Home » » Meneropong Masa Depan KAMMI Merah

Meneropong Masa Depan KAMMI Merah

Written By Agus Subkhi Hermawan on Friday, 28 December 2012 | 12/28/2012 02:03:00 pm


Logo Icon KAMMI Merah
Oleh : Ibnu Dwi Cahyo, SH

Segala sesuatu di dunia itu berumur dan beregenerasi, itu sudah sunatullah. Begitu juga dalam berorganisasi, logika tersebut pantas dan wajib menjadi dorongan dalam berorganisasi. KAMMI yang lahir dari rahim tarbiyah dalam era reformasi memang masih berumur muda, baru menginjak usia 14 tahun, kira-kira masih anak SMP-lah.

Umur yang muda ini bukan berarti menjadi pembenaran bahwa kontribusi KAMMI belum sebesar gerakan mahasiswa yang lain. Memang patut disadari persebaran alumni belum sebesar dan sedalam gerakan lain, namun patut di catat KAMMI mempunyai catatan gemilang di kampus-kampus ternama di Indonesia, bagaimana kader-kadernya mampu mewarnai lewat lembaga-lembaga kampus.

Mewarnai kampus dan mejadi leader di lembaga-lembaga kampus lantas bukan menjadikan KAMMI sukses dan itu sebagai tujuan akhir. Tentunya KAMMI yang menjadikan Islam, Indonesia dan Pemuda sebagai ruh gerakan menyadari bahwa gerakan menjadi berarti bila rakyat benar-benar merasakan manfaatnya.

KAMMI saat ini sedang membangun alur regenerasi yang membuat setiap kader dan alumni sadar akan tanggungjawab dan perjuangan yang tidak berumur sebatas di kampus dengan status mahasiswanya. Secara makro setiap kader dan alumni menyadari beban yang diemban sebagai generasi muda muslim Indonesia yang diharapkan dan dilihat seluruh dunia, tidak hanya oleh rakyat Indonesia semata.

Posisi strategis KAMMI di Indonesia mudah dilihat dengan “berkiprahnya” kader-kader sebagai pimpinan lembaga-lembaga kampus, yang artinya ada kepercayaan dari masyarakat kampus akan kredibilitas dan integritas kader-kader KAMMI. Itu semua tidak boleh membuat kader dan alumni berpuas diri. Masalah yang lebih penting adalah, kemana kader-kader ini pasca kampus.

Secara psikologi kita akan menemui begitu banyak aktivis yang juga didalamnya ada kader KAMMI mengalami “kegalauan” mendalam dalam proses transisi kampus ke dunia nyata. Mulai dari beban harapan orang tua untuk segera lulus dan mendapat kerja yang mapan. Belum lagi godaan dari banyak kalangan yang lebih menggiurkan daripada semata ngurusi “dakwah”. Lalu problem ini bagaimana mengatasinya? Jawabannya tidak jauh dari sekitar kita, yaitu faktor kepemimpinan.

Kepemimpinan dimanapun selalu menjadi masalah dan solusi, itu sudah rumusnya dari langit. Bila kita melihat sejarah lebih dalam, faktor kepemimpinan selalu menjadi faktor utama dalam pertempuran-pertempuran besar. Prancis mempunyai seoarang Richard The Lion, Jerman punya Adolf Hitler, Uni Sovyet punya Lenin dan Stalin, Tiongkok punya Mao Ze Dong, Yugoslavia punya Joseph Bros Tito dan Indonesia sempat mempunyai pemimin yang disegani dunia, yaitu Soekarno.

Pemimpin yng hebat akan membuat organisasinya itu dipandang tinggi oleh kawan maupun lawan. Sedikit cerita tentang Bung Karno dengan Uni Sovyet. Terlepas dari sikap Bung Karno terhadap ulama saat akhir-akhir priode orde lama yang cederung keras, beliau mempunyai jasa yang patut dicatat oleh muslim Indonesia dan dunia.

Kita tahu bersama Bung Karno sangat dekat dengan Uni Sovyet, terutama saat jaman Nikita Khrushchev. Kedekatan tersebut semata untuk menjaga kedaulatan Indonesia yang sedang berperang melawan Belanda di Papua, yang saat itu didukung penuh oleh sekutu. Kita sendiri tahu bahwa Uni Sovyet adalah negara komunis totaliter, agama tidak mendapatkan tempat sama sekali di negara tersebut, bahkan gereja-geraja Kristen Ortodoks peninggalan Kekaisaran Tsar Nikholas pun tutup.

Hebatnya Soekarno yang sangat dihormati oleh jajaran komintern (semacam majelis syuro) Partai Komunis di Sovyet berani meminta 2 hal yang seharusnya mustahil disetujui oleh Khruschev. Pertama, Soekarno meminta Sovyet mengijinkan sebuah masjid berdiri di kota Moskow dekat dengan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), ternyata Sovyet menyetujui permintaan tersebut, jadilah Masjid Biru sebagai satu-satunya tempat ibadah resmi yang berdiri di Uni Sovyet. Kedua, Soekarno meminta Sovyet untuk tidak menghancurkan makam Imam Bukhari yang ada di Uzbekistan yang saat itu menjadi wilayah Sovyet. Sekali lagi Sovyet menyetjui permintaan Soekarno.

Dari peristiwa tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa kepemimpinan mempunyai efek yang besar dalam berjalannya organisasi ataupun negara. Lalu pertanyaan mendasar selanjutnya, KAMMI sampai pada fase mana dalam menghasilkan pemimpin? Selama ini KAMMI dikenal sebagai gerakan mahasiswa yang relatif adem ayem saat memasuki proses pergantian kepengerusan, sangat berbeda dengan gerakan lain yang cenderung hingar bingar dan selalu muncul konflik.

Selanjutnya muncul pertanyaan, apakah suasana yang adem ayem ini juga menghasilkan pemimpin yang berintegritas dan berkualitas di KAMMI? Lalu kita bisa mengkaitkan apakah dinamisasi dalam sebuah oraganisasi dalam hal ini KAMMI akan membuat kader-kadernya semakin dewasa, yang berujung pada stok pemimpin yang melimpah. Ini masih menjadi pertanyaan besar, dimana KAMMI mempunyai kultur yang berbeda dengan gerakan lainnya.

KAMMI di tingkat nasional dinamisasinya sudah bukan rahasia lagi, namun di daerah dan wilayah hal itu menurut penulis masih sangat kurang. Sekali lagi penulis sendiri masih sangat subjektif dalam menganggap bahwa dinamisasi adalah bagian dari proses menghasilkan pemimpin yang kredibel. Bagi penulis jaman kenabian bukan tanpa dinamsasi, bahkan untuk berbeda pendapat dengan nabi Muhammad dalam hal strategi pertempuran menjadi hal yang sangat biasa. Sebagai contoh saat Salman Al Farisi memberikan ide tentang strategi di perang Khandaq, dengan membuat parit dan disetujui.

Ide maupun visi muncul dari pergumulan lama dalam ruang-ruang diskusi dan ruang-ruang publik, belum lagi dalam proses pertemuan dengan jaringan. Seorang kader yang telah mapan dalam menghadapi manusia dengan pikiran yang berbeda akan mempunyai filter yang cukup bisa menyaring ide-ide mana yang berguna bagi KAMMI, bukan sebatas berguna bagi dirinya sendiri.

Dari sini lalu kita lihat, apakah lingkungan KAMMI saat ini sudah mampu menghasilkan suasana dinamis yang konstruktif, tidak semata membangun rivalitas 2 tahunan saja. Ini perlu di evaluasi, terlebih khusus untuk KAMMI Semarang.

Potret Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah memang harus diakui masih tidak terlalu menarik di mata orang luar. Hal ini berimbas sedikit banyak pada KAMMI Semarang yang berdiam dan bergerak di dalamnya. Kultur yang tidak se-akademis kota Yogyakarta, jaringan yang tidak sebanyak Ibukota Jakarta, kultur kreativitas yang tidak sekental Bandung dan kultur Jawa yang tidak semantap Solo.

Jadi Semarang sebagai kota ini disadari atau tidak memang serba tanggung, boleh dibilang serba pas-pasan. Toh dengan berbagai kondisi Semarang saat ini, bukan berarti membuat KAMMI Semarang seadanya saja dalam mengaktualisasikan gerakannya. Penulis sebagai orang dalam juga menyadari bahwa berbagai kekurangan masih belum bisa dibenahi, namun berbagai prestasi juga tak lantas boleh dilupakan begitu saja. Ya itu biarlah orang luar yang menilai.

KAMMI Semarang ini menarik dalam pandangan kawan-kawan KAMMI di luar Semarang. Disebut sebagai KAMMI Merah, bukan hanya karena jaketnya yang merah, namun juga tantangan di daerah yang oleh antropolog sosio-politik menyebutnya sebagai daerah abangan, ya itu Semarang. Belum lagi Semarang sebagai kota kelahiran PKI (Partai Komunis Indonesia). Jadi memang berliku dan rumit.

Tantangan tidak berhenti dengan kondisi demografi yang kurang bersahabat. Tantangan bertambah dengan kondisi mahasiswa dan masyarakat yang saat ini cenderung mengamini budaya pop, sehingga kita lihat mahasiswa dalam 5 tahun terakhir kurang berminat dengan gerakan mahasiswa dan isu politik maupun ekonomi nasional, apalagi lokal-regional.

Tantangan masih ada lagi, yaitu kultur dakwah (baca: tarbiyah) di Jawa Tengah yang menurut penulis belum bisa sepenuhnya mengikuti mihwar antara Muasasi dan Dauli. Kecenderungan untuk masih eksklusif dan konservatif masih mendominasi. Dalam proses kaderisasi eksklusivitas dan konservatif memang menjadi kewajiban, namun dalam konteks komunikasi dengan pihak luar dan membangun jaringan mennadi sebuah hal berbeda, apalagi jika ingin melebarkan sayap untuk menjagkau kalangan islam tradisional di pedesaan dan kota-kota pinggiran, akan pasti berbenturan.

Pemimpin seperti penulis sampaikan di awal adalah solusi sekaligus menjadi masalah. Menjadi masalah jika memang proses regenerasi selama ini berjalan lambat dan tak mempunyai stok kader yang pantas menjadi suksesor KAMMI Semarang selanjutnya. Menjadi solusi jika kenyataan berbicara sebaliknya dan ditambah dengan kesusksesan dalam mengintegrasikan potensi-potensi kader dan jaringan yang ada.

Dalam hal ini penulis ingin memberikan setidaknya 3 hal yang harus dipenuhi oleh calon ketua KAMMI Semarang ke depan. Pertama, menguasai dan mengenal kondisi Semarang dan jawa Tengah. Tidak cukup hanya kota Semarang, mengingat posisinya sebagai Ibu Kota Jawa Tengah yang membuat setiap masalah dan isu menjadi sangat mudah naik efeknya lebih meluas.

Semarang ini oleh oarang-orang Jakarta dianggap sebagai kota yang relatif aman dan tidak banyak hiruk pikuk, kenyataannya memang seperti itu. Namun satu hal patut dicatat, suasan ini bukan tanpa bayaran mahal. Oleh banyak politisi dan cendekiawan, Smearang ini disebut sebagai kota mafia kedua setelah Jakarta. Bukan hal yang mudah “bermain” di kota yang penuh dengan intrik. Setidaknya kader-kader mengetahui sejauh mana KAMMI bisa berperan di Semarang, tidak semata untuk cari aman dan mereguk anggaran.

Kedua, setidaknya dengan kondisi mahasiswa seperti saat ini, ketua terpilih ke depan berani mengambil langkah-langkah strategis nan baru dalam pengelolaan kader. Bukan berarti menyerah pada keadaan, namun menyesuaikan dengan kondisi yang ada. “Visi tetap strategi berubah” mungkin sedikit bisa menggambarkan. Paling kentara dalam hal proses rekruitmen dan kenaikan marhalah kader.

Dalam perekrutan ke depan sekali lagi KAMMI Semarang harus lebih terbuka ke semua mahasiswa. Hal ini sudah dilakukan dan KAMMI Semarang menjadi yang terdepan di Indonesia, walalupun belum maksimal karena dinamisasi yang terjadi di internal maupun eksternal KAMMI Semarang. Bagi penulis KAMMI harus berbeda dengan Rohis, KAMMI harus bisa menghasilkan kader-kader militan dengan background non-ADS (Aktiivis Dakwah Sekolah), artinya KAMMI memberikan sumbangsih besar, bukan semata menjadi tempat parkir, namun menjadi manufaktur dan industri kader dakwah yang mayoritas.

Dalam suasana bernegara yang demokratis memang lebih diperlukan kader-kader yang melek politik dan terbiasa melebur dengan masyarakat, ini yang memnjadi tantangan terberat KAMMI dan para pemegang tampuk kepemimpinannya. Lebih berat lagi bagi ketua ke depan adalah menyiapkan infrastruktur yang jelas bagi kader dan alumni kader KAMMI Semarang.

Permasalahan mendasar selama ini adalah ketiadaan lembaga alumni bagi KAMMI. Konsekuensinya adalah ketua ke depan harus mampu menyiapakan jaringan yang luas. Contoh paling mudah adalah bagaimana menyiapkan jaringan beasiswa bagi kader-kader KAMMI yang notabene adalah pembesar-pembesar kampus semasa mahasiswa. Menjadi beban beat jika pasca kampus ini kader-kader tidak mendapat tempat selayaknya sebagai aktivis di kampus. Ini belum selesai di KAMMI, di gerakan tetangga hal ini sudah relatif teratasi. Jika masalah ini berlarut dan tidak kunjung mendapat pehatian, maka jangan kaget bila loyalitas pasca kampus para kader akan sangat minim.

Ketiga, karena KAMMI lahir dari rahim dakwah, maka seyogyanya tidak melupakan ibu kandung, namun di sisi lain juga KAMMI tidak boleh mendapatkan intervensi dan kekangan yang membuat jalannya organisasi menjadi tidak sehat. Peran ketua dalam hal ini menjadi sangat penting dalam melakukan komunikasi ke dalam. Menjaga kemurnian dakwah di KAMMI bukan berarti menjadi organisasi yang kaku karena benturan kepentingan dengan asatidz dakwah di Semarang. Hal yang perlu dilakukan adalah komunikasi. Kedua pihak akan merasa saling dimanusiakan dan ini membuat KAMMI bisa mengambil peran besar dalamperkembangan dakwah di Semarang dan Jawa Tengah.

Sebaik-baik pemimpin adalah yang bisa menyembunyikan keduniaannya dan memberikan semangat-inspirasi yang luar biasa pada para kadernya di bawah. Dan hal tersebut tentunya kita harapkan muncul pada diri pemimpin KAMMI Semarang ke depan, karena hari esok harus lebih baik dari hari ini. Wallahu A’lam Bishawab....

Penulis adalah Ketua Departemen Ekonomi KAMMI Semarang 2010-2012, Mahasiswa Program Pascasarjana Undip
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger