Home » » Ishlah wa taghyir di fase rekonstruksi KAMMI

Ishlah wa taghyir di fase rekonstruksi KAMMI

Written By Agus Subkhi Hermawan on Friday, 28 December 2012 | 12/28/2012 10:21:00 pm

Mas Dwi

Oleh : Dwi Purnawan, S. Pd
Didalam perjalanan menyejarahnya sebagai gerakan yang menjadikan Islam sebagai ideologi perjuangan dan pembentukan kepemimpinan sebagai fokus perjuangan, keberadaan KAMMI bisa jadi mejadi satu fenomena organ mahasiswa yang memiliki akselerasi gerakan yang cukup tinggi. Terhitung sejak kelahiran KAMMI 14 tahun yang lalu sampai saat ini, karya – karya besar yang diberikan KAMMI untuk Indonesia tak terhitung lagi, baik KAMMI sebagai gerakan maupun kader – kader KAMMI sebagai asset fundamental gerakan, telah mencoba membumikan visi keummatan yang digagas dan juga memposisikan diri sebagai bagian dari gerakan dakwah dan akan terus beredar bersamanya kemanapun perginya, seperti yang tertuang didalam salah satu pragraf kredo gerakan. Hal ini direpresentasikan dari sejak awal berdirinya KAMMI, dimana KAMMI menegaskan dirinya sebagai gerakan perlawanan pada masa itu, dan pada akhirnya, gelombang gerakan KAMMI dikatakan cukup sukses mengawal terjadinya transisi dimokrasi pada akhir rezim orde baru menuju reformasi.
Bukan itu saja yang kemudian menjadikan bukti yang cukup kuat betapa peran kebangsaan KAMMI telah mampu mengawal proses kebangsaan sekaligus menjaga eksistensi gerakan ditengah kelesuan dan ketidakjelasan sikap yang ditunjukkan oleh gerakan – gerakan mahasiswa lainnya. Peran – peran sentral itu ditunjukkan dengan perubahan format gerakan KAMMI, dari yang awal adalah hanya merupakan komite aksi, merubah bentuknya menjadi organisasi dan pergerakan, dan sejak saat itu model gerakan KAMMI pun mengalami perubahan – perubahan yang memiliki signifikasnsi terhadap arah dan corak gerakan KAMMI. Kalau sebelumnya KAMMI hanya komite aksi dan tidak memiliki konsepsi organ yang jelas, sejak perubahan bentuknya menjadi organisasi, ini juga melandasi hadirnya filosofi gerakan yang bisa saya katakan cukup revolusioner untuk sekelas gerakan mahasiswa Islam.
Filosofi gerakan ini pada akhirnya menjadi patokan utama didalam tubuh gerakan ini, dimana didalamnya terdapat kejelasan visi, misi, paradigma, unsur gerakan, dan juga kredo gerakan. Filosofi gerakan ini pulalah yang pada akhirnya sampai sekarang mengantarkan KAMMI tetap utuh menjaga performance gerakan yang masih memegang prinsip – prinsip idealisme, moderat, dan konsisten menjaga kesucian gerakannya. Dan pada akhir 2009 – 2010 lalu, filosofi gerakan ini menjadi semakin lengkap dengan menjabaran ke dalam bentuk yang lebih sederhana menjadi tahap gerakan atau disebut mihwar. Konsep tahap gerak ini merupakan ide dari Pak Rijalul Imam sebagai penggagas model mihwar gerakan ini, beliau membagi menjadi 6 tahap dan dikorelasikan dengan prinsip gerakan KAMMI yang juga ada enam.
Prinsip gerakan KAMMI
Tahun (jangka waktu)
Tahap gerakan
Kemenangan Islam adalah Jiwa perjuangan KAMMI
1980 – 1988
Fase Ideologisasi
Kebatilan adalah musuh abadi KAMMI
1998 – 2004
Fase Resistensi
Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
2004 – 2009
Fase Reformulasi
Perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI
2009 – 2014
Fase Rekonstruksi
Kepemimpinan Umat adalah strategi perjuangan KAMMI
2014 – 2019
Fase Leaderisasi
Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI
2019 – 2024
Fase Internasionalisasi

Dari penjabaran ke enam prinsip dan tahap gerakan tersebut diatas, menjadi penting mencermati saat ini KAMMI berada di posisi mana dan apa yang harus dilakukan dalam posisi saat ini. Rencana yang digulirkan KAMMI dalam fase ini adalah rencana rekonstruksi. Rekonstruksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna mengembalikan ke keadaan semula; memperbaiki; atau menyusun kembali. Artinya dalam fase ini KAMMI dituntut untuk memiliki peran perbaikan, menjadi gerakan konstruktif, baik secara kebangsaan maupun internal KAMMI sendiri.
Pada tataran rekonstruksi kebangsaan, yang artinya adalah wilayah ekspansi dan amal KAMMI, agenda utama adalah mentransformasikan demokrasi dari demokrasi formal saat ini menuju demokrasi substansial. Demokrasi yang dibutuhkan bukan hanya keseimbangan kekuasaan antara eksekutif, yudikatif, dan legislatif, yang artinya bahasa demokrasi hanya dinikmati oleh tataran elite saja, melainkan demokrasi yang lebih substansial, yaitu bagaimana membumikan demokrasi untuk menjadikan rakyat sejahtera, aman secara politik dan ekonomi, serta kompetitif dalam kancah global. Konten politik yang dibangun di fase ini adalah mengakhiri demokrasi yang tambal sulam alias demokrasi formalitas, menuju demokrasi yang lebih substansi, mengedepankan agenda kolektif kebangsaan pada pembangunan kesejahteraan masyakarat, kedaulatan negara, dan kompetitif dikancah internasional.
Pada tataran rekonstruksi gerakan, KAMMI harus tetap konsen untuk menjadikan kader sebagai asset fundamental wilayah garapan KAMMI. Artinya, fase rekonstruksi ini tidak kemudian menghilangkan begitu saja fase – fase sebelumnya yang telah dilalui KAMMI. Fase ideologisasi, fase resistensi, fase reformulasi, haru menjadi bagian yang utuh untuk senantiasa menjadi konsen garapan KAMMI pada tataran rekonstruksi gerakan. Ditengah ekspansi gerakan KAMMI dalam tataran rekonstruksi kebangsaan, KAMMI juga harus tetap komitmen akan visinya menjadi wadah perjuangan permanen pembentukan kader pemimpin, dan hal itu tak akan tercapai ketika KAMMI hanya sibuk melakukan ekspansi gerakan tanpa memperhatikan ideologisasi kader – kadernya.
Dan ternyata inilah yang beberapa masih menjadi satu masalah mendasar dalam gerakan ini. Beberapa dari kita kadang gamang menentukan sikap kita untuk apa berada digerakan ini, dan hal itu berasal dari kurang syumulnya kita memahami manhaj, atau barangkali fase ideologisasi kaderisasi ini yang mungkin juga kita kesampingkan. Sehingga imbasnya, para kader – kader yang bingung menentukan sikap, lebih cenderung memilih menjadi pengekor, atau bahkan ada juga yang memilih mundur dari gerakan ini, dikarenakan ketakutan – ketakutan dan persepsi – persepsi yang menyelimuti pola pikirnya.
Fase rekonstruksi adalah fase perbaikan, dan kalau dikomparasikan dengan prinsip, berarti fase rekonstruksi adalah menjadi konsep perbaikan. Perbaikan adalah tradisi perjuagan KAMMI. Itulah bunyi prinsipnya yang keempat, sehingga ketika perbaikan menjadi tradisi, tradisi untuk senantiasa membudayakan semangat perbaikan, baik perbaikan internal kita, baik itu dari sisi kadernya, pola geraknya, maupun perbaikan sisi ekspansi dakwah harus menjadi hal yang perlu untuk kita lakukan kembali. Bukankah didalam gerakan ini juga sangat mengenal dan paham sekali, tentang konsep kembali kepadaishlah dan taghyir? Perbaikan dalam segala aspek perjuangan.
Semoga kita memahami dan mencermati. 
Penulis adalah Ketua Departemen Humas PD KAMMI Semarang 2010-2012
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger