan yang harus digenapai segera setelah seseorang melakukan ibadah-ibadah ubduhiyah.
Sholat disatu sisi sebagai bentuk ibadah imperative dan member bantuan sebagai sesuatu yang facultative di sisi lainnya, justru penafian atas bentuk facultative tadi mengurangi atau bahkan menghilangkan bobot nilai aktivitas imperative. Artinya, dalam pemahaman yang sederhana, penyimpangan atas kegiatan sosial—memberikan bantuan—akan berakibat pada justifikasi atas orang-orang yang celaka dan lalai—meskipun mengerjakan ibadah wajib, sholat—sebagaimana diwajibkan atas setiap muslim.
Tentunya, hal ini berbeda kemudian jika kita melihat histori abad pencerahan yang diawali dengan penafian atas doktrin gereja sebagaimana disinggung sebelumnya. Mereka (orang-orang masa itu) hingga kini beranggapan bahwa semua bentuk aktivitas sosial tidak ada hubungannya dengan aktivitas keagamaan. Berbeda dengan Islam yang justru setiap aktivitas sosial ditempatkan sama bahkan penyempurna amal-amal ibadah.

Kritik untuk Gerakan Kita
            Maka, kita sampai pada pemahaman dimana aktivitas sosial diposisikan bukan hanya sebagai sebuah anjuran, tapi justru kewajiban yang dilekatkan bersamaan dengan perintah wajib seperti sholat.
            Pada konteks gerakan—sebuah ide dasar yang sama-sama kite perjuangkan bersama—adalah seharusnya kita mampu menyelaraskan segala bentuk-bentuk aksi[6] kita pada suatu bentuk yang lebih nyata. Ini akan sangat terlihat ketika bentuk aksi yang kita usung tidak menawarkan sebuah solusi sosial yang konkret untuk masyarakat, hanya sekedar kritik atas kebijakan pemerintah.[7] Maka hemat penulis, misalnya, saat kita mengkritik kebijakan pemerintah atas kenaikan harga BBM yang sudah bisa dipastikan akan naik, saat itu juga seharusnya secara bersamaan kita memikirkan solusi nyata bagi masyarakat untuk menghadapi dampak kenaikan harga BBM tersebut. Bisa dibayangkan kemudian, jika isu kenaikan BBM tersebut diangkat secara nasional dan kemudian gerakan kita secara bersama-sama dan terstruktur juga melakukan usaha-usaha persiapan masyarakat atas dampak kenaikan tersebut, maka bisa dibayangkan dampak nyata yang akan muncul.
            Gerakan kita, seharusnya, secara bersama-sama tidak hanya memegang prinsip dialektika dimana Islam dijadikan sebagai tawaran perjuangan, tetapi juga bagaimana membentuknya dalam bentuk yang lebih nyata. Hal ini bukan berarti penulis menganggap bahwa ide-ide Islam sejauh ini tidaklah nyata, tapi, dalam hal ini seperti yang dikatakan Max Weber[8] bahwa kita harus melakukan reinterpretasi sedemikian rupa sehingga wahyu (perintah agama) sesuai dengan kebutuhan zamannya, tapi dalam hal yang lain bukan berarti kita penafsirkan secara bebas hal-hal yang imperative.
            Oleh karenanya, gerakan kita, sebagai gerakan sosial independen maka gerakan kita seharusnya bukan hanya menyuarakan tapi mengupayakan perubahan-perubahan alternatif yang mengkorelasikan perbaikan masyarakat dengan solusi tawaran yang jelas (tauhid based civilization), juga mengupayakan gerakan-gerakan cultural yang mengakar dan membumi dengan tingkat kesukarelaan dan kesadaran yang tinggi bukan hanya untuk membangun masyarakat tetapi juga mengembang-kannya. Gerakan inilah yang harusnya diciptakan secara bersama-sama bukan hanya gerakan dan ide imajiner tetapi gerakan yang berwujud nyata.
            Pada akhirnya, sebuah gerakan sosial independen yang melepaskan seluruhnya dari ketergantungan hegemoni politik penguasa ataupun pengaruh ekonomi yang membatasi. Maka, hari-hari kita seharusnya disibukkan dengan bentuk-bentuk nyata dari usaha membangun masyarakat, menghadirkan solusi nyata, dan bahkan bersama-sama masyarakat membangun gerakan massa yang massif.

*)Ridwan Arifin (Staf Humas KAMMI Semarang 2012-2014). Kini tengah menempuh studi program pascasarjana pada Magister Ilmu Hukum LL.M Program Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
           


[1] Pendapat Abu A’la Al-Maududi, dalam buku yang dikarang bersama Imam Hasan Al-Bana dan juga Sayyid Qutb, Al-Jihad fi Sabillillah, 1939 H, Al-ittihad al-Islami al-’Alami, terjemahan bahasa Indonesia, Yusuf Maulana (ed), Penggetar Iman di Medan Jihad, 2009, USWAH, Yogyakarta.
[2] Hadits Rasulullah SAW, innamal bu’itsu liutammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus kepada kalian untuk menyempurnakan akhlak, adalah sebuah pemahaman penting bahwa akhlak (hubungan sosial) diposisikan sebagai bentuk/manifestasi utama dari risalah kenabian yang kemudian berturut-turut diukuti perintah kepada ketauhidan. Maka pemisahan antara ibadah ubudhiyah dengan aktivitas sosial adalah pandangan yang keliru.
[3] Penulis beranggapan bahwa pemisahan antara ibadah sosial dan ibadah ubudhiyah sangat dipengaruhi oleh pola pemikiran modern yang memisahkan agama dan negara.
[4] Doktrin gereja terus merambah barat sehingga terjadi penurunan kepercayaan atas geraja, dan hal yang paling sadis adalah pengadilan inkuisi, dimana para orang-orang yang berseberangan dengan gereja di hukum disana. Aristoteles dan Nicolas Copernicus adalah dua diantara banyak ilmuwan yang pendapatnya berseberangan dengan gereja. Mereka berpedapat bumi itu bulat, dan matahari sebagai pusat tata surya, yang jelas-jelas bertentangan dengan gereja dimana doktrin gereja mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Kejadian ini yang kemudian memicu pemberontakan atas doktrin gereja dan munculnya abad renaissance di barat beberapa abad lalu.
[5] QS Al-Maun: 4-7
[6] Aksi disini, dimaksudkan penulis tidak hanya bentuk aksi demonstrasi yang selama ini dan sejauh ini kata ‘aksi’ selalu dimaknai sebagai bentuk-bentuk mimbar bebas jalanan.
[7] Beberapa waktu lalu, penulis saat diajak berkunjung ke Desa Cangkringan Yogyakarta, tempat lokasi hunian tetap pengungsi korban letusan Merapi, salah seorang kawan yang juga merupakan aktivis pada Pusat Studi Gender, mengatakan bahwa selama ini gerakan mahasiswa, seperti KAMMI, tak banyak membuat aksi-aksi nyata, sejauh ini hanya sebatas kritik atas kebijakan. Padahal, menurutnya, masyarakat justru butuh bentuk solusi yang lebih nyata. Penulis tidak menyalahkan sepenuhnya juga tidak membenarkan sepenuhnya, sebab memang seringkali kita (KAMMI) lupa akan solusi yang hendak ditawarkan pada masyarakat, meskipun sudah terdapat beberapa gerakan sosial kemasyarakat, tapi belum dalam skala luas dampaknya.
[8] Max Weber, pernah mengatakan dalam tesisnya bahwa seberapapun tajamnya pengaruh sosial, seberapapun penetapannya secara ekonomis dan politis, hanya mungkin bagi etika keagamaan dalam kasus-kasus tertentu, dan pengaruh sosial tersebut menerima pengasahan utamanya darisumber-sumber agama, dan, yang paling utama, adalah dari kandungan maklumat dan janji yang ada dalam sumber-sumber agama tersebut….maka selanjutnya doktrin-doktrin keagamaan yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan keagamaan dengan mudah akan menjadi sebuah kebiasaan. Lihat Max Weber, Teori Dasar Analisis Kebudayaan,  2013, edisi bahasa Indonesia; Essays from Max Weber, 2002.

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger