Home » » Pendidikan Di Persimpangan Jalan

Pendidikan Di Persimpangan Jalan

Written By anton saputra on Thursday, 2 May 2013 | 5/02/2013 10:36:00 am

Tugas seorang intelektual bukan untuk mengubah dunia,tetapi untuk setia keada suatu cita-cita yang perlu dipertahankan demi moralitas manusia. Cita-cita itu adalah keadilan (La Justice), kebenaran (LA Verite) dan rasio (La Raison). 
Julien Benda

Universitas pada awalnya didirikan untuk menjadikan manusia lebih manusia, dengan adanya universitas diharapkan proses pendidikan dan perkembangan manusia menjadi seimbang, dalam artian selain perkembangan fisik, manusia juga memerlukan perkembangan pribadinya.   Perkembangan untuk menjadi pribadi manusia yang dewasa, bermoral, intelektual, kritis, dan juga independen dalam tugas sebagai manusia dan warga masyarakat (negara).


Ketika universitas hanya diarahkan untuk menunjang pembangunan dengan hanya menghasilkan tenaga kerja siap pakai, maka orientasi pendidikan jelas menjadi kabur dan akhirnya hilang. Tugas kemanusiaan yang diemban oleh universitas jelas tidak bisa disempitkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat seperti pemenuhan lowongan pekerjaan atau mencetak tenaga terampil siap pakai. Proses penciptaan tenaga terampil lewat mekanisme SKS, penyeragaman pola pikir, otoriter, indoktrinasi dan sebagainya. Itulah yang dinamakan pendidikan model pabrik. karena manusia disamakan dengan sebuah komoditi barang yang harus diproduksi secara seragam tanpa direnungkan apakah produk tersebut bernilai guna atau tidak. Jika berguna jelas sangat dibanggakan, jika tidak berguna bukankah masih bisa diloakkan?

Ketika pendidikan tinggi diarahkan semata-mata untuk diletakkan sebagai subordinat dalam sistem kebijakan pemerintah. itu berarti putusan arah dan tujuan pendidikan diambil negara. dengan demikian, dunia pendidikan menjadi tidak berdaya untuk menentukan arah orientasinya, tidak memiliki otonomi kelembagaan, dan tidak memiliki kebebasan akademik. Bahkan semakin lama, intervensi pemerintah dalam persoalan internal kampus, baik kampus negeri maupun swasta sangat luar biasa. Dunia pendidikan pada gilirannya tidak akan pernah sanggup mengekspresikan identitasnya yang sebenarnya. Wacana kebenaran, keadilan, intelektualitas secara perlahan digeser oleh pola pikir seragam, lulus cepat, pragmatis dan seabrek propaganda lainnya yang pada gilirannya sanggup mengaburkan makna pendidikan. kaum intelektual dan para pemikir pendidikan juga semakin susah memposisikan diri dalam dunia pendidikan. mereka semakin terjepit dalam gerak pembangunan,hingga tidak ada pilihan lain selain ikut berkompromi dan beralih untuk memikirkan cara terbaik melayani dan memenuhi lapangan kerja yang ada dipasar. Sehingga selama ini, ukuran keberhasilan pendidikan dievaluasi berdasar kondisi fisik yang tampak yaitu “berapa banyak lulusan yang dihasilkan, berapa cepat waktu studi, dan sejauh mana lulusan yang sudah bekerja”. Ukuran kualitas manusia menjadi sulit untuk dipahami. Dan akhirnya visi dan misi pendidikan menjadi kabur. Bahkan hilang diganti pembenaran-pembenaran baru. hingga berlakulah dalil yang mengatakan bahwa “sebuah kebohongan dan kesalahan jika dilakukan dan dikabarkan secara sistematis dan terus menerus kadang menjadi kebenaran, dan kejujuran baru”. 

Pengaburan makna pendidikan jelas makin nampak. Lulusan perguruan tinggi semakin lama bukan lagi lulusan yang kritis yang siap menggunakan otaknya untuk belajar kehidupan yang rasional, melainan manusia yang memiliki simbol kesarjanaan. Bukan kemampuan akademik yang dijual oleh para sarjana, melainkan ijazah yang lebih dibanggakan. dan juga pemikiran dari seseorang yang hanya tahu bidangnya sendiri, sempit wawasannya, dan tidak pernah paham relasi antar disiplin ilmu sebagai akibat kebiasaan berfikir dan berprilaku pragmatis. Gambar yang terlihat bukan lagi universitas, yang mengakomodasi berbagai bidang ilmu yang saling berkaitan melainkan sebuah universitas yang terdiri dari kumpulan disiplin ilmu yang terkotak-kotak secara tajam. Yang diistilahkan sebagai multiversitas.

Dan pendidikan tidak lepas juga dari sistem kapitalisme yang membalik kenyataan dan mengasingkan manusia dari dunianya sendiri. Pendidikan dalam sistem kapitalis tidak bisa dilepaskan dari prinsip dasar kapitalisme sendiri. Bahwa segala sesuatu adalah modal atau komoditi yang harus menghasilkan nilai lebih. Begitu juga dengan mahasiswa, bagi kapitalisme adalah ‘komoditi’ yang harus ditolak atas dasar kepentingan pasar. Dengan kenyataan seperti ini, tidak perlu heran jika kurikulum pendidikan, jurusan di universitas, disesuaikan dengan kepentingan kapitalisme, atau dengan kata lain mahasiswa tidak diberi hak untuk memilih karir, bidang studi dan disiplin ilmu yang mereka kehendaki yang berhubungan dengan keahlian dan kebutuhan mereka.

Jelas sekali disini tujuan pendidikan sangat praktis, hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya mahasiswa dipaksa untuk memilih jurusan tertentu yang memang dibutuhkan pasar,terlepas apakah sesuai dengan keinginannya, dan apabila mencoba melawan arus yang telah ditentukan oleh kapitalisme, maka harus bersiap-siap menjadi pengangguran.logika yang sangat dangkal.

Pola kapitalis yang pragmatis ini mau tidak mau  memperngaruhi pola pikir masyarakat. Orang tua akan lebih senang anaknya masuk universitas favorit, dengan jurusan favorit yang lulusannya cepat kerja, atau lebih senang dan bangga kalau anaknya bergelar insinyur daripada bergelar sarjana hukum. Maka tidak heran kalau mahasiswa atau orang tua hanya mengejar gelar atau ‘pasar kerja’. Daripada menjadikan pendidikan sebagai sarana ‘pembebasan’, baik bagi dirinya maupun bagi kemanusiaan. Maka jangan heran kalau lulusan universitas menjadi tidak mempunyai hati nurani, kaku dan kejam, berbuat amoral, suka melakukan KKN, karena mereka memang dipersiapkan untuk itu. Mereka dididik di menara gading yang dikelilingi tembok tinggi hingga terasing dengan lingkungan sekitarnya. Sistem pendidikan kapitalis juga mengekang keterlibatan mahasiswa dalam dunia politik,dengan alasan klasik,bahwa tugas mahasiswa hanyalah belajar dan belajar, sedangkan urusan politik diserahkan saja pada negara.

Orientasi pembangunan ekonomi mengakibatkan minimnya sebsidi untuk pendidikan.sebagian besar dana APBN dialokasikan untuk sektor-sektor yang bisa mempercepat naiknya angka pertumbuhan ekonomi. Padalah tidak bisa dipungkiri pendidikan yang baik jelas membutuhkan dana. Yaitu dana untuk dosen agar perhatiannya tidak terpecah, dan dana pengadaan perangkat keras pendidikan (dengan prioritas misalnya untuk; perpustakaan, laboratorium, dsb). Minimnya subsidi pendidikan mengakibatkan masyarakat dalam membiayai pendidikan semakin meningkat.

Mahalnya biaya pendidikan mengakibatkan semakin sulitnya masyarakat kelas bawah untuk menikmati pendidikan tinggi yang memungkinkan mereka terlibat dalam upaya perubahan struktur sosial masyarakat.kesenjangan sosial yang ada dalam struktur masyarakat ternyata berdampak munculnya dominasi dari kelompok menengah atas untuk memanfaatkan fasilitas yang ada. Otomastis lapangan kerja nantinya hanya bisa dinikmati oleh mereka kalangan pendidikan menengah ke atas yang notabene produk lulusan perguruan tinggi. Disinilah tampak peran sistem pendidikan tinggi dalam proses melanggengkan struktur masyarakat yang menindas, dan mendukung terwujudnya sebuah komunitas sosial yang asing dengan masyarakat bawah (menara gading). Oleh perguruan tinggi kesenjangan sosial malah semakin lebar, bukan malah dipersempit. Ini terjadi karena perguruan tinggi hanya ikut dalam sistem dan struktur sosial yang ada, dan hanya menunda konflik-konflik sosial lanjutan.

Oleh karena itu reformasi pendidikan harus kita mulai saat ini, reformasi terarah menuju tatanan sistem pendidikan yang memanusiakan manusia. Komunikasi antar sivitas, hukuman bagi yang bersalah, mengganti tatanan yang bobrok, melawan struktur yang menindas, terus menggali kebenaran, mencari pencerahan, mungkin adalah pilihan tindakan lokal kampus yang bisa kita mulai, menuju perbaikan global sistem pendidikan. Justru jika berfikir tentang globalisasi, persiapkan manusia sejati. Bukan sekedar menampilkan simbol globalisasi, karena jika itu yang kita kerjakan berarti kita sedang bermimpi. Dan tentu saja kita akan kebingungan jika bangun dari tidur. Yang jelas, “menyadari adanya realitas yang tidak benar adalah hal yang baik, meneriakan ketidak benaran jauh lebih baik”. Namun, tetap yang terbaik adalah “bertindak melawan ketidakbenaran!!”.
Hidup Mahasiswa!!

“....dalam keterasingan uang,
Pembalikan tatanan manusiawi dan alami
Terlihat makin jelas:
Yang seharusnya menjadi alat, uang menjadi tujuan,
Dan yang menjadi tujuan,manusia menjadi alat...”
-Moses Hess (1812-1875)-

Oleh: Andi Pratama_Kadep KP KAMMI DAERAH SEMARANG
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

2 May 2013, 22:26:00

klise banget, persoalan-persoalan terkait dunia pendidikan belum rampung jadi garapan... saya heran, pendidikan di masa sekarang 'resiprokal' sekali dengan masa jadoel...

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger