Home » » CERPEN: Gadis Kecil Sembilan Belas Tahun

CERPEN: Gadis Kecil Sembilan Belas Tahun

Written By anton saputra on Sunday, 28 July 2013 | 7/28/2013 08:30:00 am


KAMMISemarangGadis kecil belari-lari riang di taman kota. Jatuh, merengek pada ibunya. Tak ada luka, namun tangisnya tetap pecah. Diusapnya lutut gadis kecil itu oleh sang ibu sambil melayangkan ciuman kecil di keningnya. Bak ibu peri dalam cerita dongeng, usapan halus dan ciuman kecil dari sang ibu menjadi obat paling mujarap di dunia. Gadis kecil kembali berlari. Berlari, tanpa ada resah di mata beningnya. Terlalu bahagia. Ibunya ada di dekatnya, apa lagi yang ia khawatirkan?

Ya, manis sekali pemandangan yang tersuguh tepat di depan mataku. Namun, itu justru seolah menampar batinku. Perih. Ah, gadis kecil. Ia seolah melemparku pada episode empat belas tahun yang lalu. Sontak deretan-deretan episode itu berkelebatan memenuhi arus pikirku.

Usia enam tahun, kala semua masih baik-baik saja. Masih ada perhatian mama, masih ada guyonan mama, pun masih ada kekesalan mama saat aku nakal, meski ia tak menunjukkannya secara langsung. Manis. Ya, begitu manis. Kebahagiaan itu terasa begitu sempurna. Begitu sempurna. Tak ada iri sedikit pun dengan anak kecil lain. Sudah lebih dari cukup. Ya, apa lagi yang kutuntut? Semuanya sudah terlalu indah. Terlalu indah.

Mama.. ia adalah ibu yang sempurna. Ya, mungkin hanya bagiku. Aku sayang mama. Sungguh. Dan aku tahu, mama juga sayang aku. Hari-hari itu terasa begitu sempurna. Sampai-sampai aku merasa aku adalah anak yang paling beruntung di seluruh dunia. Aku tak mau kehilangan mama, aku tak mau kebahagiaan ini berakhir. Tak mau.

Hari-hari berlalu. Aku pikir kebahagiaan itu akan selamanya menemani kami. Menemani aku dan mama. Namun, ternyata kenyataan berkehendak lain. Perlahan kurasa mama berubah. Ada suatu yang aneh yang kutangkap dari mama, meski aku tak mengerti apa yang terjadi dengan mama. Mama seperti bukan lagi mama yang kukenal. Mama yang dulu begitu perhatian padaku, sekarang bahkan seperti tak lagi menghiraukanku. Mama tak lagi menemaniku bermain, mama tak lagi memarahiku ketika aku nakal, bahkan di sudut kamar itu, mama sering menyendiri. Diam, seperti orang linglung. Sesekali aku penasaran mendekat, tapi ia hanya diam, tak menghiraukanku. Mama.. ia tak lagi seperti dulu.

Mama, ada apa dengan Mama? Apa aku nakal, Ma? Aku tak menurut pada Mama? Ayo jawab, Ma? Aku bersedia dihukum. Apa pun itu. asal Mama jangan marah padaku. Aku tak mau Mama tak sayang lagi padaku. Aku tak mau.. aku tak mau iri melihat mereka, Ma. Tak mau..  

Sesuatu yang kutakutkan ternyata terjadi. Ternyata kebahagiaan tak mau lama-lama besama kami. Ia perlahan menjauhiku. Pergi tanpa sudi bertanya aku mau ditinggal atau tidak. Hah egois sekali! Dia pergi begitu saja. Meninggalkan aku dan mama di tempat busuk itu. Apa mungkin kebahagiaan tak nyaman berada di dekatku? Kenapa? Apa sebabnya? Apa yang kulakukan? Aku nakal padanya? Apa pun akan aku lakukan, asal kau jangan pergi.. kau, apa kau tega meninggalkanku dengan mama di sini? Di tempat busuk ini? Atau mungkin kesedihan itu iri melihat aku dengan mama? Ah, jahat sekali. Mengapa harus iri?

Waktu pun semakin merangkak, merangkak, dan terus merangkak. Meninggalkan cerita hangat itu, cerita gadis kecil yang renyah dengan tawa bersama orang tuanya. Cerita gadis kecil yang merasa bagai anak paling bahagia di seluruh dunia. Cerita renyah itu harus berakhir sampai di sini. Hanya sampai di sini.

Kini, hari-hariku telah berubah. Kalau dulu aku sering bermain ditemani mama, sekarang aku lebih sering bermain sendiri. Sendiri, dan hanya sendiri. Aku tidak mau bermain dengan teman-teman. Aku takut mereka juga tak memedulikanku seperti mama yang mungkin lupa bahwa ia punya seorang anak kecil.

Belakangan rumahku ramai, orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku. Mereka menemui mama, mengajak ngobrol mama, namun anehnya mama hanya diam kemudian menangis terisak-isak. Aku tak tahu yang terjadi dengan mama, aku tak mengerti mengapa orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku hanya untuk melihat  mama. Ada yang mereka sebut “Mbah”, ada pula yang mereka sebut “Ki”, aku tak mengerti. Aku seolah dikelilingi oleh makhluk-makhluk bernama kebingungan yang terus saja mengepungku. Aku lelah. Kelelahan itu membuatku tak peduli. Ya, aku terus saja hanyut bersama mainan-mainan busuk yang justru seolah mencibirku.

Keesokan harinya, ketika aku sedang bermain di pelataran rumah. Segerombolan anak-anak kecil sebayaku mendekatiku. Aku pikir mereka mau bermain bersamaku. Membawa sebongkah keceriaan yang lama tak menyapaku. Tapi tebakanku meleset. Mereka.. ternyata mereka hanya mengejekku. Hanya itu, bahkan mereka tak mau tahu bagaimana perasaanku.

“Rumah Sakit Jiwa itu tempatnya orang-orang gila. Kalau mama kamu dibawa ke sana berati mama kamu gila!”

“Nggak!! Mama Ova nggak gila!!! Mama Ova hanya sakit!!! Nggak gila!!!”
“Ova anak orang gila!!! Orang gila! Ayo teman-teman kita pergi saja, takutnya jadi ikut-ikutan gila kaya mama Ova.”

Ejekan teman-teman begitu kejam merajahku, menghantuiku tanpa lelah. Muak aku pada mereka, dan aku tak ingin mengenal mereka lagi. Mereka bilang Rumah Sakit Jiwa itu tempatnya orang gila. Sedang siang ini mama akan dibawa ke sana. Tapi aku percaya mama nggak gila, ia hanya sakit, hanya sakit.

Lihat, Ma. Mereka nakal. Mereka bilang Mama orang gila. Tapi itu salah kan, Ma? Itu nggak bener kan, Ma? Mama nggak gila kan? Nggak. Mama nggak gila. Mama hanya sakit dan perlu diobati. Iyakan, Allah? kata bude, Allah nggak akan pernah bohong. Iyakan, Allah?
Hari berikutnya mama dibawa ke rumah sakit jiwa. Dari balik jendela kupandangi mama dari jauh, perlahan menjauh bersamaan dengan mobil yang dinaikinya. Ada Kakek, Bude, dan Pakde yang mengawalnya.

Sebelum mama pergi, sempat kupandangi wajah mama, tatapannya kosong. Ia bagai boneka hidup, ia tak seperti dulu. Allah... sembuhkan mama Ova...

Tak banyak perubahan yang kudapati semenjak mama pulang dari Rumah Sakit Jiwa. Kata bude, mama ke sana berobat agar bisa menemaniku main ayunan lagi. Tapi kenapa mama belum sembuh? Kenapa mama masih membiarkanku jatuh ketika aku nekad main ayunan sendiri?

Lagi-lagi waktu enggan untuk menungguku, ia beranjak meninggalkanku, sendiri...

“Mama ova baik-baik saja, tapi ia harus pergi ke tempat yang jauh...”
“Tapi benarkan Bude, mama akan baik-baik saja?”
“Ya, mama Ova akan baik-baik saja. Ova harus yakin, dan jangan lupa minta tolong sama Allah agar mama Ova diberi kesembuhan, dan bisa nemenin Ova main ayunan lagi.”

Perkataan bude masih terngiang-ngiang dalam ingatanku. Ya, semoga mama cepat sembuh dan bisa menemani aku bermain ayunan lagi.

Untuk kali keduanya aku melihat mama dibawa pergi oleh sebuah mobil, ada pakde dan kakek yang menemaninya. Mobil itu menjauh, semakin jauh. Kali ini, aku benar-benar merasa tak tahan untuk tak mengejarnya. Aku meronta sekuat tenaga melepaskan dekapan bude. Aku ingin lari, mengejar mobil kijang itu. Aku ingin memeluk  mama, aku ingin cium kening mama, aku tak ingin mama kesepian di sana. Namun usahaku sia-sia, dekapan bude terlalu kuat untuk aku dapat melepaskannya. Aku hanya bisa menangis, menangis sejadi-jadinya, hingga suaraku parau dan nyaris hilang. Sesaat kemudian semua menjadi gelap. Rupanya aku tak sadarkan diri. Mungkin karena energiku terlalu terkuras.

Kejadian itu masih lekat dalam ingatanku, ketika mama dibawa oleh sebuah mobil kijang ke tempat yang jauh. Bude bilang mama akan dibawa ke sebuah pondok. Entah pondok apa itu. Aku tak tahu.

Setelah kejadian itu, aku tinggal bersama Bude di Semarang. Meski dididik benar oleh mereka, dengan kasih sayang layaknya orang tua pada anaknya, namun itu semua tidak cukup untuk aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, terlebih ibu kandugku. Ada yang lain, yang tidak bisa kuterjemahkan dalam bait-bait kata. Dan itu semua membuatku tumbuh berbeda dengan gadis lain seusiaku. Aku tak suka bergaul. Menarik diri dari mereka aku pikir jauh lebih baik. Aku tidak mau diejek lagi, seperti teman-teman kecilku dulu mengejekku. Cukup, aku tak ingin diejek mereka. Lagi.

Kini, semua tak ada yang menarik. Hura-hura seperti kebanyakan remaja, apa senangnya? Mereka sama saja. Tak mau tahu. Hanya bisa mengejek. Tak ada yang mengerti aku. Tak ada. Lalu, apa Engkau juga? Tidak kan? Mungkin hanya Engkau yang mengerti. Mungkin hanya Engkau.. dan memang hanya Engkau yang mengerti.

Waktu.. ia selalu saja memaksaku beranjak dari masa ke masa. Tanpa mau tanya, aku mau atau tidak. Hari ini, usia sembilan belas tahun. Rupanya kakiku tengah menginjak bumi Universitas. Hah, bahkan aku tak sadar kini aku bukan anak kecil lagi. Ya, yang aku tahu aku masihlah seorang gadis kecil yang begitu ingin dimanja oleh ibunya. Gadis kecil yang begitu ingin disuapi ibunya. Gadis kecil yang begitu ingin merengek minta dibelikan es krim. Gadis kecil yang begitu ingin main ayunan bersama ibunya di belakang rumah dan membuat iri anak kecil lain. Gadis kecil yang ingin merasakan bagaimana rasanya dijewer seorang ibu ketika nakal. Ya, aku gadis kecil itu. Gadis kecil sembilan belas tahun. Allah, izinkan mama kembali bersama kami di sini...

Oleh:
Ira Damayanti, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes), Pegiat Forum Lingkar Pena Ranting Sekaran, Staf Departemen Hubungan Masyarakat (Humas)KAMMI Unnes.


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger