Home » » Mudik Sebuah Kearifan Lokal

Mudik Sebuah Kearifan Lokal

Written By anton saputra on Monday, 5 August 2013 | 8/05/2013 09:39:00 pm


Mudik, sepertinya berasal dari kata ‘udik’ yang berarti desa. Mudik di Indonesia tercinta kita ini, sudah menjadi agenda tahunan yang rutin. Terjadi di setiap hari raya Idul Fitri dirayakan. Orang-orang yang merantau dari kota-kota besar, pulang ke kampung halaman mereka. Untuk merayakan Idul Fitri bersama handai tolan. Suasana kota besar seperti Jakarta pun yang sehari-hari penuh dengan kemecatan berubah menjadi sepi dan keramaian berpindah ke desa-desa. Contohnya di dusun saya, setiap Idul Fitri penduduknya bisa menjadi dua kali lipat dari hari biasanya, mobil-mobil bagus  dengan mudah dijumpai, padahal di dusun saya paling cuma dua sampai tiga orang yang punya mobil sebenarnya.

Lalu apakah tradisi mudik ini adalah bagian dari tradisi Islam atau bukan. Tentu saja bukan, karena harusnya kalau tradisi Islam, Idul Adha itu lebih besar perayaannya dari pada Idul Fitri. Dalam siroh disebutkan bahwa perayaan Idul Adha lebih meriah bila dibandingkan Idul Fitri.  Atau mungkin kita pernah mendengar seorang ustadz yang pernah hidup di Arab Saudi mengatakan, bahwa waktu Idul Fitri itu di Arab sana sepi. Tidak seperti di Indonesia yang malah menjadi ramai. Di negara berpenduduk mayoritas Islam lain pun, akan kita jumpai hal demikian terutama di jazirah Arab. Yaitu tidak ada tradisi mudik ke kampung halaman saat Idul Fitri.

Tradisi berkumpul bersama keluarga besar satu kali dalam satu tahun ini, ada yang mengatakan sebenarnya adalah tradisi penduduk Yunan, daerah negara RRC bagian selatan. Yang juga menurut para ahli merupakan nenek moyang dari bangsa Indonesia. Dan sampai sekarang tradisi ini pun masih berlanjut di Yunan. Dan di Indonesia mengapa bertepatan dengan Idul Fitri, menurut saya inilah salah satu hasil dakwah para penyebar agama Islam di Indonesia, walaupun saya tidak tahu mulai kapan sebenarnya tradisi mudik saat Idul Fitri ini dimulai.

Tradisi mudik saat Idul Fitri adalah sebuah kearifan lokal bangsa Indonesia. Merayakan kemenangan melawan hawa nafsu bersama keluarga besar. Selain tradisi berkumpul bersama keluarga besar, saat setelah sholat Id keluarga akan melakukan tradisi ‘sungkeman’ kalau di masyarakat Jawa. Atau saling mohon maaf dengan anggota keluarga lain dan dengan warga sekitar. Idealnya memang sebelum bulan Ramadhan kita minta maafnya, tetapi tidak ada salahnya juga tradisi ini. Toh, minta maaf kan bisa setiap saat. Tetapi kapan keluarga besar berkumpul itu yang jadi masalah. Karena berkumpulnya pas Idul Fitri jadinya kita ‘sungkeman’ saat Idul Fitri.

Mudik dan sungkeman adalah sebuah kearifan lokal bangsa Indonesia untuk menyambut hari kemenangan setelah selama sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu. Mungkin tidak tepat, menurut beberapa pihak, tetapi bagi saya mudik dan sungkem adalah salah satu saat yang paling ditunggu dalam setahun dan memang hanya terjadi dalam setahun kan?

Masih ada satu lagi tradisi yang dilakukan saat IdulFitri, yaitu ‘nyekar’. Nyekar berasal dari kata sekar yang berarti bunga. Maksudnya berziarah ke makam dan menabur bunga di sana. Mungkin di daerah lain ada penyebutan lain untuk istilah ‘nyekar’ ini. Namun karena kurang mentradisi di keluarga saya maka tidak saya bahas panjang lebar. Yang jelas berziarah untuk mengingat mati merupakan sunnah Rasul.

Mudik, sepertinya berasal dari kata ‘udik’ yang berarti desa. Mudik di Indonesia tercinta kita ini, sudah menjadi agenda tahunan yang rutin. Terjadi di setiap hari raya Idul Fitri dirayakan. Orang-orang yang merantau dari kota-kota besar, pulang ke kampung halaman mereka. Untuk merayakan Idul Fitri bersama handai tolan. Suasana kota besar seperti Jakarta pun yang sehari-hari penuh dengan kemecatan berubah menjadi sepi dan keramaian berpindah ke desa-desa. Contohnya di dusun saya, setiap Idul Fitri penduduknya bisa menjadi dua kali lipat dari hari biasanya, mobil-mobil bagus  dengan mudah dijumpai, padahal di dusun saya paling cuma dua sampai tiga orang yang punya mobil sebenarnya.

Lalu apakah tradisi mudik ini adalah bagian dari tradisi Islam atau bukan. Tentu saja bukan, karena harusnya kalau tradisi Islam, Idul Adha itu lebih besar perayaannya dari pada Idul Fitri. Dalam siroh disebutkan bahwa perayaan Idul Adha lebih meriah bila dibandingkan Idul Fitri.  Atau mungkin kita pernah mendengar seorang ustadz yang pernah hidup di Arab Saudi mengatakan, bahwa waktu Idul Fitri itu di Arab sana sepi. Tidak seperti di Indonesia yang malah menjadi ramai. Di negara berpenduduk mayoritas Islam lain pun, akan kita jumpai hal demikian terutama di jazirah Arab. Yaitu tidak ada tradisi mudik ke kampung halaman saat Idul Fitri.

Tradisi berkumpul bersama keluarga besar satu kali dalam satu tahun ini, ada yang mengatakan sebenarnya adalah tradisi penduduk Yunan, daerah negara RRC bagian selatan. Yang juga menurut para ahli merupakan nenek moyang dari bangsa Indonesia. Dan sampai sekarang tradisi ini pun masih berlanjut di Yunan. Dan di Indonesia mengapa bertepatan dengan Idul Fitri, menurut saya inilah salah satu hasil dakwah para penyebar agama Islam di Indonesia, walaupun saya tidak tahu mulai kapan sebenarnya tradisi mudik saat Idul Fitri ini dimulai.

Tradisi mudik saat Idul Fitri adalah sebuah kearifan lokal bangsa Indonesia. Merayakan kemenangan melawan hawa nafsu bersama keluarga besar. Selain tradisi berkumpul bersama keluarga besar, saat setelah sholat Id keluarga akan melakukan tradisi ‘sungkeman’ kalau di masyarakat Jawa. Atau saling mohon maaf dengan anggota keluarga lain dan dengan warga sekitar. Idealnya memang sebelum bulan Ramadhan kita minta maafnya, tetapi tidak ada salahnya juga tradisi ini. Toh, minta maaf kan bisa setiap saat. Tetapi kapan keluarga besar berkumpul itu yang jadi masalah. Karena berkumpulnya pas Idul Fitri jadinya kita ‘sungkeman’ saat Idul Fitri.

Mudik dan sungkeman adalah sebuah kearifan lokal bangsa Indonesia untuk menyambut hari kemenangan setelah selama sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu. Mungkin tidak tepat, menurut beberapa pihak, tetapi bagi saya mudik dan sungkem adalah salah satu saat yang paling ditunggu dalam setahun dan memang hanya terjadi dalam setahun kan?

Masih ada satu lagi tradisi yang dilakukan saat IdulFitri, yaitu ‘nyekar’. Nyekar berasal dari kata sekar yang berarti bunga. Maksudnya berziarah ke makam dan menabur bunga di sana. Mungkin di daerah lain ada penyebutan lain untuk istilah ‘nyekar’ ini. Namun karena kurang mentradisi di keluarga saya maka tidak saya bahas panjang lebar. Yang jelas berziarah untuk mengingat mati merupakan sunnah Rasul.


Oleh : Mahardhika Setyawan (Sekjend KAMMI Daerah Semarang Periode 2012-2-14)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger