Home » » Kerajaan Islam Indonesia dan realitas hari ini

Kerajaan Islam Indonesia dan realitas hari ini

Written By Agus Subkhi Hermawan on Friday, 28 December 2012 | 12/28/2012 10:50:00 pm

Mas Mahar #eh

Oleh : Mahardhika Setyawan (Kaderisasi PD KAMMI Semarang)
Dalam perjalanan sejarah manusia yang panjang, ada satu fenomena yang bagi menarik untuk dilihat. Fenomena itu adalah hubungan antara negara dan agama atau kepercayaan masyarakat di negara tersebut.Hubungan diantara keduanya memang saling berkaitan erat dimanapun negara itu berdiri. Dan memang keduanya saling melengkapi satu sama lain, akan tetapi bagaimana agama dan negara itu saling mempengaruhi mungkin ini yang menjadi masalah.
Akan kita dapati dalam sejarah perjalanan manusia dimana pemimpin-pemimpin negara dianggap sebagai keturunan dewa. Kita bisa melihat Kekaisaran Jepang, dimana di sana sang kaisar dianggap sebagai keturunan dari dewa matahari. Dewa matahari merupakan dewa tertinggi dalam agama shinto. Masyarakat China pun meyakini hal yang serupa, menganggap bahwa kaisar mereka merupakan keturunan para dewa. Dan di Indonesia, terutama masyarakat Jawa, kita akan mendapati bahwa silsilah raja Jawa akan berakar kepada Arjuna. Dan, Arjuna sendiri dalam cerita Mahabharata yang dimodifikasi merupakan keturunan dari para dewa. Mungkin kita juga akan mendapati hal-hal serupa pada catatan sejarah masyarakat kuno masa lalu di tempat yang lain.
Selain raja-raja yang dianggap sebagai keturunan dewa, ada raja yang mengaku sebagai tuhan. Bagi umat Islam, pastinya tidak asing dengan kisah Firaun zaman Nabi Musa dan Namrudz zaman Nabi Ibrahim. Mereka berdua tidak sekedar mengaku sebagai keturunan para dewa tetapi mengaku sebagai dewa itu sendiri. Dalam masyarakat modern sekarang ini kabarnya presiden Suriah, Bashar al Assad, memaksa para tahanan untuk mengakui dirinya sebagai tuhan.
Di Eropa sebelum masa enlightment hadir, kita melihat bagaimana hegemoni gereja begitu kuat dalam sendi kehidupan  masyarakat Katolik waktu itu. Untuk mengangkat seorang raja mereka harus mendapat restu dari otoritas gereja. Gereja benar-benar memiliki kekuasaan yang absolut waktu itu. Sampai hadirnya masa enlightment yang lalu mengebiri peran gereja dalam bernegara. Keimanan itu satu hal, dan politik adalah hal yang lain dalam bahasa Azyumardi Azra.
Sebenarnya dalam latar belakang hubungan antara agama dan negara, antara satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Karena memang antar agama mempunyai sumber dan asal yang berbeda. Maka dari itu tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain. Dan menghasilkan hal yang berbeda-beda juga. Bisa jadi dalam satu waktu menghasilkan pemerintah tirani tapi dalam perode berikutnya menghasilkan kemarmuran bagi rakyatnya. Atau menghasilkan pemerintah yang tiranik sepanjang hubungan keduanya.
Barat dan Islam
Agama yang dianut oleh masyarakat Eropa dan Amerika saat ini mayoritas adalah Kristen Katolik. Dan hampir semua negara di kedua benua tersebut merupakan negara sekuler. Ini tentu saja karena pengalaman sejarah mereka. Ketika gereja katolik menjadi penguasa tertinggi waktu itu, ternyata menghasilkan kekuasaan yang tiran. Selain itu dalam ajaran kristen memang tidak ditemukan tentang konsep negara.
Lalu ada pertanyaan, bagaimana dengan Islam dan negara. Kita akan menemui begitu banyak ulama yang menuliskan tentang konsep negara. Misalnya; Ibnu Abi Rabi’, seorang ulama yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpendapat bahwa bentuk kerajaan atau monarki adalah bentuk negara paling ideal. Lalu ada al Mawardi, yang berpendapat bahwa pemerintahan Islam paling ideal itu adalah masa 30 tahun setelah Rasulullah saw wafat. Al Mawardi berpendapat bahwa pemerintahan zaman Khulafaur Rasyidin merupakan bentuk pemerintahan yang bercorak republik. Dan ulama-ulama lain seperti ibnu Taimiyah, al Ghazali, dan lain-lain. Semua ulama ini menggunakan penafsiran terhadap surat An Nisa: 59 sebagai dasar mengajukan gagasan tentan konsep negara.
Melihat dari latar belakang antara masyarakat Barat dengan Islam, maka sebenarnya dalam hubungan agama dan negara tidak bisa kita samakan. Pertama, keduanya mempunyai latar belakang sejarah yang berbeda. Kedua, ada konsep tentang negara dalam Islam dan tidak pada agama Kristen. Maka dari itu, tidak bisa dipaksakan sebuah negara berpenduduk Islam untuk menganut negara sekuler hasil pencarian masyarakat barat, karena sekali lagi keduanya mempunyai latar belakang yang berbeda.
Indonesia Kita
Banyak teori-teori yang menyatakan dari manakah asal penyebar agama Islam itu. Diantaranya teori Gujarat, teori China, dan teori Arab. Darimana pun itu yang jelas ada bukti mengapa para ahli sejarah mengatkan teori-teori tersebut. Saya lebih senang mengatakan kesemua teori itu benar. Tetapi yang menarik adalah bagaimana Islam itu berkembang di Indonesia hingga menjadi agama mayoritas, mengalahkan Hindu dan Budha yang lebih dahulu datang dan tidak bisa dilewati agama Kristen yang datang berikutnya sampai sekarang.
Pertama, para ulama dan penyebar agama Islam datang dalam kelompok kecil atau secara individu melakukan hubungan dagang dengan penduduk Nusantara. Diantara mereka lalu ada yang tinggal menetap di Nusantara. Penyebaran Islam fase ini lewat interaksi antar individu. Tahap kedua, mereka membentuk keluarga, ada yang menikah dengan wanita lokal. Keluarga-keluarga muslim ini lalu berkumpul membentuk komunitas, masuklah ke tahap ke tiga. Komunitas-komunitas ini berbentuk komunitas pedagang-pedagang muslim atau komunitas yang lain. Pada tahap keempat, setelah komunitas semakin banyak dan membesar, penganut Islam pun semakin banyak, sehingga dibutuhkan pengorganisasian yang lebih besar dari sekedar komunitas. Maka mereka pun membentuk negara atau kerajaan Islam.
Pada perjalanan sejarah Indonesia akan kita temui banyaknya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, mulai dari Kerajaan Aceh, Samudra Pasai, Makassar, Demak, dan lain-lain. Maka sebenarnya, negara Islam itu ada dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Lalu mengapa pasca Indonesia merdeka tidak terbentuk negara Islam atau negara yang secara substansi berlandaskan Islam. Negara kita tercinta ini merupakan negara sekular yang malu-malu atau negara gado-gado agar lebih samar lagi. Mungkin akan ada bahasan khusus mengenai pertanyaan tersebut. Tetapi, yang jelas relasi antara Islam dan Negara bisa kita lihat dengan jelas dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Source : http://dusunsumberjo.wordpress.com/2012/09/30/kerajaan-islam-di-indonesia-dan-realitas-hari-ini/
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger