Home » » Tentang lambang salib: Dari Real Madrid sampai Palang Merah Indonesia

Tentang lambang salib: Dari Real Madrid sampai Palang Merah Indonesia

Written By anton saputra on Tuesday, 3 September 2013 | 9/03/2013 11:03:00 pm

Beberapa waktu yang lalu, terdengar berita bahwa salah satu klub sepak bola tersukses di dunia asal ibu kota Spanyol, Real Madrid, berencana menghapus lambang salib di logo klub berjuluk El Real tersebut. Terutama untuk yang dijual di kawasan Arab. Selanjutnya keputusan ini diikuti oleh rival terbesar mereka, FC Barcelona yang juga akan mengganti gambar salib di logo mereka di kawasan Arab juga. Kita semua tentu menebak bahwa tujuan utama menghilangkan lambang salib dari logo mereka adalah demi meningkatkan penjualan merchandise kedua klub tersebut di kawasan Arab yang matoritas Muslim. Tetapi, kenapa hal serupa tidak mereka lakukan di Malaysia dan Indonesia yang juga mayoritas Muslim.

Waktu bergulir, akhirnya muncul isu di negeri kita Indonesia tercinta. Bahwa lambang Palang Merah Indonesia juga akan diganti. Isu ini ramai saya pikir bukan karena pergantian lambang PMI, tetapi anggota DPRRI harus study banding ke Turki untuk masalah ini. Tetapi, apakah cuma karena lambang saja saya kira tidak. Saya yakin sekali ada hal-hal lain yang mereka bahas tentang lembaga kemanusiaan ini di Turki sana.

Salib dan Perang Salib

Salib memang identik dengan agama kristen, banyak sumber yang menyatakan lambang ini sudah digunakan jauh sebelum orang kristen menggunakannya. Lambang salib bisa kita temukan pada peninggalan Mesir kuno, bangsa Assyria, Babilonia, Persia kuno bahkan di benua Amerika sebelum kedatangan kristen. Pada awalnya agama kristen tidak menggunakan salib sebagai lambang mereka. Salib disepakati sebagai lambang agama kristen sekitar abad ketujuh. Mengenai masalah ini bisa dibaca lebih lengkap di halaman ini http://un2kmu.wordpress.com/2010/07/05/sejarah-salib-swastika-dan-penggunaannya-dalam-paganisme-dan-kristen/. Yang jelas dalam kepercayaan kristen, peristiwa penyaliban menjadi satu hal yang wajib diimani oleh pemeluknya.

Esposito berpendapat mengenai perang salib

“Perang salib dan kolonialisme eropa menimbulkan dampak yang universal dan membekas dalam imanjinasi kaum muslimin..... Bagi kebanyakan orang di Barat, Perang Salib guna membebaskan Jerusalem adalah masa-masa gemilang semangat relijius dalam rangka membela kristen. Tim-tim olah raga, firma-firma marketing, dan media barat telah lama menggunakan citra tentara salib sebagai simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Sedikit saja orang barat yang tahu atau ingat bahwa alasan Paus Urbanus menyerukan Perang Salib sebenarnya adalah demi alasan politik daripada alasan relijius atau bahwa para tentara salib pada akhirnya malah menjadi pecundang...”[1]

Mengenai asal mula terjadinya perang salib ini Harun Yahya memberikan pendapatnya:

“Betapapun banyaknya yang bersikeras bahwa Perang Salib adalah ekspedisi militer yang dilakukan atas nama iman Kristiani, pada dasarnya keuntungan materilah yang menjadi tujuannya. Pada periode Eropa dilanda kemiskinan dan kesengsaraan yang berat, kemakmuran dan kekayaan bangsa Timur, terutama bangsa Muslim di Timur Tengah, menarik perhatian bangsa Eropa. Walaupun menggunakan wajah agama, dan dihiasi dengan simbol-simbol Kristiani, gagasan Perang Salib sebenarnya lahir dari hasrat akan keuntungan duniawi. Inilah yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dari kebijakan cinta damai sebelumnya di kalangan Kristen Eropa pada periode awal sejarah mereka, kepada agresi militer. 

Pengagas Perang Salib adalah Paus Urban II. Pada tahun 1095, ia menyelenggarakan Konsili Clermont, di mana doktrin Kristen sebelumnya yang cinta damai ditinggalkan. Perang suci diserukan, dengan tujuan untuk merebut tanah suci dari tangan bangsa Muslim. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan konsili, dibentuklah pasukan Pejuang Salib yang amat besar, terdiri dari para tentara, dan puluhan ribu rakyat biasa.

Para ahli sejarah percaya bahwa upaya Urban II didorong oleh keinginannya untuk merintangi pencalonan seorang pesaingnya dalam kepausan. Sedangkan di balik sambutan penuh semangat dari para raja, pangeran, dan bangsawan Eropa atas seruan Paus, tujuan mereka pada dasarnya bersifat keduniaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Donald Queller dari Universitas Illinois, “Ksatria-ksatria Prancis menginginkan lebih banyak tanah. Pedagang-pedagang Italia berharap untuk mengembangkan perdagangan di pelabuhanpelabuhan Timur Tengah.... Sejumlah besar orang miskin bergabung dengan ekspedisi sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan sehari-hari mereka.”[2]

Perang salib terjadi 1096-1270, terjadi secara bergelombang  beruntun selama enam perang besar. Perang yang terjadi hampir dua abad ini menghasilkan dampak yang luar biasa bagi kedua belah pihak. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi, dan politik ketika perang terjadi, perang ini mempengaruhi corak hubungan dunia Islam dan barat.

Kembali ke masalah lambang salib. Bagi orang barat, seperti yang diungkapkan Esposito, bahwa lambang tentara salib merupakan simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Maka dari itu banyak digunakan oleh mereka sebagai simbol-simbol yang membanggakan. Dan bagi orang muslim, simbol tentara salib membawa trauma, terutama muslim kawasan Arab, sebagai akibat dari perang salib. Simbol salib berwarna merah dengan putih sebagi dasarnya membawa trauma tersendiri bagi mereka. Dimana saat itu kaum muslimin sedang dalam masa yang kritis dalam sejarah perjalanannya. Selain menghadapi tentara salib merekapun harus menghalau serangan orang-orang Mongol yang datang untuk memperluas kekuasaan.

Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Alasan diataslah yang nampaknya digunakan oleh negara-negara mayoritas muslim untuk lebih menggunakan bulan sabit dan bukan palang merah untuk lembaga kemusiaannya. Bulan sabit pun aslinya bukan berasal dari Islam, seperti halnya salib, bulan sabit sudah digunaakan oleh kepercayaan pagan. Dan bulan sabit sendiri baru identik dengan Islam saat Turki Utsmani menggunakannya sebagai bendera kesultanan. Lambang ini mungkin begitu membekas karena Turki Utsmani adalah khalifah Islamiyah terakhir, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang menyatukan umat Islam dalam satu raga.
Dan Indonesia adalah satu-satunya negara muslim yang menggunakan palang merah sebagai lambangnya dan bukan menggunakan bulan sabit merah. Umat Islam di Indonesia tidak pernah mengalami perang salib, perang yang dilakukan muslimin Indonesia adalah perang melawan penjajah Belanda. Jadi lambang salib tidak berefek trauma kepada bangsa Indonesia, berbeda dengan muslimin Arab yang pernah mengalami dahsyatnya perang salib. Tapi, mungkin ada alasan lain kenapa lambang PMI harus diganti, atau jangan-jangan isu pergantian ini hanya sebagian kecil dari Undang-undang yang sedang digodok DPRRI.

Sumber tulisan
Buku
Esposito, John L.2003. Unholy War: teror atas nama Islam(terj). Yogyakarta: Ikon Teralitera
Yahya, Harun.tt. Ancaman Global Freemasonry (ebook). kt
web



[1]John L. Esposito, Unholy War (terj), hlm 91
[2]Harun Yahya, Ancaman Global Freemasonry (terj), hal 3-4
Beberapa waktu yang lalu, terdengar berita bahwa salah satu klub sepak bola tersukses di dunia asal ibu kota Spanyol, Real Madrid, berencana menghapus lambang salib di logo klub berjuluk El Real tersebut. Terutama untuk yang dijual di kawasan Arab. Selanjutnya keputusan ini diikuti oleh rival terbesar mereka, FC Barcelona yang juga akan mengganti gambar salib di logo mereka di kawasan Arab juga. Kita semua tentu menebak bahwa tujuan utama menghilangkan lambang salib dari logo mereka adalah demi meningkatkan penjualan merchandise kedua klub tersebut di kawasan Arab yang matoritas Muslim. Tetapi, kenapa hal serupa tidak mereka lakukan di Malaysia dan Indonesia yang juga mayoritas Muslim.

Waktu bergulir, akhirnya muncul isu di negeri kita Indonesia tercinta. Bahwa lambang Palang Merah Indonesia juga akan diganti. Isu ini ramai saya pikir bukan karena pergantian lambang PMI, tetapi anggota DPRRI harus study banding ke Turki untuk masalah ini. Tetapi, apakah cuma karena lambang saja saya kira tidak. Saya yakin sekali ada hal-hal lain yang mereka bahas tentang lembaga kemanusiaan ini di Turki sana.

Salib dan Perang Salib

Salib memang identik dengan agama kristen, banyak sumber yang menyatakan lambang ini sudah digunakan jauh sebelum orang kristen menggunakannya. Lambang salib bisa kita temukan pada peninggalan Mesir kuno, bangsa Assyria, Babilonia, Persia kuno bahkan di benua Amerika sebelum kedatangan kristen. Pada awalnya agama kristen tidak menggunakan salib sebagai lambang mereka. Salib disepakati sebagai lambang agama kristen sekitar abad ketujuh. Mengenai masalah ini bisa dibaca lebih lengkap di halaman ini http://un2kmu.wordpress.com/2010/07/05/sejarah-salib-swastika-dan-penggunaannya-dalam-paganisme-dan-kristen/. Yang jelas dalam kepercayaan kristen, peristiwa penyaliban menjadi satu hal yang wajib diimani oleh pemeluknya.

Esposito berpendapat mengenai perang salib

“Perang salib dan kolonialisme eropa menimbulkan dampak yang universal dan membekas dalam imanjinasi kaum muslimin..... Bagi kebanyakan orang di Barat, Perang Salib guna membebaskan Jerusalem adalah masa-masa gemilang semangat relijius dalam rangka membela kristen. Tim-tim olah raga, firma-firma marketing, dan media barat telah lama menggunakan citra tentara salib sebagai simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Sedikit saja orang barat yang tahu atau ingat bahwa alasan Paus Urbanus menyerukan Perang Salib sebenarnya adalah demi alasan politik daripada alasan relijius atau bahwa para tentara salib pada akhirnya malah menjadi pecundang...”[1]

Mengenai asal mula terjadinya perang salib ini Harun Yahya memberikan pendapatnya:

“Betapapun banyaknya yang bersikeras bahwa Perang Salib adalah ekspedisi militer yang dilakukan atas nama iman Kristiani, pada dasarnya keuntungan materilah yang menjadi tujuannya. Pada periode Eropa dilanda kemiskinan dan kesengsaraan yang berat, kemakmuran dan kekayaan bangsa Timur, terutama bangsa Muslim di Timur Tengah, menarik perhatian bangsa Eropa. Walaupun menggunakan wajah agama, dan dihiasi dengan simbol-simbol Kristiani, gagasan Perang Salib sebenarnya lahir dari hasrat akan keuntungan duniawi. Inilah yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dari kebijakan cinta damai sebelumnya di kalangan Kristen Eropa pada periode awal sejarah mereka, kepada agresi militer. 

Pengagas Perang Salib adalah Paus Urban II. Pada tahun 1095, ia menyelenggarakan Konsili Clermont, di mana doktrin Kristen sebelumnya yang cinta damai ditinggalkan. Perang suci diserukan, dengan tujuan untuk merebut tanah suci dari tangan bangsa Muslim. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan konsili, dibentuklah pasukan Pejuang Salib yang amat besar, terdiri dari para tentara, dan puluhan ribu rakyat biasa.

Para ahli sejarah percaya bahwa upaya Urban II didorong oleh keinginannya untuk merintangi pencalonan seorang pesaingnya dalam kepausan. Sedangkan di balik sambutan penuh semangat dari para raja, pangeran, dan bangsawan Eropa atas seruan Paus, tujuan mereka pada dasarnya bersifat keduniaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Donald Queller dari Universitas Illinois, “Ksatria-ksatria Prancis menginginkan lebih banyak tanah. Pedagang-pedagang Italia berharap untuk mengembangkan perdagangan di pelabuhanpelabuhan Timur Tengah.... Sejumlah besar orang miskin bergabung dengan ekspedisi sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan sehari-hari mereka.”[2]

Perang salib terjadi 1096-1270, terjadi secara bergelombang  beruntun selama enam perang besar. Perang yang terjadi hampir dua abad ini menghasilkan dampak yang luar biasa bagi kedua belah pihak. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi, dan politik ketika perang terjadi, perang ini mempengaruhi corak hubungan dunia Islam dan barat.

Kembali ke masalah lambang salib. Bagi orang barat, seperti yang diungkapkan Esposito, bahwa lambang tentara salib merupakan simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Maka dari itu banyak digunakan oleh mereka sebagai simbol-simbol yang membanggakan. Dan bagi orang muslim, simbol tentara salib membawa trauma, terutama muslim kawasan Arab, sebagai akibat dari perang salib. Simbol salib berwarna merah dengan putih sebagi dasarnya membawa trauma tersendiri bagi mereka. Dimana saat itu kaum muslimin sedang dalam masa yang kritis dalam sejarah perjalanannya. Selain menghadapi tentara salib merekapun harus menghalau serangan orang-orang Mongol yang datang untuk memperluas kekuasaan.

Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Alasan diataslah yang nampaknya digunakan oleh negara-negara mayoritas muslim untuk lebih menggunakan bulan sabit dan bukan palang merah untuk lembaga kemusiaannya. Bulan sabit pun aslinya bukan berasal dari Islam, seperti halnya salib, bulan sabit sudah digunaakan oleh kepercayaan pagan. Dan bulan sabit sendiri baru identik dengan Islam saat Turki Utsmani menggunakannya sebagai bendera kesultanan. Lambang ini mungkin begitu membekas karena Turki Utsmani adalah khalifah Islamiyah terakhir, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang menyatukan umat Islam dalam satu raga.
Dan Indonesia adalah satu-satunya negara muslim yang menggunakan palang merah sebagai lambangnya dan bukan menggunakan bulan sabit merah. Umat Islam di Indonesia tidak pernah mengalami perang salib, perang yang dilakukan muslimin Indonesia adalah perang melawan penjajah Belanda. Jadi lambang salib tidak berefek trauma kepada bangsa Indonesia, berbeda dengan muslimin Arab yang pernah mengalami dahsyatnya perang salib. Tapi, mungkin ada alasan lain kenapa lambang PMI harus diganti, atau jangan-jangan isu pergantian ini hanya sebagian kecil dari Undang-undang yang sedang digodok DPRRI.

Sumber tulisan
Buku
Esposito, John L.2003. Unholy War: teror atas nama Islam(terj). Yogyakarta: Ikon Teralitera
Yahya, Harun.tt. Ancaman Global Freemasonry (ebook). kt
web



[1]John L. Esposito, Unholy War (terj), hlm 91
[2]Harun Yahya, Ancaman Global Freemasonry (terj), hal 3-4
Beberapa waktu yang lalu, terdengar berita bahwa salah satu klub sepak bola tersukses di dunia asal ibu kota Spanyol, Real Madrid, berencana menghapus lambang salib di logo klub berjuluk El Real tersebut. Terutama untuk yang dijual di kawasan Arab. Selanjutnya keputusan ini diikuti oleh rival terbesar mereka, FC Barcelona yang juga akan mengganti gambar salib di logo mereka di kawasan Arab juga. Kita semua tentu menebak bahwa tujuan utama menghilangkan lambang salib dari logo mereka adalah demi meningkatkan penjualan merchandise kedua klub tersebut di kawasan Arab yang matoritas Muslim. Tetapi, kenapa hal serupa tidak mereka lakukan di Malaysia dan Indonesia yang juga mayoritas Muslim.

Waktu bergulir, akhirnya muncul isu di negeri kita Indonesia tercinta. Bahwa lambang Palang Merah Indonesia juga akan diganti. Isu ini ramai saya pikir bukan karena pergantian lambang PMI, tetapi anggota DPRRI harus study banding ke Turki untuk masalah ini. Tetapi, apakah cuma karena lambang saja saya kira tidak. Saya yakin sekali ada hal-hal lain yang mereka bahas tentang lembaga kemanusiaan ini di Turki sana.

Salib dan Perang Salib

Salib memang identik dengan agama kristen, banyak sumber yang menyatakan lambang ini sudah digunakan jauh sebelum orang kristen menggunakannya. Lambang salib bisa kita temukan pada peninggalan Mesir kuno, bangsa Assyria, Babilonia, Persia kuno bahkan di benua Amerika sebelum kedatangan kristen. Pada awalnya agama kristen tidak menggunakan salib sebagai lambang mereka. Salib disepakati sebagai lambang agama kristen sekitar abad ketujuh. Mengenai masalah ini bisa dibaca lebih lengkap di halaman ini http://un2kmu.wordpress.com/2010/07/05/sejarah-salib-swastika-dan-penggunaannya-dalam-paganisme-dan-kristen/. Yang jelas dalam kepercayaan kristen, peristiwa penyaliban menjadi satu hal yang wajib diimani oleh pemeluknya.

Esposito berpendapat mengenai perang salib

“Perang salib dan kolonialisme eropa menimbulkan dampak yang universal dan membekas dalam imanjinasi kaum muslimin..... Bagi kebanyakan orang di Barat, Perang Salib guna membebaskan Jerusalem adalah masa-masa gemilang semangat relijius dalam rangka membela kristen. Tim-tim olah raga, firma-firma marketing, dan media barat telah lama menggunakan citra tentara salib sebagai simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Sedikit saja orang barat yang tahu atau ingat bahwa alasan Paus Urbanus menyerukan Perang Salib sebenarnya adalah demi alasan politik daripada alasan relijius atau bahwa para tentara salib pada akhirnya malah menjadi pecundang...”[1]

Mengenai asal mula terjadinya perang salib ini Harun Yahya memberikan pendapatnya:

“Betapapun banyaknya yang bersikeras bahwa Perang Salib adalah ekspedisi militer yang dilakukan atas nama iman Kristiani, pada dasarnya keuntungan materilah yang menjadi tujuannya. Pada periode Eropa dilanda kemiskinan dan kesengsaraan yang berat, kemakmuran dan kekayaan bangsa Timur, terutama bangsa Muslim di Timur Tengah, menarik perhatian bangsa Eropa. Walaupun menggunakan wajah agama, dan dihiasi dengan simbol-simbol Kristiani, gagasan Perang Salib sebenarnya lahir dari hasrat akan keuntungan duniawi. Inilah yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dari kebijakan cinta damai sebelumnya di kalangan Kristen Eropa pada periode awal sejarah mereka, kepada agresi militer. 

Pengagas Perang Salib adalah Paus Urban II. Pada tahun 1095, ia menyelenggarakan Konsili Clermont, di mana doktrin Kristen sebelumnya yang cinta damai ditinggalkan. Perang suci diserukan, dengan tujuan untuk merebut tanah suci dari tangan bangsa Muslim. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan konsili, dibentuklah pasukan Pejuang Salib yang amat besar, terdiri dari para tentara, dan puluhan ribu rakyat biasa.

Para ahli sejarah percaya bahwa upaya Urban II didorong oleh keinginannya untuk merintangi pencalonan seorang pesaingnya dalam kepausan. Sedangkan di balik sambutan penuh semangat dari para raja, pangeran, dan bangsawan Eropa atas seruan Paus, tujuan mereka pada dasarnya bersifat keduniaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Donald Queller dari Universitas Illinois, “Ksatria-ksatria Prancis menginginkan lebih banyak tanah. Pedagang-pedagang Italia berharap untuk mengembangkan perdagangan di pelabuhanpelabuhan Timur Tengah.... Sejumlah besar orang miskin bergabung dengan ekspedisi sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan sehari-hari mereka.”[2]

Perang salib terjadi 1096-1270, terjadi secara bergelombang  beruntun selama enam perang besar. Perang yang terjadi hampir dua abad ini menghasilkan dampak yang luar biasa bagi kedua belah pihak. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi, dan politik ketika perang terjadi, perang ini mempengaruhi corak hubungan dunia Islam dan barat.

Kembali ke masalah lambang salib. Bagi orang barat, seperti yang diungkapkan Esposito, bahwa lambang tentara salib merupakan simbol-simbol mulia pengorbanan, kehormatan, dan keberanian. Maka dari itu banyak digunakan oleh mereka sebagai simbol-simbol yang membanggakan. Dan bagi orang muslim, simbol tentara salib membawa trauma, terutama muslim kawasan Arab, sebagai akibat dari perang salib. Simbol salib berwarna merah dengan putih sebagi dasarnya membawa trauma tersendiri bagi mereka. Dimana saat itu kaum muslimin sedang dalam masa yang kritis dalam sejarah perjalanannya. Selain menghadapi tentara salib merekapun harus menghalau serangan orang-orang Mongol yang datang untuk memperluas kekuasaan.

Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Alasan diataslah yang nampaknya digunakan oleh negara-negara mayoritas muslim untuk lebih menggunakan bulan sabit dan bukan palang merah untuk lembaga kemusiaannya. Bulan sabit pun aslinya bukan berasal dari Islam, seperti halnya salib, bulan sabit sudah digunaakan oleh kepercayaan pagan. Dan bulan sabit sendiri baru identik dengan Islam saat Turki Utsmani menggunakannya sebagai bendera kesultanan. Lambang ini mungkin begitu membekas karena Turki Utsmani adalah khalifah Islamiyah terakhir, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang menyatukan umat Islam dalam satu raga.
Dan Indonesia adalah satu-satunya negara muslim yang menggunakan palang merah sebagai lambangnya dan bukan menggunakan bulan sabit merah. Umat Islam di Indonesia tidak pernah mengalami perang salib, perang yang dilakukan muslimin Indonesia adalah perang melawan penjajah Belanda. Jadi lambang salib tidak berefek trauma kepada bangsa Indonesia, berbeda dengan muslimin Arab yang pernah mengalami dahsyatnya perang salib. Tapi, mungkin ada alasan lain kenapa lambang PMI harus diganti, atau jangan-jangan isu pergantian ini hanya sebagian kecil dari Undang-undang yang sedang digodok DPRRI.

Sumber tulisan
Buku
Esposito, John L.2003. Unholy War: teror atas nama Islam(terj). Yogyakarta: Ikon Teralitera
Yahya, Harun.tt. Ancaman Global Freemasonry (ebook). kt
web



[1]John L. Esposito, Unholy War (terj), hlm 91
[2]Harun Yahya, Ancaman Global Freemasonry (terj), hal 3-4 


oleh : Mahardhika Setyawan (Sekjend KAMMI Daerah Semarang 2012-2014)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger