Home » » Merajut Benang Cinta

Merajut Benang Cinta

Written By Redaksi KAMMI on Tuesday, 7 May 2013 | 5/07/2013 08:16:00 pm



















Oleh: Hadijah, S.Pd
Pengurus PK KAMMI Tanjungpinang

Ketetarikanku pada KAMMI berawal sejak aku masih seorang pelajar kelas tiga. Hari itu peringatan Hari IBU, di simpang empat pamedan ada beberapa mahasiswa yang membagikan pamflet mengenai hari ibu dalam bentuk puisi, dan dibawah puisi itu tertulis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Organisasi apa itu? (tanyaku dalam hati). Ada seorang kakak yang berjilbab besar memberikan pamflet tersebut kepadaku. Aku terkesan dengan kakak tersebut, wajahnya tersenyum ikhlas dan tiada rasa capek terlihat diwajahnya walaupun hari itu panas terik.
Aku baru saja lulus dari MAN. Sekarang berstatus sebagai seorang mahasiswa di UMRAH angkatan 2008. Saat itu bulan ramadhan, aku masih aktif sebagai anggota remaja Mesjid Raya Al Hikmah. Pada bulan ramadhan biasanya remaja mesjid membuat agenda pesantren kilat. Malam itu di mesjid raya dan semua panitia udah tidur tiba-tiba berderinglah hpku. Ternyata sms dari Arista, menawarkan aku untuk ikut pelatihan kepemimpinan dari KAMMI, yang namanya DM1.
KAMMI, sepertinya nama itu gak asing lagi bagi aku, setelah aku ingat-ingat, nama itu yang ada dipamflet yang dibagikan kakak berjilbab besar itu. Ya aku ingat.
Maka, aku bertanya pada arista –seingat aku gini bunyi smsnya-.
“Arista apa ada syaratnya?”
“Ada, harus ikut screening tes”.
“Screening tes? Apa tu Ta?”
“Tes baca Al-Quran, ditanya mengenai KAMMI.”
“Entar bantu aku ya Ta waktu tes. OK aku ikut.”
“Ya. Tesnya di mesjid STISIPOL Raja Haji siang.”
“Ok, sampai ketemu besok.”
Malam itu, aku gak bisa tidur, penasaran dengan apa itu KAMMI. Oya, Kak Sherlykan anggota KAMMI (pikirku, karena aku pernah dengar Bang Ahmad (ketua remaja mesjid) bertanya dengan kak Sherly dari ngadirin acara KAMMI ya) lebih baik aku tanya tentang KAMMI dengan kak Sherly. Setelah aku lihat ternyata Kak Sherly belum tidur, hanya baring-baring saja. Maka kesempatan ini takku sia-siakan. Dari hasil cerita Kak Sherly sepertinya KAMMI itu organisasi yang mengasyikkan. Kak Sherly menyarankan aku untuk ikut. Hal ini memantapkan aku untuk ikut DM1.
Maka, keesokkan harinya setelah menyelesaikan tugas di mesjid raya aku permisi dengan panitia lain untuk ke STISIPOL. Aku di tes dengan Kak Tari –kakak yang baik, tutur katanya lembut dan berwibawa- setelah tes baca Alquran, isi formulir pendaftraan, tes tertulis, dan setelah itu tes wawancara. Pada saat tes wawancara yang paling aku ingat adalah ketika sudah menjadi anggota di KAMMI, kita tidak boleh mengidolakan seorang figur atau senior di KAMMI. Aku hanya mengiyakan, sebenarnya bingung juga belum ikut DM1 udah diberi saran seperti itu, ingin bertanya tapi segan, ya udahlah, iyakan saja. Dan akhirnya aku ikut DM1 bertepatan bulan ramadhan di asrama haji, tanggal 14-15 september 2008.
Di akhir kegiatan DM1, kami akan membacakan ikrar janji –hal ini membuat aku bergudik merinding, karena menurut aku ini seperti sumpah setia- bersama-sama. Setelah acara DM1 berakhir, peserta DM1 akan dikelompok-kelompokkan untuk mengikuti madrasah KAMMI –semacam sekolah-. Karena aku kuliah di UMRAH –pada saat itu UMRAH belum ada komisariat- maka aku bergabung dengan komisariat STISIPOL. Dimulia dari komisariat STISIPOL dan mengikuti Liqo di mesjid kampus STISIPOL-lah awal perubahan diriku terjadi. Di liqo kami ada 9 orang, 2 mahasiswa UMRAH, 1 mahasiswa AKBID, 6 mahasiswa STISIPOL. Setelah sekian lama liqo berjalan maka tinggalah 4 orang yang masih mengikuti madrasah KAMMI komisariat STISIPOL.
Pernah suatu hari, saat itu kakak Pembina (Murobbiyahnya) nggak datang, teman-teman liqo yang datang hanya empat orang, dan udah lama kami menunggu kakak tersebut maka kami bersepakat untuk pulang saja. Ketika pulang dari mesjid kampus STISIPOL (yang beralamat di KM.8 atas) menunggu transpot bersama temanku yang satu kuliah di UMRAH dia tinggal di Jl.wiratno sedangkan aku di batu 7, arah yang berlawanan, jadi aku putuskan untuk jalan kaki pulang ke rumah. Bukannya gak ada uang saat itu, ada hanya cukup untuk naik transpot, tapi menunggu transport di KM 8 atas dengan arah KM 7 mustahil ada transport yang mau kearah kM7. Waktu itu udah sore sekitar pukul 17.00 wib, jadi aku putuskan untuk menemani teman aku ini menunggu transport, karena transport yang ditunggu gak kunjung lewat, kalau pun ada yang lewat pasti menolak untuk ke jalan wiratno.
Maka kami bersepakat untuk jalan kaki sembari kalau ada transport yang lewat distopkan. Ketika kami berjalan temanku ini berkata “Dijah, ikut kegiatan ini berat diongkos, juga tempatnya lumayan jauh.” Dari perkataannya sepertinya ia tidak mau ikut liqo lagi, karena membazirkan uang menurutnya. Temanku ini berasal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana. Memang kalau dipikir-pikir memang berat diongkos, apalagi kami tidak mempunyai kendaraan dan bergantung kepada transport untuk berpergian.
Tapi, aku ingin membuktikan kalau keterbatasan tidak mempunyai kendaraan tidak menghalangi aku untuk pergi liqo maupun kegiatan lain yang dibuat oleh KAMMI. Semenjak itu teman aku gak pernah datang liqo. Setelah ditanya kenapa? Alasannya adalah berat diongkos dan yang datang liqo semakin sedikit.
Mendapat Amanah
Beberapa bulan setelah DM1, aku diamanahkan di komisariat STISIPOL menjadi anggota kaderisasi. Satu kata saja yang langsung terlintas dibenakku, bingung? Bingung karena gak tahu apa itu kaderisasi? Bingung kenapa harus saya? Bingung harus ngapain saja? Bingung ketika bertanya dan dijelaskan, masih bingung dan gak paham. Tapi, sekali lagi aku iyakan saja untuk menjadi anggota kaderisasi. Dengan kemampuan yang dimili aku jalankan amanah tersebut. Masih dengan kebingungan aku harus ngapain saja. Sebenarnya bisa saja bertanya dengan kakak yang udah senior, tapi aku ini adalah orang yang rasa segannya sangat tinggi apalagi kalau bertanya sesuatu. Lagipun aku kurang kenal dengan kakak (akhwatnya) seniornya, yang aku kenal pada saat itu hanya kak Tari itupun kurang akrab (pada saat itu), mungkin dikarenakan jarang ketemu (kampus kami berbeda).
Sampailah saat Musyawarah Luar Biasa yang membubarkan Komisariat STISIPOL dan Komisariat STAI-MU, menjadi Komisariat Tanjungpinang dan Bintan. Walaupun Komisariat STISIPOL udah dibubarkan, ternyata aku masih diamanahkan menjadi anggota kaderisasi di Komisariat Tanjungpinang. Tapi kali ini aku gak kebingungan lagi, karena ada Kak Pura yang senior di KAMMI di departemen kaderisasi Komisariat Tanjungpinang, dari Kak puralah aku belajar apa-apa saja kerja dari kaderisasi.
Merasa kecewa di KAMMI pasti pernah. Ini terjadi pada saat pelaksanaan salah satu DM 1 Komisariat Tanjungpinang. Aku merasa seperti kerja sendiri dan ngerasa seperti nggak ada yang mau ngebantuin di kegiatan ini. Sempat terpikir ingin keluar dari KAMMI selepas kegiatan ini. Tapi itu hanya keinginan sementara saat kecewa. Selepas kegiatan DM 1 ini aku banyak mendapat hikmah pelajaran dan pengalaman. Dan sesungguhnya mau sendiri, bersama-sama, ataupun aku tidak ada, kegiatan DM 1 ini pasti akan berjalan.
Teringat pesan dari Imam Ali bin Abi Thalib:
Jika ada seribu pemuda yang berjuang di jalan dakwah, akulah yang ke seribu itu
Jika ada seratus pemuda yang berjuang di jalan dakwah, akulah yang ke seratus itu
Jika ada sepuluh pemuda yang berjuang di jalan dakwah, akulah yang ke sepuluh itu
Jika ada satu pemuda yang berjuang di jalan dakwah, akulah pemuda itu
Maka dari itu, apa pun itu kegiatan dan amanah yang diberikan dalam rangka berdakwah, dalam rangka menegakkan syariat islam, insyallah aku akan berusaha untuk ikut. Sendiri maupun bersama-sama. Sebab jika kita menolong agama Allah Swt, maka Allah akan menolong kita. Baik kita sadari maupun tanpa kita sadari.
Merajut Benang Cinta di KAMMI
Di KAMMI, apa pun ceritanya bahagia, sedih, kecewa, terharu, dsb, itu akan menambahkan rasa cintaku kepada KAMMI. Di KAMMI-lah aku mengenal tarbiyah (liqo). Memang tarbiyah bukan segala-galanya, tapi dari tarbiyahlah aku menjadi segala-galanya, mengasah potensi yang tersembunyi dalam diri. Di KAMMI-lah aku menemukan sosok-sosok yang luar biasa. Dari mereka aku mengambil pengalaman, pelajaran untuk diri ini. Amanah apa pun yang diberikan di KAMMI, aku akan berusaha semampu aku untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sebab amanah ini sudah terbalut dengan rasa cinta penuh perjuangan. Karena di KAMMI-lah aku diajarkan arti perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk membangun asa sejati mengharapkan ridha Illahi.

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger