Home » » Kepadamu yang Lahir Setelah Sejarah

Kepadamu yang Lahir Setelah Sejarah

Written By Agus Subkhi Hermawan on Monday, 9 September 2013 | 9/09/2013 04:42:00 pm

“…adalah mereka yang mengalami sesuatu yang baru atau mereka yang berbekalkan pengalaman-pengalaman politik dan sosial yang baru, yang pada gilirannya membentuk manusia baru dengan harapan baru, dengan semangat baru malah mungkin dengan keprihatinan dan ketakutan baru pula.” (Catatan Seorang Demonstran, hlm 5)

            Sobat Miko, tentu tak lekang dari ingatan kita bagaimana perjuangan para pahlawan dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ketika itu, perlawanan dilakukan dengan berbagai cara, mulai Jenderal Soedirman yang berperang gerilya blusukan di hutan-hutan hingga Mohamad Roem melalui jalur diplomasi. Seluruh masyarakat bahu-membahu mengangkat senjata demi mewujudkan sebuah negeri bernama Indonesia. Selain tokoh pahlawan yang namanya kita kenal, ada banyak lainnya yang gugur dan dimakamkan tanpa nama.
            Lalu, 17 Agustus 2013, 68 tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang, bagaimana kabar bangsa kita? Estafet perjuangan dan kepemimpinan itu telah diserahkan kepada generasi penerus bangsa, utamanya para pemuda. Para pemudalah yang saat ini harus meneruskan kemerdekaan Indonesia. Sebab sejatinya, kemerdekaan adalah perjuangan tanpa akhir. Ia adalah sesuatu yang harus terus kita genggam, kita bangkitkan mengikuti cara zaman berbicara.

            Adakah kini dirimu merasa sepenuhnya telah merdeka wahai pemuda Indonesia?

            Pada masa sebelum proklamasi, perjuangan adalah merebut kebebasan secara fisik. Memiliki Indonesia sebagai bentuk tanah air, wujud geografis, batas teritorial negara, serta kemapanan dan daya tawar dalam kehidupan berbangsa melalui berbagai instrumen kenegaraan yang dibutuhkan (struktur kenegaraan, UUD, bentuk negara, dsb). Memiliki Indonesia sebagai suatu rumah, tempat kembali yang seutuhnya, yang kemudian dapat kita sebut sebagai: Inilah Negeriku!

            Pasca 68 tahun kemerdekaan diproklamasikan, Indonesia masih terus berjuang dalam setiap sendi kehidupannya. Tentu kita tak hendak sembarang melontarkan Indonesia belum merdeka. Itulah poinnya. Setiap zaman memiliki dimensi perjuangannya masing-masing.

            Tak hendak dimungkiri pula, bentuk penjajahan saat ini telah memasuki suatu era baru. Ialah penjajahan yang dimodernisasi. Ia menjelma dalam bentuk kebergantungan bangsa pada pinjaman luar negeri, pengelolaan migas oleh perusahaan asing, kebijakan publik yang disetir oleh kepentingan tertentu, media yang tidak berpihak pada kebenaran atau bahkan ini: ketidakpedulian pemuda.

            Pemuda sebagai tiang utama sebuah bangsa, juga merupakan sasaran utama penjajahan model baru. Penjajahan yang membuat pemuda lebih memperdulikan bagaimana mendapatkan tiket konser musik, fashion terbaru, gadget tercanggih. Penjajahan yang membuat pemuda abai terhadap lingkungan sekitar, apatis dalam politik praktis, menyalahkan semuanya kepada pemerintah.  Ketika semua itu dilakukan dalam keadaan sadar, ia bahkan sedang menjajah negerinya sendiri. Menjajah dengan ketidakpeduliannya.

            Pemuda masa kini memiliki peran yang tak kalah krusial dengan para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan. Kebangkitan pemuda adalah kebangkitan sebuah bangsa. Ia bisa memilih medan laga perjuangannya sendiri. Ia bisa berfokus dalam bidang-bidang yang sesuai panggilan jiwanya. Ekonomi, politik, bisnis, pendidikan, pembangunan infrastruktur, apapun yang segalanya dipersembahkan bagi Indonesia.

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger