Home » » Bukan Berbicara Sebuah Kebenaran Apalagi Keadilan*

Bukan Berbicara Sebuah Kebenaran Apalagi Keadilan*

Written By Redaksi KAMMI on Saturday, 12 October 2013 | 10/12/2013 07:46:00 pm



Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati... (Pramoedya Ananta Toer) 

Adalah sebuah keharusan untuk memegang teguh prinsip, bukan hanya yang diyakini sebagai sebuah kebenaran tetapi juga memang terbukti atau paling tidak menunjukkan kebenaran itu sendiri. Keteguhan prinsip acapkali membawa tantangan bahkan ancaman. Tapi kemudian, keteguhan inilah yang menujukkan dan memberikan kesan, bahkan yang oleh Chairil Anwar diharapkan untuk kehidupan seribu tahun lagi, atau seorang Nicolas Copernicus bahkan Aristoteles yang bisa hidup seribu tahun lagi bahkan lebih, karena mempertahankan prinsip yang dikemudian hari menunjukkan sebuah jalan terang.

Kalau kemudian ada yang berucap, “hanya ada kebenaran relatif dan tidak ada kebenaran sejati, bisa saja kebenaran hari ini adalah sebuah kekeliruan di kemudian hari atau juga sebaliknya,” maka untuk mereka yang mengatakan ini saya menyarankan untuk jauh melihat sebuah arti kebenaran itu sendiri. Benar akan selalu benar bagaimanapun cara meletakkannya, meski ada cerita kebenaran adalah suara terbanyak tapi bukan berarti kebenaran bisa dikesampingkan oleh sesuatu yang tidak benar. Pada konsep lex natura, kita diajak memahami bahwa sejatinya kebenaran telah ada dalam setia tuntutan kehidupan manusia—memegang sebuah prinsip—yang darinya kemudian dipahami sebagai sebuah kebutuhan.
Akan sangat mungkin ketika kita berbicara masalah kebenaran justru kita tidak menemukan kebenaran itu, tetapi bukan berarti setiap individu berhak mengklaim sebuah kebenaran untuk kepentingannya sendiri. Ini mungkin akan terdengar sangat ambigu ketika seseorang berkata bahwa ia memegang prinsip-prinsip kebenaran dan menafikan yang lainnya, dan yang lain pun demikian, mengklaim kebenaran dan menjustifikasi yang lainnya—menggunakan standar yang berbeda.

Potret masyarakat (termasuk kita juga saya) sekarang adalah, sibuk mencari kebenaran untuk menganggap lainnya tidak benar, atau sibuk mencari kebenaran untuk klaim pribadi atau golongan—yang pada akhirnya—melemahkan prinsip-prinsip yang telah diyakini secara umum. Saya kira, dalam semua risalah kenabian dan ajaran agama apapun, bahwa mencuri adalah sesuatu hal yang keliru dan salah. Tapi atas dasar rekam jejaknya, bisa saja kegiatan mencurinya dilandasari atas berbagai hal, misalkan kelaparan, maka bukan berarti kebenaran itu dikesampingkan, tetapi justru hal ini menemukan kebenaran yang baru.

Bahkan, melihat ‘perebutan kebenaran’ yang dilakukan oleh Presiden terhadap Mahkamah Konstitusi, saya mengira (hanya kira-kira) bahwa sikap spontanitas pemerintah untuk mengeluarkan peraturan sakti (Perpu) terkait pengawasan Hakim MK adalah sebuah proses mencari kebenaran untuk klaim pribadi. Hal ini bukan berarti saya mendukung beberapa oknum (saya katakan beberapa, mungkin masih ada lagi yang terlibat) yang menhancurkan institusi yang dinilai relatif bersih. Tetapi dalam hal lain, saya mendukung proses pencarian kebenaran pemerintah untuk membersihkan institusi pemerintah dari orang-orang jahat atau berpotensi berbuat jahat—yang oleh Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai orang yang terbuka segala kejahatan: dijahati atau menjahati.

Oleh karenanya, saya jadi teringat puisi seorang Taufik Ismail, berjudul Dari Catatan Seorang Demonstran (1966), Inilah peperangan, Tanpa jenderal, tanpa senapan. Pada hari-hari yang mendung. Bahkan tanpa harapan. Di sinilah keberanian diuji, Kebenaran dicoba dihancurkan. Pada hari-hari berkabung. Di depan menghadang ribuan lawan. Dan memang ternyata (kita) tengah menghadapi peperangan melawan ketidakadilan, penindasan, dan bahkan ketidakberpihak pada rakyat, dan sering kita memposisikan pemerintah pada pihak lawan, padahal bisa jadi justru kitalah yang membuat lawan imajinasi kita sendiri: yakni kemunafikan.



Kota ini, Yogyakarta.
9 Oktober 2013

*) Ridwan Arifin

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger