Home » » Cintaku Ditelan Teroris

Cintaku Ditelan Teroris

Written By Agus Subkhi Hermawan on Tuesday, 25 June 2013 | 6/25/2013 10:44:00 pm

Raja Dachroni 
Siti termenung kaku di kamarnya setelah orangtuanya menolak Ferry sang pujaan hati sebagai calon menantunya. Dalam diam dia ternyata sudah empat tahun berpacaran dengan Ferry. Baru hari itu ia memberanikan diri membawa Ferry ke rumahnya selama empat tahun berpacaran secara rahasia. Hebatnya, selama ini tiada seorang pun yang tahu. Termasuk kedelapan saudara kandungnya. Hingga keinginan untuk menikah itu semakin membuncah. Tak bisa ditahan-tahan lagi. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Terbukalah kedok kedua sejoli ini.

Kendati demikian, semangat mereka untuk menikah bukan karena Siti tengah berbadan dua seperti lazimnya pernikahan sebagian anak muda masa kini, tapi mereka sadar mereka tidak ingin terlarut dalam dosa karena selama ini meski empat tahun berpacaran mereka masih menjaga interaksi. Pacaran versi mereka memang punya cirri khas. Tidak ada malam mingguan. Tidak wajib ketemu setiap hari. Hanya pesan singkat yang rutin setiap pekan. Pun tidak setiap hari.

Maklum, Siti menyadari dia memiliki cukup banyak saudara kandung yang taat sekali beragama. Rajin mengikuti taklim dan gerakan dakwah yang memegang Alquran dan Sunnah sebagai argumentasi dalam menjalani hidup dan kehidupan mereka. Sehingga, wajar kemudian dia ekstra hati-hati agar tidak ketahuan oleh saudara kandungnya. Kalau sempat ketahuan, pasti dirinya akan menerima banyak ceramah dari saudara-saudara kandungnya itu. Dan itu terbukti. Selama empat tahun tidak seorangpun dari delapan saudara kandungnya dua saudara prianya dan enam saudara perempuannya. Dan, sepertinya Siti harus mengurungkan niatnya untuk menikah tahun ini.

***
 Rosminah ibu Siti bukan tanpa alasan menolak lamaran Ferry. Saat Siti mengungkapkan perasaannya ingin menikah kepada kedua orangtuanya, Rosminah langsung  melakukan tindakan intelejen sederhana. Menelusuri bagaimana keluarga Ferry. Bagaimana pergaulan Ferry di lingkungannya. Walhasil Rosminah menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sulit untuk diterimanya. Suatu ketika tidak sengaja dia bertanya kepada tetangga tempat Ferry tinggal.

“Gimana dengan keseharian Ferry di lingkungan ini bu,” tanya Rosminah kepada seorang ibu yang kebetulan bertetangga dengan Ferry.

“Biasa-biasa saja bu, tapi saya anehnya dia itu jarang sekali salat lima waktu di masjid terdekat. Dia tetap salat berjamaah bu, tapi sangat jauh sekali di masjid kampong sebelah,” kata seorang ibu yang ditanyai Rosminah.

 “Ibu tahu banyak tentang Ferry?” tanya Rosminah.

“Kenal betul sih nggak, tapi setahu saya dia itu ikut tergabung dalam sebuah gerakan jihad begitulah disini. Hobinya bikin sweeping di tempat-tempat maksiat tapi bukan FPI ya bu. Mungkin dia juga bagian dari anggota teroris yang suka bom-bom itu bu, prilakunya agak aneh memang,” masih ungkap seorang ibu yang ditanyai Rosminah.

 “Astargfirullah, apakah ini calon menantuku, aku tak terima dan tak setuju ya Allah,” batin Rosminah bergumam sembari tercengang.

“Kenapa   bu?” tanya ibu yang diwawancarai Rosminah tadi.

“Ndak kenapa-kenapa bu,” jawab Bu Rosminah.

Rosminah pulang ke rumahnya dengan keadaan yang kusut. Lemah tak berdaya. Kehilangan semangat. Suaminya yang tengah menyeruput secangkir teh dan roti tawar pun merasa aneh dengan sikap Rosminah yang tidak seperti biasanya itu.

“Ada apa bu, kok lesu begitu?” tanya Slamet suami Rosminah.

“Tadi saya dari rumah tetangganya Ferry, Mas!” jawab Rosminah.

“Lalu!” sergah Slamet.

“Waktu saya ke rumah tetangganya Ferry saya mendapatkan testimoni buruk mas tentang Ferry, Ferry itu dekat dengan kelompok yang hampir-hampir mirip dengan paham teroris yang sering kita sering lihat di televisi,” ujar Rosminah.

“Jangan dipercaya dulu, tunggu aja Ferry ke rumah. Siti dari tadi saya lihat termenung terus,  kita jangan vonis yang macam-macam dulu. Mudah-mudahan mereka berjodoh. Walau kita memang belum tahu Ferry itu seperti apa sebenarnya,” ujar Slamet menenangkan perasaan Rosminah.

“Tapi, gimana pak ya, kok perasaan saya agak kurang enak begitu. Seolah-olah apa yang dikatakan tetangganya Ferry itu benar semuanya,” kata Rosminah.

“Ah kamu jangan terlalu mudah percaya dengan perasaan, kita tunggu saja Ferry datang ke rumah,” jawab Slamet menenangkan istrinya.

***

Sepekan kemudian. Ferry bertandang ke rumah Siti menjumpai kedua orangtuanya untuk silaturahim. Siti yang bersembunyi di kamar tampak bahagia hari itu. Dia berharap Ferry bisa mengambil hati kedua orangtuanya waktu itu.

“Gimana kabarnya, Pak?” tanya Ferry sembari mencium tangan ayah Siti.

“Alhamdulillah sehat, silahkan duduk nak,” jawab Slamet.

“Ibu dimana?” tanya Ferry lagi.

“Ada di belakang tadi, kayaknya baru siap masak,” jawab Slamet.

Tak lama kemudian. Rosminah datang, perasaan Ferry semakin gugup. Raut wajahnya agak kemerah-merahan. Dia merasa akan banyak interogasi yang akan dilayangkan oleh kedua orangtua Siti.

“Gimana kabar orangtuamu?” tanya Rosminah.

“Ibu dan bapak di rumah, Alhamdulillah sehat walafiat bu,” jawab Ferry sedikit gugup.

“Kamu serius dengan Siti?” tanya Rosminah tanpa basa-basi.

“Insya Allah serius bu,” jawab Ferry masih gugup.

“Serius kok pake Insya Allah, berarti belum serius,” kata Rosminah dengan nada menyindir.

Ferry terdiam sejenak. Rasa gugup membuat akalnya mati untuk berargumentasi. Siti yang diam-diam mendengarkan pembicaraan Ferry dan kedua orangtuanya di dalam kamar pun merasakan ada yang aneh dengan Rosminah. Padahal, diawal-awal Siti menceritakan niat Ferry ingin silaturahim ke rumah tidak sedikit pun tanda-tanda ketidaksenangan Rosminah terhadap Ferry. Ibunya bahkan lebih banyak tersenyum. Jelas iini sikap yang membingungkan Siti.

“Terus terang, sepekan yang lalu sebelum kamu kesini ibu iseng-iseng main ke kampungmu, ibu dapat informasi katanya kamu itu ikut ke kelompok atau barisan jihad gitulah, mirip dengan kelompok teroris?” tanya Rosminah ingin mengklarifikasi.

Ferry terdiam sejenak. Tak menyangka Rosminah sudah sejauh itu menggali informasi tentangnya.

“Terus terang, ya bu,” jawab Ferry tanpa basa-basi. Rosminah menjelingkan sepasang bola matanya kepada Slamet. Pembicaraan pun semakin menghangat.

“Bagaimana menurut pandanganmu tentang paham terorisme yang dibawa mereka?” tanya Rosminah.

“Saya menganggapnya itu bukan teroris bu, mereka adalah pahlawan sejati-jatinya pahlawan dalam memerangi kemaksiatan,” bantah Ferry.

“Kalau sweeping dan ngebom itu pahlawan ya namanya,” sindir Rosminah.

“Ya, bagi saya mereka adalah pahlawan. Kan dalam sebuah hadist disebutkan bahwa apabila kamu melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tanganmu, apabila kamu tidak sanggup maka cegahlah dengan lisanmu, apabila kamu masih tidak sanggup cegahlah dengan hatimu. Nah, saya pikir mereka imannya tidak lemah maka kami sering mencegah kemungkaran dengan tangan dan kekuatan,” ujar Ferry memberikan argumentasi.

“Kamu sering ikut-ikutan?” tanya Rosminah.

“Kalau mereka sweeping dan kebetulan saya lagi nggak kerja, biasanya saya juga ikut bu,” ujar Ferry dengan bangganya.

“Astargfirullah, kok bisa kamu ketemu pria macam ini Sit,” ujar Rosminah membatin sembari menghela nafas.

Mendengar jawaban-jawaban Ferry,  Slamet pun mengernyitkan keningnya. Seolah-olah Slamet tak percaya dengan barusan apa yang didengarnya. Rosminah segera meninggalkan ruang tamu. Ferry tercengang dengan sikap Rosminah dan dia juga masih tetap tidak sadar bahwa jawaban-jawabannya sudah membuat Rosminah kecewa. Slamet pun menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan.

“Saya salah pak ya?” tanya Ferry kepada Slamet.

“Mungkin, lebih baik kamu pulang saja,” jawab Slamet.

Tanpa banyak bicara, Ferry pun langsung beranjak pulang. Tak lama setelah itu, Siti pun keluar dari kamar. Duduk di ruang tamu. Rosminah dan Slamet segera menghampiri.

“Kamu ketemu dimana pria itu?” tanya Rosminah.

“Itu sepupunya teman bu,” jawab Rosminah.


“Terus terang bapak dan ibu tidak menyukainya bukan karena wajahnya atau bukan karena dia anak orang miskin atau orang kaya, tapi watak teroris yang ada di dalam pikirannya itu tidak bisa ibu terima, kamu mau jadi janda muda kalau Ferry nanti sweeping terus dibantai warga lalu tewas” kata Rosminah.

Siti kaget. Tak percaya. Pasalnya, Ferry tak pernah terus terang terkait masalah yang dibicarakan kedua orangtuanya tadi. Hal-hal yang sudah direncanakannya dipastikan gagal seratus persen. Bagi Siti restu kedua orangtua adalah segala-galanya walau dia sudah benar-benar cinta kepada Ferry. Kendati demikian, dia masih belum bisa menerima keputusan kedua orangtuanya. Dia bergegas masuk ke dalam kamarnya kembali dan menangis sejadi-jadinya.

Karya :

Raja Dachroni , Aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Kepulauan Riau dan Direktur Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis (GKGM) (@Dachroni on twitter)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger