Home » » Selayang Pandang Manhaj KAMMI

Selayang Pandang Manhaj KAMMI

Written By Agus Subkhi Hermawan on Thursday, 2 May 2013 | 5/02/2013 01:21:00 pm


Forum diskusi kecil yang semakin hangat, bertukar pikiran, bersatu padu menyatukan ide untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Diskusi dilanjutkan forum dalam ruang yang jauh lebih resmi. Tempatnya di daerah Sukabumi di situgunung. Akhirnya tim kecil tersebut menghasilkan rumusan yang dibawa ke Muktamar KAMMI di samarinda. Rancangan tersebut menyebutkan “muslim Negarawan” adalah sebagai orientasi kaderisasi nasional.

Terdapat tiga perspektif terhadap dalam “Muslim Negarawan”. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, perspektif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islami. Ketiga, Perpektif kekinian atau Waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.

Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepimimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagi strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash AL Qur’an, KAMMI merunjuk pada QS. Al Hajj 41 [2].

Ada empat hal yang bisa diambil dalam yat tersebut, keempat hal itu antara lain :
  • Kesederhanaan dan kokoh dalam Hubungan Transendental
  • Menciptkan keadilan dan Kesejahteraan Sosial
  • Progresif dalam Kebijakan Produktif
  • Tegas dalm Kebijakan Preventif.

Dalam tujuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan negara ini sedang menglami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, Berdapak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. Saat ini mencari tokoh-tokoh muda sekaliber soekarno maupun Natsir dizamannya bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perpektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideology yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan [3]. Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI [4].

Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI ?… …

Organisasi pergerkan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut tersusun dari empat lapisan, yakni : basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan  atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man poweer gerakan tersebut.

Semakin keatas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin kebawah semakin banyak. Bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.

Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan didalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sitematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena prose pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. “ Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingktan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)[5].

KAMMI merupakan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasr adalah qoidah harakiyah [6] kemudian Qoidah fikriyah [7] dan yang paling tinngi adalah Qoidah Siyasiyah [8].

Pola Umum Kaderisasi

Secara operasional, pola yang dikembangkan oleh KAMMI dimulai dengan dauroh rekrutmen yang lebih dikenal dengan Dauroh Marhalah 1 (DM 1). Proses tersebut berlanjut dengan program Madrasah KAMMI ( MK 1) yang memiliki dua pola yaitu klasikal dan khusus (halaqoh). Selain mengikuti MK 1, Kader KAMMI eks trainee DM 1 mendapatkan suplemen lain [9]. Setelah itu setiap kader mengikuti proses sertifikasi kader yang akan menentukan kelulusan. Kelulusan ini akan menentukan karier kader dalam marhalah gerakan. Setelah mendapatkan sertifikasi AB 1, maka kader dipersilahkan mengikuti Dauroh jenjang ke dua yaitu Dauroh Marhalah 2 (DM 2). Proses yang dilakukan setelah itu mengulang seperti yang jenjang kader 1 (AB 1)[1]. Dan untuk jenjang yang ketiga, kader akan melewati Dauroh Marhalah  (DM 3)[11]. Dengan pola yang demikian, diharapkan seluruh prasyaratan-prasyratan yang harus didapatkan seorang kader hinnga terwujud profil muslim negarawan dapat di capai.



Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger