Home » » Mengklaim Kebodohan*

Mengklaim Kebodohan*

Written By anton saputra on Saturday, 4 May 2013 | 5/04/2013 12:55:00 pm


Dalam paradigma Multiple Intellegences setiap anak memiliki kecerdasan sendiri-sendiri. Howard Gardner melahirkan paradigma tersebut sebagai bentuk koreksi terhadap konsep kecerdasan ala Alfred Binet (1857-1911), dinama menurut Binet dasar kecerdasan individu terletak pada Intellegences Question (IQ) saja. Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam ukuran skala tertentu yang menitikberatkan kemampuan berbahasa dan logika.

Menurut Gardner (1993) setiap individu memiliki satu atau lebih dari delapan kecerdasan antara lain; Linguistik, Matematis-logis, Spasial, Kinestetik-Jasmaniah, Musikal, Intrapersonal, Interpersonal,  dan naturalis. Lebih jauh lagi Gardner mengungkapkan bahwa setiap kecerdasan secara parsial memiliki ciri dan cara tersendiri dalam mengelola informasi yang masuk kedalam otak, namun ketika mengeluarkannya kembali, seluruh kecerdasan bersinergi dalam kesatuan yang unik. Ukuran kepandaian seorang anak menurutnya tidak hanya dilihat dari kemampuan logika dan bahasa sepenuhnya, namun harus dilihat dari delapan tipe kecerdasan.Dengan kata lain Gardner ingin mengungkapkan bahwa tidak tepat kiranya tolak ukur kepandaian seorang individu hanya dilihat dari sudut matematis-logis-linguistik saja. Jika tolak ukurnya hanya itu saja, lalu bagaimana dengan kecerdasan yang lain, apakah tidak menjadi pertimbangan?

Tidak ada anak bodoh

            “Mengklaim Kebodohan” sengaja penulis sematkan dalam opini ini atas dasar masih kuatnya stigma lama bahwa hanya anak yang pandai berhitung dan bahasa selalu dijadikan parameter kecerdasan oleh sebagian besar guru dan orang tua. Seharusnya pendapat Gardner menyadarkan kita agar hati-hati mengklaim seorang individu dengan ungkapan-ungkapan yang menjatuhkan. Klaim “bodoh” terhadap seorang individu tidak bisa dibenarkan lagi karena atas dasar apa seseorang dikatakan “bodoh”, bodoh dalam hal apa dan pintar dalam hal apa?.

            Meski Albert Einstein telah berjasa besar dalam menemukan teori relativitas yang terkenal seantero jagad itu, sudah saatnya ia bukan lagi dijadikan parameter satu-satunya dalam menilai kecerdasan seseorang. Bukankah setiap orang yang terlahir di dunia ini unik, lahir hanya membawa kekhasan sifanya dan disaat meninggal tidak mungkin digantikan oleh manusia baru, disebabkan manusia baru itu juga akan membawa sifat uniknya sendiri?. Mudah saja membuktikannya, tanyakanlah kepada sepuluh murid tentang “cinta”, penulis menjamin masing-masing mereka akan menjawab dengan cara dan gaya masing-masing yang tidak selalu seragam. Masalahnya memang bukan hanya dalam proses perumusan kebijakan, tetapi juga dilapangan. Sebagian besar guru-guru di sekolah bahkan dosen di perguruan tinggi masih banyak yang terjebak dalam paradigma behavioristik dimana dalam proses belajar lebih menekankan hafalan, menuntut satu jawaban yang benar dan guru adalah pusatnya. Yang utama dalam paradigma ini adalah penambahan pengetahuan, artinya seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu mengungkapkan kembali yang telah dipelajari. Meskipun dalam realita, pembelajaran behavioristik menekankan keterampilan terisolasi (tak terkait dengan kehidupan dan pemecahan masalah sehari-hari), mengikuti urutan kurikulum yang ketat, aktivitas belajar mengikuti buku teks, dan menekankan pada hasil. 
           Dalam paradigma ini guru ibarat hakim yang berhak memutuskan benar-salah, pintar-bodoh muridnya. Oleh karena itu, respon dari siswa bersifat pasif, harus berupa satu jawaban yang benar, sedang evaluasi dipandang terpisah dari proses belajar. Alhasil kondisi belajar seperti ini cendrung melahirkan murid-murid yang miskin kreatifitas, tertekan, kurang berani berekspresi dan menyampaikan idenya. Murid seakan-akan “dipaksa” meng copy paste pengetahuan yang bersumber dari gurunya sebagaimana adanya tidak kurang tidak lebih. Padahal daya kretifitas dalam menerima pengetahuan antara murid dengan guru tentulah berbeda. Kondisi otoritarian sepeti ini justru akan sangat membahayakan perkembangan seorang murid. Dinegara-negara maju seperti Finlandia, Jepang, Inggris, Canada, Inggris, cendrung bahkan sudah secara “berani” menerapkan paradigma konstruktivistik dalam proses belajar. Sebuah paradigma pendidikan yang memberikan keleuasaan gaya belajar siswa serta materi pelajaran  yang diminati siswa. Dalam paradigma ini pula tugas guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mencapai pemahaman tentang isi pelajaran; jadi siswa yang mengambil peran aktif dalam pembelajaran. Beberapa tugas fasilitator adalah bertanya, mendukung dari belakang, dan menyiapkan garis-garis belajar pembelajaran dan menciptakan lingkungan agar siswa dapat mencapai kesimpulan-kesimpulan, dan melakukan dialog dengan pembelajar.

Hapus Diskriminasi

Kita patut memberikan apresiasi tinggi kepada Mahkamah Konstitusi yang dengan tegas menghapusUndang-undang RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) dalam dunia pendidikan. Tepat kiranya keputusan MK itu menimbang memang secara substansi telah bertentangan dengan semangat Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang menekankan bahwa tidak ada diskriminasi dalam dunia pendidikan. Tidak ada sekolah yang diitimewakan. Semua putra-putri bangsa dari Sabang hingga Merauke berhak mendapatkan pendidikan secara adil. Sudah tidak relevan lagi sekolah-sekolah tertentu me (di) klaim sebagai sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah nomer satu, dua, tiga dan seterusnya. Dan kita semua berharap kurikulum 2013 akan memberi perubahan besar bagi bangsa ini. Kita semua berharap segalanya bisa dipersiapan secara matang pada kurikulum ini. Kita semua otimis dimasa mendatang wajah dunia pendidikan semakin membaik meskipun ditengah persoalan pemerataan, korupsi yang belum berkesudahan.

*) Oleh Anton Saputra (Staf Humas KAMMI Daerah Semarang Periode 2012-2014)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger