Home » » Madrasah KAMMI 1 : Ghazwul Fikr

Madrasah KAMMI 1 : Ghazwul Fikr

Written By Agus Subkhi Hermawan on Monday, 26 August 2013 | 8/26/2013 07:11:00 am

KAMMI, Semarang, Jawa Tengah, Islam, Politik, Ghazwul Fikr, Mahasiswa
Ghazwul berasal dari kata ghazwah yang bermakna serangan, serbuan, atau invasi. Fikr bermakna pemikiran. GHazwul Fikr secara istilah dimaknai sebagai Perang Pemikiran. Pada definisi yang lebih luas, ghazwul fikr adalah upaya mengelabui umat Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan berbagai cara agar umat Islam mengikuti dan loyal kepada mereka, bahkan murtad dari agama Islam.

Ghazwul fikr sudah ada sejak Nabi Adam di surga, ketika itu pelakunya adalah syaithan. Syaithan membujuk Nabi Adam agar mengambil Pohon Terlarang. Syaithan juga menggunakan Semantic Game. Semantic Game adalah pemutarbalikan fakta, bahkan disertai sumpah. Syaithan memutarbalikkan fakta bahwa adanya larangan Allah terhadap Nabi Adam dan istrinya adalah agar keduanya tidak kekal di sorga. Padahal, Allah swt sudah menetapkan bahwa tempat manusia memang di Bumi karena akan menjadi Khalifah (QS. Al-Baqarah : 30).

Ghazwul fikr yang lebih sistematis bermula pada Perang Salib (crusade). Ada beberapa periode Perang Salib yang dimulai pada 1095 M. Ketika Raja Louis IX (Panglima Perang Salib 7) tertawan dia mengamati perilaku tentara Islam. Malam hari bagai rahib, siang hari bagai penunggang kuda, inilah rahasia kemenangan tentara Islam. Jika demikian maka tidak bisa dilawan dengan senjata, tetapi harus dengan menjauhkan umat Islam dari Islam itu sendiri. 

Pada dimensi yang lebih modern, sasaran utama ghazwul fikr adalah pemuda pemudi Islam dengan menggunakan senjata berbagai bidang kehidupan seperti makanan, fashion, olahraga. Tujuannya agar generasi muda Islam jauh dari agama Islam dan mengejar kehidupan dunia saja. 

Sarana penyebaran ghazwul fikr yang paling banyak digunakan yaitu melalui media massa. Keadaan masa kini, yaitu mulai tiadanya sekat pembatas antar negara menyebabkan informasi dapat sampai hanya dalam hitungan detik melalui berbagai sarana. 

Pada dasarnya media bersifat netral, tetapi tentu saja implementasinya tergantung kepada siapa yang menguasai. Saat ini, media banyak dikuasai oleh musuh-musuh Islam, maka ghazwul fikr pun gencar dilakukan melalui media. Hal yang paling berbahaya dari penguasaan media ini adalah dilakukannya semantic game (pemutarbalikan fakta).

Orang-orang kafir itu saling bekerja sama terutama saat menghadapi umat Islam. Maka dikatakan bahwa kekafiran itu satu agama. Meski demikian, hakikatnya dalam diri mereka sendiri terjadi perpecahan.

Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti. (QS. Al-Hasyr : 14).

Menghadapi ghazwul fikr ini, umat Islam harus bekerja sama dan bersatu padu. 

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal : 73).


(disampaikan oleh Mas Andri dalam MK 1 KAMMI FEB Undip. Selasa 9 Juli 2013, Sayap Kanan Soedarto.)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger