Home » » Islam Pribumi (Kultural) atau Islam timur Tengah?

Islam Pribumi (Kultural) atau Islam timur Tengah?

Written By Agus Subkhi Hermawan on Saturday, 27 April 2013 | 4/27/2013 03:51:00 pm

Penulis

Gaung keberagamaan kontemporer menunjukkan terdapatnya karakteristik khas ekspresi keberagamaan masyarakat kota. Pertama, kentalnya sufisme yang terwujud dalam partisipasi sejumlah komunitas kota dalam halaqah atau majelis dzikir yang bertebaran di kota-kota besar beberapa tahun terakhir.majelis Dzikir Ad-dzikra asuhan Ustadz Arifin Ilham,misalnya mendapatkan nuansa dan dukungan meriah tidak saja dari komunitas pinggiran kota jakarta,tetapi juga kelas menengah dan kaum profesional,belum lagi pesona Para Habib dengan majelis Dzikirnya.

Kedua, makin kuatnya tendensi keberagamaan ala harakah yang bermula dari kampus.gaya beragama yang menjadikan gerakan Islam kental dengan aroma timur tengah sebagai referensi banyak diminati kalangan perkotaan.

Akseptabilitas masyarakat perkotaan terhadap islam gaya timur tengah disadari pandangan bahwa gaya Islam harakah yang kental dengan puritanisme ini dapat menyumbangkan sebuah energi yang tidak rumit dan berbelit-belit bagi kehidupan urban Islam yang sebelumnya telah jenuh dengan aneka problematika khas perkotaan. Makin besarnya wacana farso-arabo-sentris juga menunjukkan konsistensi islam global yang mulai merambah kemapanan kekuatan islam pribumi, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. kekuatan ini tercermin dari makin membanjirinya buku-buku berhaluan kanan serta banjir mode hidup dan busana ala timur tengah yang meminggirkan pakaian religius tradisional (baju koko,peci (kopiah hitam) dan sarung) diimitasi secara masif oleh massa religius perkotaan.

Bagi NU maupun Muhammadiyah,hal ini penting bukan saja karena gerakan islam tersebut telah merebut sebagian massa muda simpatisannnya di kota-kota, bahkan secara tradisi wacana dan gaya keberagamaan NU dan Muhammadiyah mulai terdepak secara samar. Buku-buku karya Maulana Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Qutb, Said Hawwa, Serta Hassan Al-Banna lebih banyak dibaca daripada ulama pribumi. Tafsir fii Zhilalil Quran karya Sayyid Qutb mengalahkan Tafsir Al Ibriz Karya Kiai Bisri Mustofa. Mir’at Al Thulub digoyang oleh Islamic Way Of Life. Terlebih lagi, diba’an digantikan nasyid,serta amalan Al-ma’tsurat mulai mendepak Manakiban dan Dzikrul Ghafilin.

Sebagai seorang yang lahir di kalangan keluarga besar NU dan pernah mengecap pendidikan Pesantren Salafiyah NU, Penulis sudah cukup membuktikan bahwa posisi NU dan Islam Pribumi lainnya ditengah perguliran religiusitas masyarakat urban mulai tergoyang.kini nama-nama besar idolaku ketika nyantri dulu K.H Hasyim Asyari, K.H. Ahmad Siddiq, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Syamsuri, K.H. Saifudin Zuhri, bahkan ulama kaliber internasional seperti Syekh Alwi Al-Maliki Al-Hasani dan Syekh Ismail Al-Yamani makin terasa asing dalam perguliran wacana kontemporer.sedikit sekali intelektual perkotaan yang mau memperjuangkan pemikiran mereka agar “bernyawa” kembali di Indonesia.

Hal diatas sudah cukup untuk membuktikan bahwa posisi Islam Pribumi di tengah perguliran religiusitas masyarakat urban mulai tergoyang. Ironisnya,pengkaderan harakah dilakukan di kampus-kampus dimana banyak anak muda NU, Muhammadiyah dll kuliah. Bukan tidak mungkin stabilitas Islam Pribumi dibasis agrarisnya akan ikut tergoyang manakala kader militan gerakan islam pulang ke desa asalnya. NU, Muhammadiyah dll tidak bisa diharapkan banyak dari booming tasawuf di kota-kota. Meskipun memiliki kesamaan tradisi dalam narasi spiritualitas,majelis-majelis dzikir perkotaan yang dekat dengan ensiklopedi sufistik ala NU dll itu sebenarnya merupakan kawan dekat harakah.

NU, Muhammadiyah dan Islam kultural lainnya perlu melakukan transformasi dakwahnya dengan melibatkan seluruh elemen kulturalnya.tentunya dengan menyedikitkan perdebatan diskursif. Tidak selayaknya format Islam Kultural kota berdiri diatas tradisi filsafat progresif yang melelahkan. Kejenuhan masyarakat kota karena belitan hidup sehari-hari sudah cukup untuk menjadi alasan menolak presensi islam seperti itu.

Sumber daya manusia NU, Muhammadiyah dll seperti alumni Halaqah Arab saudi dan yaman dapat dikombinasikan dengan kekuatan tasawuf kaum Nahdliyyin Alumni Sudan serta disinergikan dengan wacana megapolitan Islam dari unversitas di Mesir, Suriah, dan negara-negara Barat. Bukankah cabang-cabang istimewa NU berdiri hampir di 25 negara di 5 benua? Pengalaman megapolitan itu selayaknya mula dirumuskan bersama-sama untuk merumuskan islam kota gaya NU sebagai antitesis Islam gaya Harakah. Dengan Demikian,memori kaum muda NU, Muhammadiyah dll tidak bakal hilang meski mereka intensif berinteraksi dengan gerakan islam berwajah Timur Tengah di Kampus-Kampus.


Penulis : Andi Pratama (Kadep. KP PD KAMMI Semarang)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger