Home » » Gerakan Mahasiswa Tiarap Atau Kembali Ke Barak? (Refleksi 68 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia) Bag.2

Gerakan Mahasiswa Tiarap Atau Kembali Ke Barak? (Refleksi 68 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia) Bag.2

Written By anton saputra on Sunday, 18 August 2013 | 8/18/2013 10:03:00 am



Pada periode akhir abad 19 menuju abad 20 beberapa kaum terpelajar telah berani membentuk perkumpulan-perkumpulan guna membebaskan masyarakatnya yang terbodohkan oleh penjajah. Fase ini merupakan fase pergerakan nasional. Dalam fase ini perjuangan menuju kemerdekaan lebih modern dan teroganisir. Berbeda dengan gerakan-gerakan pembebasan era sebelumnya yang terpecah-pecah dan klasik. Perjuangan pada masa pergerakan nasional tidak terpaku pada kekuatan satu tokoh saja, tapi sudah mengandalkan kekuatan sistem. Rapat-rapat umum dan propaganda media massa telah menjadi standar baku kaum pergerakan.

Pada masa ini berdirilah Boedi Oetomo (1908) yang sebagian besar anggotanya mahasiswa kedokteran dengan visi jelas--menyetarakan kaum pribumi dengan bangsa-bangsa lain--. Selain itu beberapa perkumpulan-perkumpulan pemuda/mahasiswa baik berbasis daerah, agama, ekonomi pun berdiri. Perkumpulan itu melakukan konsolidasi secara masif dan terorganisir. Keinginan kuat untuk bersatu sebagai sebuah bangsa itu termanifestasikan dalam momentum Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Hingga tahun 1945 para golongan terpelajar (mahasiswa) memiliki peran penting dalam proses perubahan dengan mendorong dwi tunggal Soekarno Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.


Gerakan Pemuda/ Mahasiswa Pasca Kemerdekaan

Dalam perjalanannya para kaum terpelajar ini terus menorehkan perubahan dalam setiap masa. Pasca Proklamasi kemerdekaan, muncul berbagai organisasi mahasiswa dengan dasar ideologi yang berbeda-beda. Pada tanggal 5 Februari 1947 diresmikan terbentuknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kemudian diikuti berdeirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada tanggal 25 Maret 1947dan kemdian disusul dengan berdirinya Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI). Organisasi-organisasi mahasiswa ini menggunakan ideologi agama seperti Islam, Kristen dan Katholik. Kemunculan organisasi-organisasi mahasiswa ini mengikuti lahirnya partai-partai politik yang juga menggunakan basis ideologi agama seperti Masyumi yang berdiri tanggal 7 Nopember 1945 dan Partai Katholik yang berdiri tanggal 8 Desember 1945. Sementara partai besar lainnya yaitu Partai Nasional Indonesia juga memiliki organisasi gerakan mahasiswa yaitu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berdiri tanggal 23 Maret 1954. Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dibentuk pada 1956 sebagai hasil penggabungan tiga organisasi kecil mahasiswa di Bandung, Bogor dan Yogyakarta. Selain itu muncul pula kelompok-kelompok organisasi mahasiwa berdasakan profesi dan komunitas Ormas mahasiswa. Kelompok-kelompok ini natara lain Perhimpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (PMKH) di Bogor, Perhimpunan Mahasiswa Djakarta (PMD), Perhimpunan Mahasiswa Jogyakarta (PMJ), dan Masyarakat Mahasiswa Malang (MMM). Kemudian dari dalam kampus juga muncul organisasi gerakan da Dewan Mahasiswa UI tanggal 20 Maret 1955. Adapun di dalam intra kampus berlaku model Student Government. Mahasiswa memiliki pemerintahan sendiri yang sifatnya otonom. Pada tingkat universitas, kekuasaan eksekutif berada di tangan Dewan Mahasiswa, sedangkan di tingkat fakultas dibentuk Komisariat Dewan Mahasiswa (Kodema).

Pada masa ini, kontelasi politik global turut pula mempengaruhi sikap mahasiswa.  Pertarungan Ideologi seperti Kapitalisme versus Komunisme begitu mewarnai sikap mahasiswa. Organisasi gerakan mahasiswa yang meramaikan panggung perpolitikan adalah organisasi yang memiliki afiliasi kepada partai politik. Mereka saling berlomba, adu program bahkan bertarung untuk mendapat massa yang besar dari kalangan mahasiswa. Mereka diperbolehkan memasang bendera di kampus sehingga antara elemen Dema maupun Kodema. Antara organisasi intra dan ekstra selalu ada kontak. Mereka memiliki otoritas penuh dalam melakukan gerakan-gerakan baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Gerakan Mahasiswa pada masa ini sarat dengan kepentingan-kepentingan politik praktis. Pada masa ini kekuatan mahasiswa sangat diperhitungan bahkan bisa mengancam eksistensi pemerintah jika kebijakan-kebijkan pemerintah bersebrangan dengan aspirasi mahasiswa. Hal ini terjadi saat penggulingan Presiden Soekarno tahun 1966, oleh mahasiswa melalui wadah KAMI (Komite Aksi Mahasiswa Indonesia). 
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger