Home » » KAMMI Merah & Kota Merah (Bag. 1)

KAMMI Merah & Kota Merah (Bag. 1)

Written By anton saputra on Monday, 29 July 2013 | 7/29/2013 11:13:00 am



KAMMISemarangWajah kota ini begitu memerah, tepatnya ketika keberadaan seorang Belanda totok penggagas gerakan-gerakan revolusi  mengangkat kaum buruh dan pekerja di tanah jajahan ini.  Lima tahun (1913-1918) tinggal di Jawa banyak ia habiskan waktunya di Kota Semarang.

Henk Sneevliet, hidup miskin dan dibesarkan dalam keadaan serba kekurangan, jika bukan karena jasa kolega keluarga dan para tantenya Henk kecil tidak dapat bersekolah di HBS (Hogere Burgere School) di s-Hertogenbosch, sebuah kota kecil di sebelah selatan Belanda. Max Perthus dalam bukunya Henk Snevvliet: Revolutionair-Socialist in Europa en Azie mencatatkan ada banyak sekali kejanggalan yang terjadi di s-Hertogenbosch yang mengusik Henk: kemiskinan merebak, kaum buruh hidup tak layak, kemiskinan yang mengerikan (Majalah Historia, Hal 41, 2013). Inilah yang membuat Henk kecil tumbuh menjadi seorang pemberontak yang tak bisa diam melihat ketidakadilan di sekitarnya.

Februari 1913, Sneevliet berkemas menuju tanah harapan: Hindia, sebuah negeri yang telah lama dia kenal lewat karya Multatuli, Max Havelaar. “Sneevliet datang ke Indonesia hanya sekedar mencari pekerjaan, tetapi rasa panggilan revolusionernya membuatnya tak terhindarkan bahwa kegiatan utamanya di tanah jajahan ini ialah memberikan khotbah akan keyakinan politiknya,” tulis Ruth T. McVey. Keadaan tanah jajahan ini yang membuat Sneevliet tak dapat menghindari kerja-kerja revolusioner, yaitu peran besar dalam membentuk kesadaran bangsa (Majalah Historia, Hal 43, 2013).

Gebrakan demi gebrakan dibuatnya di Semarang, selain bergabung dengan Serikat Buruh Kereta Api dan Tram (VSTP) dan memperbaiki nasib buruh tidak terlatih dan miskin, banyak sekali tulisan propaganda yang ditulisnya. Henk Sneevliet sempat diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers, 19 Maret 1917. Terinspirasi dari gerakan revolusi di Rusia, artikel tersebut menyeretnya di Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang 20 November 1917 dengan berbagai tuduhan: menghasut rakyat Jawa, menghina pengadilan, menuduh pemerintah berbuat sewenang-wenang dan tuduhan sebangsanya. Tulis Soe Hok Gie dalam Di Bawah Lentera Merah.

Hilmar Farid Sejarawan mengatakan bahwa proses persdelict melawan Sneevliet merupakan kasus persidangan yang pertama di kalangan orang Belanda di Hindia. Putusan hakim tersebut mengecewakan pemerintah. Jaksa Agung G.W. Uhlenbeck menyebut putusan tersebut sebagai contoh dari ketidakadilan rasial, dikarenakan Sneevliet berkulit putih warga kelas satu eropa, beda nasib jika ia merupakan pribumi yang diadili atas tuduhan yang sama.  

Paska persidangan ia tidak tinggal diam, Sneevliet terus melakukan propaganda, membangkitkan kesadaran buruh, prajurit dan kelasi Belanda. Sneevliet juga membentuk Garda Merah di kalangan prajurit dan kelasi. 

 Oleh : Barri Pratama (Ketua KAMMI Daerah Semarang Periode 2012-2014)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger