Home » » Resign Kehidupan

Resign Kehidupan

Written By Redaksi KAMMI on Tuesday, 7 May 2013 | 5/07/2013 07:59:00 pm



601812_496404150427128_1303120065_n
Oleh : Sofistika Carevy Ediwindra (Sekretaris Umum KAMMI Komisariat Madani)

Hidup Anda begitu penat? Anda merasa segala sesuatu kacau dan tak sesuai dengan rencana? Atau bahkan Anda berada pada posisi di mana tak ada jalan keluar dari ‘masalah besar’ dan kesedihan yang dihadapi ? Saat seperti itu, dorongan kuat untuk berhenti pasti menjadi hal yang menggelayuti diri kita. Ya, rasanya seperti ingin resign (berhenti) saja dari kehidupan ini.
Mungkin kita seorang aktivis mahasiswa, guru, atau apapun profesi dan posisinya. Kita orang yang menyadari hakikat hidup muslim yakni beribadah, berdakwah, bergabung dalam jamaah. Waktu, tenaga, pikiran, harta,kita gelontorkan untuk bagaimana menjadikan diri dan masyarakat hadapan kita baik. Lelah memang tak jarang mampir. Hasrat pribadi akan mimpi dan pencapaian diri seolah tak lagi diberi ruang. Dalam hati kita bertanya, kapan waktu saya melakukan hal yang saya hobikan satu ini? Kapan saya bisa memulai memikirkan diri pribadi? Kapan ini dan itu..
Ketika penat merambat, memang pragmatisme untuk ‘mulai’ memikirkan diri sendiri menyergap. Ya, toh dengan sendiri kita bisa lebih leluasa untuk mengatur diri kita. Kita lebih memiliki waktu untuk mengenyam sebanyaknya hal yang ingin kita kerjakan. Segalanya yang tak jauh dari ‘aku’ secara pribadi.
Tak sepenuhnya salah memang kehadiran perasaan seperti itu. Namun, kewajaran ini bukan sebagai hal yang layak untuk dilenggangkan oleh manusia pejuang. Bagaimana kiranya jika Rasulullah SAW berhenti saat beliau dilempari kaum Thaif? Bagaimana jika Musa menyerah saat menghadapi ke-‘bandel’-an Bani Israil? Bagaimana pula jika Muhammad al Fatih mundur dari upaya heroiknya menaklukkan Konstantinopel?
Mereka, tak diragukan lagi, adalah manusia pejuang. Kita jelas bukan mereka dan jauh dari keluarbiasaan yang mereka nisbatkan pada Islam.Namun demikian, hal itu bukan excuse yang layak dilontarkan oleh manusia pejuang. Kita berjuang di zaman kita untuk menaklukkan aneka pemikiran sekulerisme, plurlisme, dan liberalisme yang menggerogoti akidah umat perlahan namun pasti. Kita pejuang yang tengah menumbuhkan semangat dan kepercayaan masyarakat akan Islam. Kita adalah pejuang yang tengah mengkonsistenkan pendidikan Islam pada pemuda dan masyarakat. Kita pejuang di zaman kita.
Resign adalah kata terakhir atau bahkan semestinya tak ada di kamus manusia pejuang. Penurunan semangat, munculnya masalah dalam jamaah atau diri adalah dinamisasi yang patut disyukuri. Bukankah kita bisa merasakan kenyang dan nikmatnya makan setelah beraktivitas dan lapar? Ujian kehidupan yang sering mendorong kita untuk resign sejatinya adalah tanda bahwa kita tengah berproses. Akan tiba masanya kita menuju puncak yang dijanjikan. Akan tiba waktunya manusia pejuang dapat menuai apa yang ditabur dalam kehidupannya.
So, say no to resign!
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger