Home » » Prahara Kepemimpina Anak Manusia

Prahara Kepemimpina Anak Manusia

Written By Agus Subkhi Hermawan on Wednesday, 4 September 2013 | 9/04/2013 11:39:00 am

Dalam sebuah negara, pergantian kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting. Bahkan sering kali menimbulkan gejolak dan konflik. Dan hal itu terjadi di sepanjang masa perjalanan manusia. Tapi, ada yang cukup mengusik saya dalam hal ini. Teringat ketika peristiwa pendirian Kerajaan Singasari. Terjadi pembunuhan kepada seorang penguasa dan digantikan oleh pembunuh penguasa.

Kita ketahui bersama bahwa Ken Arok membunuh Tunggul Ametung lalu mendirikan kerajaan Singosari. Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana dengan kondisi rakyat melihat fenomena tersebut. Apa sama sekali tidak ada gejolak yang terjadi. Atau adakah yang menghalangi rakyat jelata ini untuk tidak ikut campur.

Apa lagi gejolak yang terjadi di Kerajaan Singosari ini memang luar biasa menurut saya. Setelah Ken Arok berhasil mendirikan Kerajaan Singosari, hidupnya harus berakhir ditangan Anusapati. Anusapati merupakan anak dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes, yang juga berarti anak tirinya sendiri. Setelah itu Anusapati menjadi raja Singasari, kurang lebih selama 21 tahun lamanya. Hebatnya Anusapati mati di tangan Tohjaya. Dan Tohjaya ini merupakan putra dari Ken Arok tapi dengan Ken Umang. Tohjaya tidak lama menjadi raja Singasari karena dia berhasil dikalahkan oleh Rangga Wuni, putra Anusapati. Gejolak bunuh membunuh ini baru selesai dimasa Rangga Wuni. Kita bisa melihat terjadi sekitar lima kali pembunuhan terhadap penguasa Singasari, dimulai dari pembunuhan terhadap Tunggul Ametung.

Mungkin pendapat yang saya ajukan mengenai kondisi masyarakat adalah karena adanya sistem kasta dalam agama Hindu dan kepercayaan bahwa raja-raja adalah keturunan para dewa. Mengenai pendapat kedua ini, bisa kita lihat dari silsilah raja-raja dalam pewayangan Jawa. Dimana terjadi modifikasi dari yang sebenarnya dari India menjadi berubah dengan silsilah wayang di Jawa. Jika cerita asli, para raja Astina itu merupakan para manusia yang diturunkan dari manusia. Tetapi silsilah raja Astina di tanah Jawa berubah menjadi berasal dari keturunan Bathara Guru. Dan jika disambungkan dengan keberadaan raja-raja waktu itu maka akan tersambung, jika raja-raja tanah Jawa itu adalah keturunan para dewa. Sebenarnya meyakini raja sebagai keturunan dewa juga terjadi di Jepang. Bahkan Firaun dan Namrudz mengaku sebagai tuhan itu sendiri untuk melegitimasi kekuasaannya.

Mengenai pendapat pertama, kita ketahui pembagian empat kasta dalam Hindu. Dimana Brahmana berada di posisi puncak dan Paria berada di papan bawah. Kenapa ini bisa memberikan pengaruh dalam gejolak Singasari, dikarenakan orang-orang Paria dan Waisya yang tidak mampu untuk turut campur dalam konflik antar keluarga kerajaan ini. Mungkin terjadi kebingungan dalam diri banyak dari mereka, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena kasta ini. Sekali lagi ini info yang tidak valid dari diri saya sendiri.

Dalam terminologi modern, peristiwa kerajaan Singasari merupakan peristiwa kudeta. Tetapi dalam beberapa kudeta yang terjadi di dunia ini kebanyakan terjadi karena kondisi masyarakat yang kacau, dan menginginkan perubahan-perubahan yang mendasar. Atau pun karena masih kuatnya orang-orang status quo yang tidak ingin perubahan mendasar terjadi.

Sebab Kudeta

Kudeta yang terjadi di Perancis misalnya, terjadi karena kondisi perekonomian negara yang parah sehingga mendorong kudeta terjadi terhadap raja Louis XVI. Bahkan sang raja dihukum pancung. Kudeta yang terjadi di masa-masa Dinasti Umayyah juga terjadi karena kondisi masyarakat yang rusak berat, jauh dari nilai-nilai Islam dan pengusa yang sekuler dan korup. Sehingga berdirilah Daulah baru yang menggantikan Umayyah yaitu Abbasiyah. Dan revolusi Boshelvik yang terjadi di Rusia yang menumbangkan Tsar dan mendirikan negara komunis Uni Soviet.

Kudeta yang terjadi di Turki beberapa kali adalah contoh kudeta karena orang-orang status quo di militer tidak menginginkan perubahan yang lebih baik. Hampir setiap dekade terjadi kudeta di Turki. Dan terhenti ketika Ergenekon terbongkar akan melakukan kudeta. Kudeta yang baru-baru saja terjadi di Mesir juga merupakan contoh dimana orang-orang status quo tidak menginginkan perubahan.

Kalau kita melihat motif di balik kudeta-kudeta di Singasari ini, sebagian besar sejarahwan menuliskan adalah karena ingin membalas dendam terhadap pembunuh ayah mereka. Terlihat jelas bedanya bukan. Mungkin ada kerajaan di belahan dunia lain yang juga terjadi kudeta dengan motif dendam. Hanya tidak saya bahas di tulisan ini.

Memang kenyataannya catatan sejarah secara detail mengenai Singasari tidak banyak ditemukan. Jadi kita tidak bisa mendapat secara detail, terutama mengenai reaksi masyarakat ketika peristiwa pembunuhan raja ini terjadi.

Konflik Surakarta

Sekarang kita lihat konflik orang ningrat yang terjadi hari ini. Konflik yang terjadi di Kraton Surakarta yang belum juga selesai, bahkan kembali memanas. Apakah orang-orang Solo, yang dahulu berada di bawah kekuasaan Mataram Surakarta, banyak yang mempedulikan. Kraton Surakarta seperti kehilangan wibawa karena konflik yang berlarut-larut.

Mungkin Singasari dan Surakarta hari ini tidak bisa kita bandingkan secara penuh. Pada kenyataannya Kasunanan Surakarta hari ini tidak punya kuasa atas rakyat Surakarta itu sendiri, tentu saja berbeda dengan Singasari yang waktu itu masih memiliki kuasa atas rakyatnya. Tetapi, bagaimanapun juga orang-orang kraton Surakarta memiliki tempat tersendiri dalam strata sosial masyarakat Jawa, terutama Surakarta. Jadi orang-orang berdarah biru ini haruslah memberi teladan yang pantas.

Apa sejarah harus berulang seperti Singasari agar konflik ini selesai? Saya kira kita semua tidak menginginkan itu terjadi. Maka rekonsiliasi kedua belah pihak saya harap segera tercapai. Walaupun sepertinya rakyat Surakarta tidak menaruh perhatian yang serius mengenai masalah ini, tetapi sekali lagi mereka ini memiliki kedudukan tersendiri dalam strata sosial masyarakat Surakarta yang tingkah polahnya menjadi pembicaraan orang banyak.

oleh : Mahardhika Setyawan ( Sekjend KAMMI Daerah Semarang)


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger