Headlines News :

PENIKMAT PRASANGKA by @BarriPratama

barri pratama, pandangan prasangka, menikmati prasangka, mengarahkan prasangka, dakwah, menyentuh hati, kammi, kammi semarang, kammi jateng, semarang, jawa tengah
Pandangan menikmati prasangka dalam bingkai kehidupan +Barri Pratama (@BarriPratama )
  1. prasangka adalah titik lemah seseorang, ia mudah dikendalikan tanpa harus disentuh... mudah dibelokan tanpa harus diarahkan...
  2. prasangka sering bermain di selasar rumah, meski pintu tertutup rapat dan ia tak tahu kosong adalah isi rumah...
  3. prasangka kerap kesana kemari, meski ia terus mengeluh "aku letih"...
  4. prasangka itu suka membunuh ketidakpastian jadi "pasti", suka menghidupkan keadaan yang sebenarnya "tak hidup"...
  5. prasangka tidak cukup dibenarkan dari mata, telinga, hati dan rasa... ia hanya tepat dibaikkan dengan sejuta mata, telinga, hati dan rasa...
  6. prasangka itu kotak, pdhl ia kuning... jauh dan beda sudut pandang... menjadi baik dan benar ketika ia adalah spongebob: kotak dan kuning...
  7. manusia terlalu sombong "mudah berprasangka" karena ia merasa memiliki sepenuhnya mata, telinga, hati dan rasanya sendiri.. dan itu bebas..
  8. entah kini prasangka berikutnya apa, tapi prasangka memang mudah sekali dibentuk... dan... aku penikmat para pemain prasangka...
  9. aku dan prasangka berteman baik... ya hanya sekedar untuk membuat waktumu busuk karenanya...
  10. sekian... selamat malam prasangka... ;)

MENTERI SMP by @Ashimadzorif

susi menteri, kabinet KIH, kammi, kammi semarang, ashim, KP, semarang, PDIP, dakwah kampus, mahasiswa, pandangan, jawa tengah
Pengumuman kabinet kerja Jokowi-JK memunculkan pro dan kontra dari masyarakat. Salah satunya adalah penunjukan ibu Susi sebagai menteri dengan background lulusan SMP. Kadep KP KAMMI Semarang memiliki pandangan terkait pemilihan ibu susi. Simak #Kultwit dari +ashim adzorif (@Ashimadzorif )


  1. Bu susi jadi mentri tp cuma lulusan SMP.. Hhmmm
  2. Bagus sekali ketika pak jokowi JK melihat kemampuan tidak hanya dari jenjang pendidikan
  3. Tp untuk urusan mentri mbok ya di cari yg bener bener pakar
  4. Takutnya ketika menganalisa permasalahan hanya diliat secara dangkal tanpa data
  5. Apalagi basisnya pengusaha. Bisa saja yg digunakan pengalaman dan pengalamanya hanya berkutat pada untung dan rugi
  6. Apa jadinya mentri yg hanya berpikir untung dan rugi bukan kemaslahatan?
  7. Tidak dalam posisi menghina karena bu susi hanya tamatan SMP. Karena saya yakin banyak orang besar yg tidak sekolah
  8. Bahkan thomas alfa edison saja tidak sekolah namun sumbangsihnya diterima masyarakat dunia. Tp dia gak jadi mentri
  9. Saya tidak dalam posisi meremehkan karena beliau lebih suskses dari saya yg belum jadi apa apa. Tp menyayangkan saja

Analisis Tafsir Muslim Negarawan dalam Kepemimpinan Indonesia

Indonesia memasuki ulang tahun kemerdekaannya yang ke-69, selama kurang lebih empat abad, bangsa Indonesia telah berjuang keras untuk mencapai kemerdekaan, bebas terjajah secara de facto oleh para penjajah Barat. Perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak lepas dari peran para ulama dan santri. Merekalah tonggak perjuangan bangsa ini untuk menyongsong kemerdekaan. Akhirnya kemerdekaan yang didambakan terwujud, semuanya dapat bersatu demi sebuah kata merdeka.
Indonesia mengalami berbagai gejolak dalam masa tumbuhnya sebagai negara merdeka. Peristiwa 1998 menjadi fase baru bagi Indonesia, era reformasi. Benar Era reformasi membawa wajah baru bagi Indonesia, kebebasan individu terekspresi bahkan terkadang meluap. Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan alam. Tapi pada era inilah beberapa perusahaan milik Indonesia dijual ke asing. Indonesia dirasa belum mampu untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan segala kelebihan luar biasa yang selalu dicari bangsa lain.
Dan saat ini, pemilihan presiden akan berlangsung 9 April nanti. Tahun 2014, pilpres hanya diikuti dua pasangan kandidat. Kampanye hitam masih sering mewarnai pilpres kali ini. Bagaimana Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain, jika nilai-nilai kejujuran, ketegasan, keberanian, rela berpikir berat untuk Indonesia saja tidak dibumikan.
Bertolak dari latar belakang itulah KAMMI sebagai pergerakan mahasiswa mempunyai visi untuk mencetak kader-kader pemimpin dalam rangka menjadikan Indonesia negara dan bangsa yang islami. Seorang kader KAMMI harus memiliki karakter “muslim negarawan”
Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia, Muslim adalah penganut agama Islam, sedang negarawan adalah seseorang yang ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.
tafsir paradigma kammi, kammi, kammi semarang, kammi jawa tengah, dakwah, dakwah kampus, mahasiswa, pergerakan islam
Dalam risalah kaderisasi manhaj 1427 H yang dirumuskankan oleh tim kaderisasi KAMMI pusat, profil muslim negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan.
Ada tiga hal yang merupakan syarat utama munculnya sosok Muslim Negarawan yang memiliki keberpihakan pada kebenaran dan terlatih dalam proses perjuangannya , yaitu mereka yang terlahir dari gerakan Islam yang tertata rapi, semangat keimanan yang kuat, dan kompetensi yang tajam.
Setidaknya ada lima karakter Muslim Negarawan yaitu:
  1. Memiliki ideologi Islam yang mengakar; Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia merupakan misi KAMMI. Keislaman, keimanan dan ketaqwaan merupakan modal utama seorang pemimpin dalam setiap aktifitasnya. sehingga menjadikannya selalu berada dalam bingkai ketundukan pada Allah swt semata. Seorang pemimpin yang memiliki kepehaman Islam yang integral akan selalu menggunakan Al-Qur’an dan Hadits untuk menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.
  2. Memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan; Dalam hal kelilmuan seorang pemimpin harus lebih baik daripada rakyatnya, karena ia dituntut untuk mampu menyelesaikan berbagai masalah umat yang dipimpinnya. Ia juga harus memiliki pemikiran yang mapan, tidak goyah ketika ada pemikiran-pemikiran baru yang mencoba untuk merasukinya. Ia terbuka dengan pemikiran baru tapi tidak menerimanya secara mentah-mentah. Seorang Muslim Negarawan merupakan orang yang selalu menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik yang dimilikinya, sehingga ia menjadi orang yang selalu berkembang dan bisa mengikuti arus zaman.
  3. Idealis dan konsisten; Seorang muslim negarawan harus mempunyai cita-cita gambaran ideal Indonesia kedepan, bagaimana mewujudkannya, dan bagaimana mem-pertahankannya. Ia juga harus konsisten di setiap langkah geraknya, jika ia mundur satu langkah, maka ia harus maju tiga langkah.
  4. Terlibat langsung dalam pemecahan masalah umat dan bangsa; Seorang muslim negarawan adalah orang yang harus terlibat langsung dalam pemecahan masalah umat, seorang yang bisa memecahkan masalah umat dan bangsa akan dicintai. Ia juga mungkin menjadi perantara rahmat Allah sehingga pahala kebaikan akan megalir deras untuknya.
  5. Menjadi perekat berbagai komponen demi kemajuan bangsa; Ia harus bisa menjadi perekat berbagai komponen, mampu menggerakkan mereka untuk Indonesia yang lebih baik.
Kehadiran muslim negarawan yang lebih mementingkan kepentingan umat dan bangsa daripada kepentingan pribadi adalah sebuah keniscayaan yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Kepemimpinan yang melayani itulah yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa.
ReferensiSuryanegara, A.M. 2009. Api Sejarah. Salamadani Pustaka Semesta: Bandung.http://kbbi.web.id/pimpin
Sumber :

SEDIKIT LEBIH DALAM: QUR'AN INSPIRASI ILMU PENGETAHUAN

Sudah menjadi suatu tugas bagi manusia, mengevaluasi diri pasca Ramadhan usai. Sejauh manakah iman dan amal kita bertambah, sehingga makna “Syawal” benar-benar teraplikasi secara harfiah dan maknawiyah. Allah SWT telah mengisyaratkan banyak perintah dalam Al-Qur’an agar manusia melakukan evaluasi. Afalaa tatafakkaruun...atau Afalaa ta’qiluun.“Apakah kamu tidak memikirkan?” Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut seringkali disandingkan dengan perintah untuk memperhatikan alam semesta beserta segala fenomena didalamnya.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (clue) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) : 20-21) 

qur'an, rasulullah saw, dakwah kampus, islam dan ilmu pengetahuan, kammi, kammi semarang, semarang, jawa tengah, islam, NU, muhammadiyahAda sesuatu yang menarik dari kegiatan tafakkur ini. Sebagaimana kita tahu, seluruh mahluk yang diciptakan-Nya selalu bertasbih dengan cara-cara yang unik. Mereka telah bertauhid dengan cara mereka sendiri. Dengan interaksi kita dengan para mahluk Allah ini, semestinya ada “getaran-getaran dzikir” yang kita rasakan. Layaknya saat kita berinteraksi dengan orang yang sedang berdzikir, sedang mengingat Allah, kita akan rasakan bahwa ia sedang mengingat Tuhanya. Sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati, begitu rumusnya. Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bahkan “menemukan” prinsip ketauhidan dari tafakkur. Terlepas dari keistimewaan hati dan iman beliau, tafakkur ini juga bisa kita lakukan untuk menggapai kesadaran bertauhid. 

Pertanyaanya, tafakkur yang bagaimana ? 

Mencari contoh yang terbaik, tentu contoh yang diberikan Allah SWT. Maka apa yang dilakukan para Nabi dan Rasul, juga orang-orang terdekat mereka adalah referensi terbaik. Hal yang paling menonjol dari diri mereka ketika bertafakkur, tentunya kejernihan hati. Ibrahim kecil dibesarkan di gua terpencil. Ia punya curiousity dan criticism yang tinggi. Namun sifat dan akhlaq mulia tetap terpancar dari perkataanya. Nabi Ibrahim menuntun pemikiran-pemikiranya dengan akal sehat, objektif. 

"Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam"

"Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'" 

"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'"
(QS. al-An'am: 76-79) 

Begitu pula ketika ia menghadapi paganisme kaumnya dengan akal sehat : 

"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu derhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahawa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.'" (QS. Maryam: 42-45) 

Dalam bahasanya Pak Agus Mustofa, penulis buku serial Diskusi Tasawuf Modern, menyebutkan Al-Qur’an sebagai Inspirasi bagi Sains. Beliau menyebutkan bahwa Al-Qur’an memang bukan kitab sains. “Al-Qur’an memang bukan sains dan tidak layak ditandingkan denganya. Ayat-ayat Qur’an berada di ‘hulu” sedangkan sains berada di ‘hilir’”, sebutnya. Namun Allah memberikan banyak clue (petunjuk)–sebagaimana sebutan Al-Qur’an sebagai Huda–mengenai berbagai hal di alam semesta. Banyak inspirasi, maupun filosofi yang dapat digali dari ayat-ayat Qur’an. Ini berlaku untuk semua disiplin ilmu, mulai dari Astronomi, Fisika, Geologi, Kimia, Matematika, bahkan Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Politik, dan sebagainya. Ilmuwan, dalam hal ini menjadi subjek-subjek pengembang sains. Al-Qur’an menstimulasi perkembangan ilmudan membimbingnya agar tetap on the right track. Maka semestinya, pengkajian yang mendalam terhadap suatu ilmu mengantarkan ‘si pengkaji’ menuju hujjah-hujjah ketauhidan yang akan lebih menancap di hatinya. Kuncinya–seperti yang dicontohkan para Nabi dan Rasul–adalah niat hati kita. Kita niatkan untuk beribadah, mencari hikmah, mencari inspirasi ketauhidan. 

Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya (Al-Hadits) 

“Dan apabila diturunkan suatu surat (Al-Qur’an), maka di antara mereka (yang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah keimananya dengan (turunya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah keimananya, dan mereka merasa gembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah keingkaran mereka, disamping keingkaraya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan ingkar”(Q.S At-Taubah (9) : 124-125) 

Dalam hal penciptaan bumi misalnya, Allah menyebutkan asap panas yang kemudian mendingin membentuk tata surya, planet-planet, juga benda-benda langit lainya. Bumi termasuk didalamnya. Hal-hal mengenai proses perubahan asap panas dalam tinjauan sains, ternyata dapat dideskripsikan lebih detail dengan metodologi-metodologi saintifik, pengkajian mendalam, penelitian, dan aplikasi teori-teori dari para ilmuwan terdahulu. Dalam titik tersebut, ayat Qur’an tidak hanya dogma, melainkan sudah menjadi keyakinan dengan bukti kauniyah yang nyata. Sebagai referensi yang konkret, tengoklah Prof. Abdus Salam. Bahkan beliau menyitir ayat-ayat Qur’an yang menginspirasinya dalam karyanya, ketika memberikan pidato perolehan Nobel. Selengkapnya dapat dilihat dihttp://en.wikipedia.org/wiki/Abdus_Salam

Sebagai penutup tulisan kali ini, kami mengajak rekan-rekan (terutama) mahasiswa untuk sedikit lebih dalam mempelajari ilmu. Sekalipun itu ilmu yang belum pernah menemukan “kecocokan” dengan ayat Qur’an secara empiris, namun kajian yang sedikit lebih dalam akan membuka pintu-pintu hikmah. Tentunya dengan terus meluruskan niat, dipandu ayat Qur’an sebagai sumber filosofisnya. 
Let’s do tafakkur, then tadzakkur

Mengapa mahasiswa? 

Karena ianya sangat dekat dengan lingkungan ilmiah. Fasilitasnya lebih mendukung untuk kajian-kajian saintifik. Tugasnyalah melakukan pencerdasan masyarakat dengan kapasitas ilmu yang selalu ditingkatkanya. Hanya saja perlu ada kemauan, untuk mengkaji sedikit lebih dalam… Ya, sedikit saja. Namun ruti.

Keep Inside Iman! 

Penulis   : Tubagus Naufal Dzaki

 
Support : Redesign Website | AFLAH WEB
Copyright © 2013-2014. Official Website KAMMI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger