Home » » Perencanaan Tanda Kefanaan

Perencanaan Tanda Kefanaan

Written By anton saputra on Friday, 30 August 2013 | 8/30/2013 05:03:00 pm


waktu, mati, kuburan, perencanaan, Allah
Mengapa hidup ini harus ada perencanaan? Mengapa harus ada manajemen, menajemen waktu, manajemen sumber daya alam, menejemen sumber daya manusia? Bisakah manusia hidup tanpa perencanaan dan manajemen? Apa jadinya jika manusia hidup tanpa perencanaan/manajemen. Mengapa seseorang harus disiplin? mengapa seseorang harus hidup teratur?. Mengapa harus ada jadwal?.

Ada yang mengatakan bahwa itu semua diperlukan agar hidup ini menajadi lebih berarti, efektif dan efisien. Ada pula yang mengatakan agar hidup seseorang menjadi lebih berkualitas. Ada pula yang mengatakan agar hidup tidak sia-sia dan tidak menyesal di akhir, dan banyak lagi jawaban-jawaban lainnya yang intinya mengatakan agar bisa mengotimalkan “waktu” dan “kehidupan”.

Betapa seseorang seolah-olah didorong agar bisa taat dengan aturan-aturan yang ada, baik dorongan itu bersumber dari kesadaran diri, maupun atas dorongan orang lain. Lihat saja disekitar kita, banyak orang-orang seakan berlomba bahkan beradu cepat dengan waktu. Kegelisahan terhadap waktu pernah dirasakan semua orang meski masing-masing memiliki kesadaran yang berbeda-beda terhadap waktu. Sehingga jika diperhatikan sejatinya manusia selalu khawatir terhadap laju waktu yang tak pernah berhenti. Mengapa harus khawatir? Khawatir  kepada siapa?

Ada pepatah mengatakan “Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”. Pepatah ini menunjukan sinyal bahwa ada semacam “kekhawatiran” supaya hidup “tidak gagal” alias “berhasil”.

Namun demikian ada juga seorang yang tidak peduli dengan laju waktu alias tidak disiplin. Lalu ia berinteraksi dengan orang yang begitu disiplin. Ia telah berjanji bahwa jadwal bertemu pukul 10.00, namun ternyata salah satu pihak tidak menepatinya sehingga membuat “marah” pihak lain karena merasa telah dirugikan dengan ketidakdisiplinannya. Mengapa harus “marah”?

Konsep “manajemen” menunjukan arti “keterbatasan”. Sejak Sekolah Dasar (SD) kita sering diajarkan tentang Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia. Guru-guru kita menjelaskan bahwa sumber daya itu secara umum digolongkan menjadi dua, pertama sumber daya yang bisa secara cepat diperbaharui dan yang sumber daya yang  yang tidak bisa diperbaharui. Konsep ini jelas menunjukkan bahwa ada keterbatasan, ada masa habis berlakunya. Disinilah prinsip dasar “manajemen/perencanaan” telah diajarkan.

Mengapa perlu manajemen?, ya karena sifatnya yang “terbatas” itu tadi agar dalam penggunaannya bisa dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga berlaku terhadap SDM. Seperti kita tahu akhir-akhir ini berjamuran para “Trainer” yang pada intinya ingin membangkitkan “potensi” luabiasa dalam diri manusia agar bisa mengoptimalkan segala modal “kecerdasan” yang ada. Ilustrasi-ilustrasi di atas adalah contoh bahwa sesuatu yang fana (manusia termasuk didalamnya) terikat dengan waktu. Makhluk-makhluk fana itu tidak memiliki otoritas mengatur laju waktu.

Bayangkan jika seandainya semuanya bersifat “Abadi” mungkinkah manusia mengenal konsep “perencanaan” dalam hidupnya? Apakah mereka akan tertarik membahas konsep perencanaan/manajemen waktu, membuat jadwal, berangkat pagi-pagi agar tidak terjebak macet, bahkan apakah seseorang akan “marah” jika dibuat menunggu oleh orang lain?

Hal ini tentunya menunjukan bahwa perencanaan/manajemen bagi seseorang baik ia buat secara sadar maupun terpaksa sadar menunjukan keterikatannya dengan waktu. Perencanaan, manajemen, waktu, jadwal, disiplin, masa lalu, kini dan masa depan sejatinya menunjukan kepada manusia bahwa manusia membutuhkan itu semua. Mengapa butuh? Tentu karena ada “nilai” yang dijunjung tingggi. Nilai-nilai tersebut berbeda-beda ada yang mengusung nilai materi semata (Time is Money). Yang menjadikan waktu hanya sekadar untuk makan. Dan sudut pandang yang dipakai berdasarkan moralitas manusia yang sifatnya sekuler (keduniawian dan kekinian) saja.

Tetapi bagi seorang muslim penghargaan ia terhadap waktu bukanlah semata-mata untuk meraup materi semata, akan tetapi diorong oleh aspek “keimanan” kepada Allah. Setiap perencanaan/manajemen yang dilaksanakan seseorang sejatinya didasari oleh aspek iman di dalam hatinya. Semuanya dikembalikan kepada Allah Tuhan Semesta Alam. Perencanaan/manajemen menunjukan bahwa hanya Allah-lah yang Maha Besar dan menunjukan bahwa manusia dan benda-benda fana lainnya hanya bersifat fana (rusak) dan tidak abadi. Dia adalah Awal dan Akhir. Semuanya akan kembali kepada-Nya. Innalillahii wa Inna Ilaihi Raaajiuun. Mustinya seorang muslim itu lebih sadar pernghargaannya terhadap waktu dibandingkan yang non muslim karena dimensi keyakinannya lebih transenden, lebih dalam kepada Tuhan, kepada Allah SWT. Inilah catatan bagi kita semua umat Islam, semoga kita senantiasa menghargai waktu. Waallohu’alam.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Asr: 1-3)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger