Home » » Mosaik di Hari Pertama

Mosaik di Hari Pertama

Written By anton saputra on Thursday, 9 May 2013 | 5/09/2013 03:21:00 am


I
Akhirnya kami berdiri di depan sebuah Gapura besar bertuliskan Youth Center Yogyakarta. Ya, sebuah tempat pelatihan yang biasa diperuntukan bagi generasi muda beraktivitas meng-upgarade potensi diri. Agak ke dalam, terlihat tempatnya cukup luas dengan bangunan-bangunan berderet memanjang dengan halaman-halaman yang luas berserta rerumputan yang menghijau.

Hari itu menunjukan pukul 17.40 WIB. Cakrawala di langit sudah terlihat remang. Mentaripun kian tenggelam merubah keadaan menjadi malam. Tetapi suasana didalamnya masih terlihat ramai. Para pemuda yang tidak kami kenal dengan kemeja putih dan celana bahan hitam memenuhi ruangan. Entah apa yang sedang mereka lakukan kami belum tahu. Yang pasti jumlahnya sangat banyak.
Sejenak kami berdiam diri dalam keadaan ramai tersebut. Menikmati keadaan yang baru kami saksikan itu sambil berusaha mencari-cari tahu dimana ruangan bagi acara yang diperuntukan bagi kita. Tetapi, jika kami menunggu agar ada yang memberi petunjuk, sepertinya akan memakan waktu lama dan sia-sia saja mondar-mandir di tempat asing itu. Akhinya kami tidak ingin membuang waktu begitu saja dan berlama-lama menjadi pengamat keadaan. Segera saja kami menelusuri dan mencari tahu informasi mengenai ruangan yang diperuntukkan bagi anak-anak KAMMI menyelengarakan pelatihan Dauroh Marhalah III.
Tidak lama kemudian kami menemukan dan sekaligus yakin bahwa orang yang sedang sibuk mempersiapkan atribut dihadapan kita itu adalah panitia yang kami maksud. Pasalnya dalam spanduk itu terdapat gambar logo KAMMI. Akhirnya, langsung saja kami menyapanya dan berdialog singkat mengenai kemana dan apa yang harus kita lakukan di hari yang pertama ini. Ya, seperti biasa panitia pun melakukan dialog dengan kita. Dialog umum yang sering dipakai jika bertemu seseorang yang baru di kenalinya. Dari mana, kapan, siapa, bagaimana. Ya seputar itu.
Lalu, salah seseorang dari panitia mengantarkan kami yang baru tiba itu ke sebuah ruangan besar. Didalamnya terdapat banyak deretan dipan-dipan dua tingkat berserta kasurnya telah berjejer rapi.
Kami diperintahkan menempati salah satu dipan yang masih kosong. “silahkan akh tempati saja yang dipan yang antum mau, tempati saja yang masih kosong” begitu katanya. Dipan-dipan hampir semuanya telah terisi penuh. Lalu kami menyusuri satu persatu dipan itu dengan saksama. Alhamdulillah, ternyata masih ada beberapa dipan yang kosong. Segera saja kami menempatinya. Ruangan itu masih terlihat sepi sekali. Lalu kemana orang-orangnya?
Kami-pun segera merebahkan diri. Dipan dan kasur itu begitu menggoda kami untuk menempatinya. Maklum, hampir 2 jam lebih kami duduk diatas motor. Tubuh ini pun berasa kaku semua. Tetapi kami harus menerima apa adanya. Ruangan itu begitu panas. Tidak ada AC dan kipas angina. Benar-benar panas sekali. Para peserta dari berbagai tempat-pun telah berdatangan. Sebagian besar sudah pada rapi. Tetapi sebagian juga ada yang baru sampai. Nah peserta yang rapi itu teryata telah sejak sore sampai dan mereka baru saja melakukan aktivitas shalat magrib berjamaah. Sejenak kami saling memperkenalkan diri untuk mencairkan suasana. Ternyata peserta dating dari bebagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Aceh, Palembang, Lampung, Subang, Semarang, dan Yogyakarta. Mereka kebanyakan putra-putra daerah yang sedang berkuliah di Jawa. Ya, sekitar 15 menit kami menghabiskan waktu untuk saling berkenalan, istirahat, dan melakukan bersih-bersih diri. Pembukaan hari pertama dimulai pada pukul 20.00 WIB.
II
Waktu telah menunjukan pukul 20.00 WIB. Kami semua digiring menuju satu ruangan yang agak jauh dari keramaian. Ruangan itu berukuran luas, lantainya masih terlihat agak kotor, dan masih berdebu. Sepertinya ruangan itu belum dibersihkan oleh panitia. “Kok Kotor sekali ruangannya?” mungkin pertanyaan itu ada dalam benak teman-teman semua peserta. Hanya saja kami semua tidak terlalu mempermasalahkannya ke permukaan. Mungkin saja memang panitianya sedang dalam proses mempersiapkan acara. Toh spanduk, LCD, yang tadi kami lihat di ruang depan baru dipasang setelah kami berkumpul diruangan baru itu. Posisi perserta menghadap ke Timur, ikhwan berada dibagian sebelah kanan, dan akhwat berada dibagian kiri. Saya, Rojab, dan Budi duduk dibarisan paling depan bagian ikhwan.
Segera, setelah semua peserta berkumpul, salah seorang panitia yang bertugas sebagai MC membuka acara dan memperkenalkan diri kepada seluruh peserta. Menanyakan dari mana saja peserta berasal dan secara umum memberikan informasi seputar keberlangsungan acara dari hari pertama hingga hari terakhir. Selanjutnya, SC acara dipersilahkan memberikan sambutan dan sekilas memberikan arahan-arahan kepada peserta. Seorang akhwat berjilbab warna hijau muda berkacamata maju kedepan dan memberikan arahan-arahan kepada para peserta. Ia sekilas memaparkan bagaimana seharusnya sikap seorang kader KAMMI berdasarkan jenjang kaderisasinya. Suaranya tegas, kata-katanya mantap. Kira-kira Hampir 10 menit ia habiskan waktu untuk memberikan sambutan itu kepada para peserta. Setelah itu dilanjutkan oleh sambutan oleh ketua KAMWIL Jogja, entah siapa namanya, saya lupa. Dalam sambutannya beliau memberikan semacam arahan, motivasi, dan taujih singkat. Beliau mengutip pendapat seorang filsuf Jerman Habermas mengenai Zietgiest (Jiwa Zaman). Ya jiwa zaman. Rupanya beliua ingin sekilas memberikan gambaran megenai jiwa zaman yang harus secara cermat ditangkap oleh kader-kader KAMMI dari waktu ke waktu. Agar gerakan KAMMI selalu sesuai dengan jiwa zaman. Sekilas juga ia memberikan pengalamannya mengenai jiwa jaman pada masanya yang telah mengalami banyak perbedaan dengan jiwa zaman beberapa tahun terakhir ini yang dari waktu kewaktu bergulir begitu cepat.
            Setelah itu, acara di pandu oleh seorang MOT (Master of Training) yang lumayan humoris. Dengan gurauannya yang “koplak”, suasana-pun menjadi lebih cair. Interaksi antar sesama peserta-pun menjadi saling terbangun.
MOT memberikan kesempatan kepada para peserta bernostagia sejak kapan para peserta mulai mengenal KAMMI dan bagaimana perjalanan mereka mengikuti Dauroh Marhalah I,II, hingga sampai mengantarkannya mengikuti DM III.
Pengalaman para peserta begitu beragam dan sering kali mengundak decak tawa. Misalnya Budi, peserta dari Kudus (KAMMI Daerah Semarang). Ia ia tertarik mengikuti DM I karena menginginkan memilikisebuah komunitas. Kemudian ia tertarik mengikuti DM II dan nekat ikut DM III, karena didorong oleh  rasa penasaran. Lain lagi dengan Ukh Tika perserta dari Lampung. Ia punya alasan tersendiri yang berbeda dengan Budi. Ia tertarik ikut DM I karena didorong oleh keinginan ingiin berubah. Sedangkan untuk DM II  dan III, ia mengikuti saja alur kaderisasi sebagai mana yang diatur dalam manhaj. Dengan kata lain, ia ikut aturan main proses kaderisasi dalam organisasi KAMMI.
Selain itu berbeda pula dengan Zuldan, Mahasiswa Keperawatan UNY angkatan 2008 ini memiliki alasan yang beberda. Ia tertarik ikut DM I pada awalnya memang ikut-ikutan saja menemati teman ikut sebuah acara pelatihan kepemimpinan selain itu didorong oleh perasaan ketidak enakannya kepada senior. Kebetulan Zuldan memang tinggal di secretariat KAMMI bersama seniornya. Tetapi setelah ikut DM I ia semakin tertarik da nada semangat kompetisi sehingga mengantarkannya mengikuti DM II, sedangkan DM III, ia mengikuti saja sebuah proses kaderisasi.  Sedangkan Fadli dari Yogya, ia ikut DM I karena memang sudah tertarik sejak awal, kemudian DM II ia merasakan sebuah kehausan intelektual dan ingin mencari yang lebih dari sekedari DM I, begitupun alasan ia mengikuti DM III.
Beda lagi dengan Arina, ia tertarik DM I pada awalnya bukan karena telah kenal KAMMI, tetapi sejak SMP ia memang sudah tertarik liat orang demonstrasi dijalan, nah ketika memasuki dunia kampus ia melihat KAMMI sebagaimana yang ia liat saat ia SMP itu. Ia ikut DM II untuk lebih memantapkan dan mencari ilmu dan ikut DM III untuk semakin memperbaiki diri.
Sedangkan Robert, ia tertarik ikut DM I didorong oleh aksi KAMMI yang damai. Kemudian ikut DM II karena alasan ideologis, sedangkan tertarik ikut DM III didorong oleh semangatnya membongkar mitos. Ia ingin membongkar momok bahwa seorang DM III sering kali menghasilan kader ABIII yang “abal-abal” dimana setelah ikut DM III kapasitas ilmunya bahkan dianggap tidak jauh beberda dengan AB I. Seharusnya dengan muncul pernyataan itu seorang yang telah mengikuti DM III harus malu dan membuktikan bahwa pandangan tersebut tidaklah benar.
Ya itulah sekilas mosaic dihari pertama yang saya alami dan amati. Semoga catatan ini bisa menjadi dokumentasi yang bermanfaat bagi seluruh kader-kader KAMMI.

Yogya, 06 Mei 2013
Anton _Staf Humas KAMMDA Semarang
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger