Home » » Allah, Izinkan Aku Bertahan

Allah, Izinkan Aku Bertahan

Written By Redaksi KAMMI on Monday, 6 May 2013 | 5/06/2013 07:53:00 pm



Oleh: Hikmawati (Sekretaris Departemen Kaderisasi KAMMI Komisariat Unnes)
Kita memang telah memilih jalan yang luar biasa dahsyat. Ya, jalan yang dahsyatnya mungkin tak terukur, yang akan senantiasa diwarnai uji. Banyak masalah yang menempa, dihiasi dengan sekelumit persoalan yang tak kian menemukan jawab. Yang akhirnya kadang membuat kita ingin berhenti, mundur dari jejak langkah yang sudah termulai. Bahkan sering kali berfikir lari adalah jawaban terbaik.
Tapi, apakah kita mau disebut sebagai bagian dari pasukan uhud yang mundur ketika perang sudah diserukan? Yang akhirnya berakhir dengan sad ending, kekalahan kaum muslimin saat itu.

Memang sering kali kita merasa semua beban ada di atas pundak, menjadi orang yang paling diberi uji, memiliki akumulasi masalah yang paling banyak, sampai kata-kata ini mungkin sering kali terucapkan “Berat Allah, berat”.

Coba tengok kanan kiri kita, kawan. Mungkin memang tidak semua orang Allah percayai untuk memikul beban ini. Bukan kemudian kita mau menyombongkan diri dan mengganggap diri kita paling baik, yang akhirnya membuat kita tidak tawadlu. Tapi, semoga itu yang menjadi alasan untuk kita kian bersyukur. Lantas apa yang membuat kita ingin menghentikan langkah, mundur dari da’wah,  tidak mau menciptakan karya kembali jika memang kita telah mengakui bahwa nahnu du’at qobla kulla syai’in?
Ketika tangis tertumpah, tak apa. Bukan sebuah kesalahan ataupun dosa. Hanya saja, setelah tertumpahnya tangis, mulailah merangkai langkah untuk kemudian mampu berjalan kembali. Meski langkah itu perlahan, biarlah. Karena dari langkah itu yang akan memacu untuk kita kian berlari, dan insya Allah terhitung sebagai amal baik kita.
Berada pada posisi lebih dari satu amanah sering kali menjadi salah satu beban tersendiri bagi kita, yang kadang akhirnya memaksa kita untuk memprioritaskan satu diantara banyaknya amanah itu. Tapi bijakkah ketika kita memiliki tiga atau empat kelereng kemudian kita hanya bermain satu kelereng itu saja sampai kelereng yang lain tak pernah tersentuh? Cobalah mengubah persepsi kita bahwa amanah itu bukanlah tembok, yang menutup dan menghalangi aktivitas lain kita. Tapi cobalah anggap bahwa amanah itu sebagai jalan, yang memberimu kesempatan untuk melangkah, kian berkembang, belajar dan berproses.
Bahkan Hasan Al Banna pun pernah menyampaikan bahwa, “Serahkan amanah pada orang yang sibuk”. Ketika beliau menyampaikan itu pasti bukan tanpa alasan, ada pesan yang tersirat di sana. Bahwa tidak menutup kemungkinan untuk ditunaikan ketika amanah itu diberikan pada orang yang sudah sibuk atau sudah beramanah.
Tak ada motivator terbaik, selain itu adalah diri kita sendiri. Karena kita yang tahu kapan saatnya kita butuh motivasi. Ketika kita hanya menunggu motivasi dari saudara kita yang lain, belum tentu mereka tahu kapan kita butuh pundak dan penguatannya. Dan Allah lah yang insya Allah senantiasa siap mendengar keluh kesah kita. Ya, mintalah pada Allah. Minta dikuatkan, minta dimampukan, dan meminta apapun yang kau inginkan ataupun butuhkan, karena ‘ud’uniy fastajiblakum.
Kawan, ketika dorongan hati untuk mundur mulai menyapa, berdoalah “Allah, izinkan aku bertahan…” Ya, biarkan aku bertahan di sini Allah…
Dan  semoga Allah menguatkanmu disini, di jalan da’wah.

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger