Home » » Ringkasan Buku Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi

Ringkasan Buku Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi

Written By anton saputra on Monday, 5 August 2013 | 8/05/2013 10:27:00 pm



Mustahil ada perubahan ke arah yang benar jika kesalahan berpikir masih berada dalam benak kita. Dalam membahas masalah sosial, kita perlu membicarakan berbagai kesalahan pemikiran dalam memperlakukan masalah sosial. Oleh para ilmuwan, kesalahan seperti ini biasa disebut dengan intellectual cul-de-sac, yang artinya kebuntuan dalam pemikiran. Ada dua macam kesalahan yaitu intellectual cul-de-sac dan mitos. Mitos adalah sesuatu yang salah tetapi dipercayai banyak orang termasuk ilmuwan.

Kesalahan-kesalahan berpikir

1. Fallacy of dramatic instance
Kecenderungan melakukan Over generalisation. Yaitu menggunakan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Contohnya, seorang peneliti datang ke Indonesia ingin meneliti keadaan umat Islam, karena Muslim Indonesia terbesar di dunia. Ketika tiba di Indonesia dia mendapati fakta bahwa muslim Indonesia itu miskin, jorok, dan hal jelek lainnya. Lalu peneliti ini mengeneralisir hal tersebut dengan mengatakan bahwa orang Islam itu orannya miskin, jorok, dan lain sebagainya dengan bukti penelitian yang dia lakukan di Indonesia.

2. Fallacy of retrospective determinism

Menganggap masalah sosial selalu ada dan tidak bisa dihindari, karena sudah ada sejak zaman dahulu dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Contoh pelacuran, kemiskinan, dan lain-lain yang sudah sejak zaman dahulu kala memang hal-hal tersebut sudah ada dalam sejarah kehidupan manusia.

3. Post hoc ergo propter hoc

Menyatakan peristiwa yang terjadi berurutan saling mempengaruhi, contoh harga barang setelah reformasi naik karena Amin Rais menurunkan Suharto.

4. Fallacy of misplaced concretness

Mengkonkretkan sesuatu yang sebenarnya abstark. Contohnya, mengapa orang Islamsecara ekonomi dan politik? Karena, kita berada dalam sistem jahiliyah dan tahgut sedang berkuasa. Tetapi, sistem jahiliyah dan thagut itu dua hal yang abstrak. Sehingga jika jawabannya seperti itu lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengubah sistem! Tetapi, “siapa” sistem itu? Sistem yang abstrak itu kita pandang sebagai sesuatu yang konkret.

5. Argumentum ad verecundiam

Berargumen menggunakan otoritas, walaupun tidak relevan dan ambigu. Misalnya ada suatu peristiwa, lalu ada suatu kelompok yang melihatnya sama dengan apa yang terjadi zaman Nabi Muhammad saw atau zaman sahabat lalu melakukan penafsiran yang memaksa pihak lain untuk membenarkan penafsiran yang mereka lakukan. Padahal peristiwa sirah itu bisa dilihat berbeda oleh pihak yang berbeda. Sebaiknya bila kita akan menggunakan otoritas kita menambahkan frasa “menurut pendapat saya” atau yang sejenisnya.

6. Fallacy of composition

Terapi untuk satu orang pasti berhasil untuk orang lain. Misalnya dalam suatu kampung ada seorang petani yang menjual sawahnya untuk dia belikan motor. Lalu dia menjadi ojek. Karena dalam satu kampung tersebut hanya dia yang memiliki motor maka dia menjadi sukses dengan bisnis ojeknya. Lalu beramai-ramai teman petani yang lain meniru pola yang dia lakukan. Sehingga terjadi poverty sharing karena lahan ojek yang menyempit.

7. Circular reasoning

Pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semula.

Misalnya , terjadi perdebatan tentang rendahnya prestasi intelektual umat Islam Indonesia. Orang pertama membuktikan konklusi tersebut dengan membandingkan persentase mahasiswa Islam dan non-Islam pada program S2 dan S3. Hasilnya, semakin tinggi tingkat pendidikan, makin menurun trend kehadiran orang Islam. Padahal di tingkat SD, persentase muslimnya sejumlah 95%.

Lalu, orang kedua menyatakan bahwa hal ini terjadi lantaran oran Islam tidak diberlakukan sederajat dengan orang non-Islam. Jadi, ada perlakukan diskriminatif terhadap orang Islam. Sampai-sampai, orang Islam sering dicoret dari program-program pendidikan tinggi.

Orang pertama lalu menjawab lagi. “Orang Islam dicoret karena orang meragukan kemampuan intelektualnya.” Dengan jawaban ini, kita kembali kepada pokok permasalahan. Akhirnya perdebatan mengalir seputar itu dan terus berputar-putar.
Mitos Sosial

1. Mitos deviant

Menganggap bahwa masyarakat itu stabil, statis, dan tidak berubah. Kalaupun terjadi perubahan, maka itu merupakan suatu penyimpangan yang stabil.

2. Mitos trauma

Menganggap bahwa perubahan itu menimbulkan krisis emosional dan stres mental atau dengan kata lain jangan keluar dari zona nyaman saat ini.
Masyarakat akan menolak perubahan apabila muncul hal-hal berikut
Perubahan itu diduga mengancam basic security
Perubahan itu tidak dipahami dengan hidup dan penuh ketidakpastian
Dirasakan adanya paksaan kepada masyarakat
Dianggap bertabrakan dengan nilai atau norma yang lebih tinggi
Tidak sesuai dengan kalkulasi rasional masyarakat

Oleh : Mahardhika Setyawan (Sekjend KAMMI Daerah Semarang 2012-2014)



Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger