Home » » Demokrasi Transisi

Demokrasi Transisi

Written By Agus Subkhi Hermawan on Friday, 12 July 2013 | 7/12/2013 11:36:00 pm

Dewasa ini, kita melihat perlawanan rakyat atas suara mereka yang disalah gunakan oleh penguasa. Kita sebut saja, Indonesia, Tunisia, Mesir, dst. Demokrasi yang notabenya baru benar-benar muncul hasil dari perjuangan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Telah menemukan titik jenuh. Titik jenuh akan ketidakpastian keadaan, ketidakadilan hukum, kemandulan ekonomi, dan kemacetan moral yang melanda santero negeri.

Sebenarnya apa itu demokrasi ? 

Mari kita flashback bentuk demokrasi yang ada selama ini, pertama adalah Demokrasi Langsung yaitu suatu sistem dimana rakyat ikut ambl bagian langsung dalam penentuan kebijakan politik. Kita ambil conto di Mesir, saat Presiden Mursi membuat UU baru, dan rakyat diberikan hak untuk menentukan konstitusi mana yang sesuai. Kita tahu sendiri hasilnya seperti apa. kedua, Demokrasi Perwakilan, sistem inilah yang negara kita anut. Dimana rakyat memiliki kedaulatan pemilihan akan tetapi kebijakan diwakili oleh seseorang yang dianggap mewakili rakyat, "Wakil Rakyat."

Pemisahan 3 lembaga, Eksektif, Legislatif, dan Yudikatif dalam pemerintahan demokrasi diharapkan mampu menciptakan mekanisme Check and Balance supaya setiap kebijakan pemerintah dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan amanat konstitusi. Akan tetapi, teori tetap teori. Keberjalanan sebuah tatanan demokrasi banyak diciderai oleh kepentingan kekuasaan dan ekonomi.

Coba kita tengok pasca terjadi Perang Dunia I pada tahun 1920-an gelombang demokrasi tidak bisa dibendung, akan tetapi hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencengkram kekuasaannya disebuah negara, maka tak heran jika muncul berbagai pemimpin yang diktator di Negara Asia dan Amerika Latin.

Lalu kapan Demokrasi ini menemukan titik sempurna ?

Dalam buku "Demokrasi, Transisi, dan Korupsi", Fahri Hamzah menerangkan bahwa sebelum memasuki era kesempurnaan sistem demokrasi, maka sebuah institusi pemerintahan harus melewati fase Korupsi, berlanjut ke Transisi dan jika berhasil berdirilah negara Demokrasi. Jadi bisa saya simpulkan bahwa kita memasuki fase transisi, karena pada fase ini, sebuah institusi pemberantasan korupsi dilahirkan. Terlepas dari baik dan buruknya kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi.

Melihat tatanan demokrasi di negara asia, berat sekali jika kita mendambakan sebuah Negara yang benar-benar Demokrasi, karena prinsip demokrasi dimana Kekuasaan dipegang oleh mayoritas suara warganya disalah gunakan. Bahkan dilecehkan dengan Kudeta Militer yang dewasa ini terjadi di Mesir.

Tidak heran dalam Demokrasi muncul kekuatan-kekuatan penunjang kekuasaan, Negara dengan Militernya, Liberal dengan Medianya, dan Islam dengan Ikhwanul Musliminnya. Liberal yang digalangi AS beserta kroni-kroninya, Ikhwanul Muslimin yang ditakuti oleh Pimpinan Negara Timur Tengah karena dapat mengusik "kebahagiaan mereka". 

Baik buruknya sebuah sistem tergantung dari pemimpinnya, jika pemimpinnya serakah maka jangan harap keberkahan singgah di Negerinya, berbanding terbalik jika pemimpinnya amanah, kebahagiaan akan singgah. Maka tak heran jika Rasulullah Saw pernah bersabda dalam hadistnya,"Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." [HR. AL-Bukhari; Ahmad; dan Al Hakim] Korelasi dari Akhlaq ini akan berdampak pada lingkungan kita sebagai manusia, sekali lagi Al Qur'an menunjukan betapa akhlaq Qur'ani yang dicontohkan Nabi dalam Hadistnya telah menuai keberkahan bagi Sentero jagat.

Mengutip kata Buya Hamka,"Islam beribadah akan dibiarkan, Islam Berekonomi akan diawasi, dan Islam Berpolitik akan dicabut sampai keakar-akarnya.


Perjuangan mewarnai negeri, menjadi sepenggal firdaus-Nya masih panjang kawan.



Penulis   : Agus Subkhi Hermawan (@im_subhan on twitter)
Gambar  : Google Image
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger